Ananda Sukarlan: Menyiapkan Generasi Musisi | Qerja

Ananda Sukarlan: Menyiapkan Generasi Musisi

Eka Utami, 3 months ago
Ananda Sukarlan: Menyiapkan Generasi Musisi

Semasa muda, Ananda Sukarlan tidak menemukan sekolah musik di Indonesia. Dia mencari dan mengejar beasiswa hingga ke Belanda. Setelah bertahun-tahun berkarier di Eropa, kini dia kembali ke Tanah Air.

Di Indonesia, Ananda ingin berkontribusi dan membenahi banyak hal di bidang pendidikan. Dia ingin anak-anak Indonesia mengenal dan belajar musik. Anak-anak tidak harus menjadi musikus. Tapi, pendidikan musik bisa membantu meningkatkan kreatifitas, sensitifitas dan inteligensia. Ananda juga ingin mendorong karier anak-anak yang memang memiliki talenta di bidang musik. Simak cerita Ananda Sukarlan menyiapkan generasi musisi Indonesia seperti yang diceritakan kepada Qerja.

Anda sudah sukses berkarier di Eropa. Kenapa Anda mau pulang ke Indonesia dan memulai karier dari nol?

Ya karena di sana (Eropa) too established. Saya sudah tidak kejar karier lagi tapi just want to be something, patron buat anak-anak muda. Saya ingin cari tantangan. Saya juga melihat bahwa pendidikan di Indonesia masih banyak ruangan yang bisa dibenahi. Buat saya, itu bukan hanya tantangan tapi kepuasan.

Lagipula, makanan di Indonesia enak banget, nggak ada bandingannya sama Eropa.

Lalu, Anda mendirikan Yayasan Musik Sastra Indonesia untuk anak-anak kurang mampu?

Bukan saya saja tapi saya dan teman-teman mendirikan yayasan ini untuk memberi pendidikan gratis kepada anak-anak yang kurang mampu. Jadi mereka dipinjami instrumen seperti biola, gitar, cello dan segala macam. Kami selalu bilang (kalau yayasan ini) tujuannya adalah supaya mereka kenal musik, meningkatkan kreatifitas dan harga diri. Selain itu, belajar musik juga meningkatkan kecerdasan. Belajar musik (yang dimaksud) adalah membaca not dan main instrumen, jangan hanya nyanyi saja.

Bagaimana Anda menemukan anak-anak ini?

Dari daerah sini saja (Yayasan Musik Sastra Indonesia berlokasi di Jalan Fatmawati, Jakarta Selatan). Kalau (kami mencari anak-anak) jauh-jauh juga mungkin susah. Sebab, mereka butuh biaya transportasi sendiri ke sini. Murid kami adalah anak tukang bakso, anak supir bajaj dan lain-lain.

Jadi sebenarnya yayasan ini masih kecil. Tapi, kami sekarang sudah mulai melebar ke sekolah-sekolah pinggiran karena mulai banyak donatur. Lumayanlah, ada anak (didikan dari Yayasan Musik Sastra Indonesia) yang sudah bermain untuk (musisi) Addie MS. Tapi, bukan di Twilight Orchestra-nya.

Sekarang, berapa jumlah peserta didik di yayasan?

Kami sudah berdiri sejak 2010. Setiap tahun ada sekitar 50-an anak didik. Tentu banyak (peserta) yang “gugur”. Tapi lagi-lagi saya tekankan yayasan ini bukan bertujuan untuk bikin mereka jadi musikus. Kami ingin bikin mereka orang yang lebih baik saja, dari sisi kreatifitas, sensitifas, juga menaikkan inteligensia. Selain itu juga untuk meningkatkan harga diri mereka. Sebab mereka anak yang kurang mampu. Bagi mereka, bisa menunjukkan suatu kemampuan adalah hal yang penting banget.

Lalu Anda juga ikut terlibat dalam Kompetisi Piano Nusantara?

Kompetisi Piano Nusantara ini bukan kompetisi saya. Ada beberapa yang minta saya menjadi juri dalam kompetisi, jadi patron. Kami membantu untuk tahap audisi. Selain itu, kami juga membantu kalau ada yang minta guru.

Kompetisi Piano Nusantara untuk anak usia di bawah 18 tahun. Mereka adalah anak-anak dan remaja yang baru belajar bagaimana kerasnya persaingan sebelum maju ke kompetisi sebenarnya. Misi dari kompetisi ini adalah untuk mencari bakat-bakat muda dan memersiapkan mereka ke ajang musik yang lebih berat. Misalnya Ananda Sukarlan Award. Dengan adanya kompetisi, maka ada satu sistem yang baik. Pemenang Kompetisi Piano Nasional dari setiap kota akan dikirim ke Jakarta untuk grand final.

Di mana lokasi penyelenggaraan Kompetisi Piano Nusantara?


Related Posts

Berlangganan Artikel Kami

Dapatkan tips karir terbaru dengan berlangganan artikel kami


Read This Next