Dari New York, ke Hutan di Flores, Hingga Jadi CEO CekAja.com: Perjalanan Karir J.P. Ellis

Oleh Steffi Teowira, 6 years ago
Banyak orang yang langsung fokus pada satu area dan karier mereka langsung melejit di awal, tapi kini mereka mulai melambat, sementara orang seperti saya yang dulunya masih 'meraba-raba' sekarang mulai fokus pada passion dan berkembang. Yang lebih menyenangkan lagi, saya melakukannya bukan karena saya terpaksa, tapi karena saya memang menyukainya.

Jika kita melihat tokoh-tokoh inspiratif dunia, tidak ada yang perjalanan hidupnya linear dan lancar-lancar saja. Mereka semua melakukan bermacam-macam hal, mencoba bermacam-macam hal. Satu kesamaan mereka adalah mereka percaya pada hal yang sedang mereka lakukan, pada proses, dan perjalanan dalam hidup.

Menurut Anda, apa titik balik dalam perjalanan karir Anda yang membawa Anda sampai ke posisi ini?
Saya rasa ada tiga. Yang pertama, diterima oleh program VIA untuk datang kemari. Yang kedua, saat itu saya sebetulnya berniat kembali bersekolah lagi di Amerika, lalu saya bertemu seorang pengusaha perhiasaan sukses bernama John Hardy dan saya bekerja langsung dengannya saat saya berumur 25 tahun. Yang ketiga, ketika Menteri Perdagangan saat ini, Tom Lembong, mempekerjakan saya di private equity fund beliau.

Ketiga hal itu membawa saya ke tempat ini dan mengajarkan saya tentang wirausaha.

Mungkin Anda bisa menceritakan sedikit tentang latar belakang berdirinya CekAja?
Latar belakang saya adalah di dunia finance dan saya juga membangun beberapa startup yang berhubungan dengan teknologi pemetaan. Kami memenangkan banyak penghargaan untuk inovasi, namun sulit untuk dipasarkan. Saya kemudian bertemu dengan Sebastian (Togelang) dan Andy (Zain) dan mereka mengajak saya membangun perusahaan dengan Mountain Kejora Ventures. Kami memutuskan bahwa ada peluang di sektor finansial. Dengan CekAja, kami ingin membantu pelanggan membandingkan dan mendapat tawaran yang lebih baik dari berbagai badan keuangan.

Apa saja tantangan yang dihadapi CekAja di hari-hari awalnya?
Menjalin hubungan sales dengan bank adalah salah satu tantangan yang kami hadapi karena skalanya yang besar dan bank di Indonesia umumnya menghasilkan profit besar di mana pelanggan membayar persentase bunga pinjaman yang tinggi. Jadi sulit sekali meyakinkan bank untuk melakukan perubahan dan bergabung dengan kami.

Di samping itu, sulit rasanya mendapatkan sumber daya manusia berkualitas: individu-individu berbakat, kreatif, dan imajinatif di Indonesia. Ini sebetulnya juga berlaku di banyak industri dan negara.

Antara pelanggan dan rekan CekAja, mana yang memberi tantangan lebih besar?
Hubungan kami dengan pelanggan cukup baik, dengan pertumbuhan nilai perusahaan kami sekitar 20% setiap bulannya, jadi saya rasa tantangannya lebih banyak di hubungan dengan rekan kami dari lembaga keuangan karena adanya dinamika hubungan dengan bank dan proses kerja mereka secara keseluruhan. Prioritas kami saat ini adalah untuk memastikan kami memberi yang terbaik untuk pelanggan kami dan menjalin hubungan baik dengan rekan kami.

Bagaimana CekAja dapat membantu masyarakat Indonesia dalam lingkungan ekonomi yang lesu seperti saat ini?
Dengan menawarkan transparansi finansial. Di kondisi moneter yang agak pelik, setiap nominal yang bisa Anda tabung dan hemat sangat berarti. Kami berusaha membantu dengan menampilkan info perbandingan yang adil dan membantu pelanggan menegosiasikan tawaran agar mereka mendapat yang terbaik.

Bagaimana Anda mendeskripsikan satu hari dalam hidup seorang J.P. Ellis di CekAja?
Langsung saja: Bangun pagi, bekerja keras, dan tidur telat.

Apakah Anda merasa Anda adalah seorang risk taker?
Mungkin lebih tepat menyebutnya risiko yang terkalkulasi. Saya bukan seseorang yang senang bertaruh. Saya akan mengambil risiko hanya kalau saya merasa saya punya kesempatan untuk menang.

Kalau begitu, apa risiko terbesar yang pernah Anda ambil di sepanjang perjalanan karir Anda?
Saya tidak merasa apapun yang saya lakukan berisiko tinggi. Seperti misalnya, jika dilihat dari luar, meninggalkan New York untuk tinggal di hutan alih-alih bekerja di Goldman Sachs itu berisiko tinggi, lalu bekerja di private equity itu berisiko, membangun startup itu berisiko, dan lain-lain. Satu hal yang tampak sangat berisiko jika dilihat dalam jangka pendek sebetulnya tidak terlalu berisiko jika dilihat dari efeknya untuk jangka panjang. 

Apa ada satu kesalahan yang begitu besar sehingga meninggalkan pelajaran untuk Anda?
Permasalahan mempekerjakan individu. Ketika Anda bekerja dengan seseorang, kamu menginvestasikan waktu dan tenaga untuk mengembangkannya dan menjadikannya bagian dari keluarga di perusahaan. Jika hasil akhirnya tidak sesuai dengan harapan kalian masing-masing, ini sebuah kerugian besar, bukan?

Apa ada pencapaian yang paling Anda banggakan sejauh ini?
Jika kami di CekAja dapat terus memberi yang terbaik untuk pelanggan dan rekan kami, menjadi tempat kerja yang baik, dan sembari membantu jutaan rakyat Indonesia, ya, saya rasa itu adalah sejenis pencapaian.yang bisa saya banggakan.


BACA JUGA:
Hadi Wenas, Sosok di Balik Suksesnya MatahariMall.com
Dian Sonnerstedt, Direktur yang Nekat Banting Stir Jadi Instruktur Yoga
Tips Membangun Bisnis Startup dari Andy Zain

Foto: DailySocial

Sebelumnya

Berlangganan Artikel Kami

Dapatkan tips karir terbaru dengan berlangganan artikel kami



Read This Next



Tweets
Ikuti Kami