Ali Zaenal Abidin: Perjalanan Menemukan Tujuan Hidup

Eka Utami, 3 weeks ago
Ali Zaenal Abidin: Perjalanan Menemukan Tujuan Hidup

Ali Zaenal Abidin tidak pernah punya cita-cita semasa kecil. Waktu itu, bayangannya tentang masa depan masih samar. Dia baru merasa tertarik pada satu bidang setelah duduk di bangku kuliah: pengembangan Sumber Daya Manusia.

Kini Ali telah mendirikan perusahaan Insight Out. Dia menyandang titel sebagai Chief of Organizational Happiness. Ali ingin membantu orang-orang menemukan tujuan hidup masing-masing. Simak perjalanan Ali merasakan passion, menemukan bakat dalam diri dan akhirnya mengetahui tujuan hidup seperti yang diceritakan kepada Qerja.

Apa cita-cita Anda semasa muda?

Saya tidak punya cita-cita semasa kecil. Bahkan saya masih bingung saat mau masuk kuliah. Akhirnya saya memilih dan masuk jurusan manajemen di Universitas Indonesia. Saya hanya berpikir itu jurusan yang cukup umum.

Saya menjalankan berbagai hobi. Saya suka musik dan olahraga seperti basket. Tetapi tidak berpikir untuk berkarier di bidang tersebut.

Sejak kapan Anda terpikir untuk fokus pada satu bidang tertentu?

Saat masuk jurusan manajemen di UI, saya mulai terpikir untuk jadi pengusaha. Awalnya karena saya suka film tapi tidak punya uang untuk beli VCD baru. Akhirnya saya buka rental film di kampus dan menyewakan VCD film original. Usaha saya berkembang menjadi bisnis sungguhan. Saya kerjasama dengan koperasi dan buka tempat penyewaan di Fakultas Hukum. Waktu itu saya mulai menikmati peran sebagai enterpreneur.

Saya juga tertarik dengan pengembangan Sumber Daya Manusia. Awalnya saya punya concern terhadap dunia pendidikan. Saat masih mahasiswa, saya berpikir untuk memerbaiki pendidikan di Indonesia, saya harus menjadi menteri. Saya mempelajari masalah pendidikan. Tapi, akhirnya saya hanya terfokus pada masalah saja. Padahal cara terbaik untuk memerbaiki pendidikan tidak harus seperti itu. Akhirnya saya menggali ke dalam diri mengenai maksud pendidikan sebenarnya.

Saya percaya orang-orang punya tujuan hidup. Orang bertugas untuk menemukan dan menjalankan tujuan hidup. Jadi, ternyata pendidikan yang saya maksud adalah membantu orang-orang untuk menemukan dan menjalankan tujuan hidup. Itulah yang saya jalankan sekarang dan alangkah baiknya jika pendidikan formal betul-betul memfasilitasi anak untuk menemukan tujuan hidup.

Lalu, apa yang Anda lakukan (untuk dunia pendidikan)?

Pada saat masih kuliah di UI, saya ikut organisasi AISEC. Organisasi ini berfokus pada leadership development for positive impact ke masyarakat. Program utama AISEC adalah memfasilitasi internasional internship. Jadi organisasi ini memberangkatkan orang Indonesia untuk magang di luar negeri dan mendatangkan orang luar negeri untuk magang di organisasi Indonesia.

Kami “jualan” ke perusahaan. Kami mencari perusahaan yang membutuhkan tenaga magang. Ketika mereka menyatakan setuju dan mengajukan kriteria SDM yang diinginkan. Kami menjadi match maker. Kami memasukkan data permintaan perusahaan ke sistem untuk mencari SDM yang sesuai.

Sementara itu, di dalam organisasi, AISEC juga berfokus pada pengembangan sumber daya manusia. Jadi, ada program pelatihan juga. Saya sendiri bertugas untuk membangun kepuasan dan loyalitas pengurus dan member.

Saya ikut organisasi AISEC sejak kuliah tingkat 2. Saat masih mengerjakan skripsi, saya menjadi Presiden AISEC Indonesia.

Apa pekerjaan pertama Anda setelah lulus kuliah?

Sekitar 2006, AISEC membuka lowongan kerja di beberapa negara. Mulai dari AISEC Macedonia, Ceko, India, Islandia dan beberapa negara lainnya. Saya melamar ke AISEC Islandia. Saya ingin menantang diri sendiri. Sebab, saya tidak tahu apa-apa tentang Islandia. Islandia dan Indonesia bertolak belakang dari berbagai angle. Akhirnya saya diterima di AISEC Islandia sebagai Vice President Talent Management.

Saya bekerja di AISEC Islandia selama 2006-2007. Saya fokus mengerjakan management system. Saat itu, saya membantu AISEC Islandia yang akan ekspansi ke kota lain. Namun, saya tidak hanya bekerja di Islandia. Saya juga mengisi pelatihan di beberapa negara lain seperti Polandia, Mesir, Norwegia, Swedia dan lainnya.

Selama di Islandia, saya menjalankan dua pekerjaan. Pada siang sampai malam hari saya bekerja di AISEC. Sementara pada pagi hingga siang hari saya juga bekerja di Rarik sebagai Market Researcher. Rarik adalah perusahaan listrik swasta di Islandia.

Kapan Anda mendapat sertifikat sebagai coach?

Memang, saat bekerja di AISEC, saya terlibat dalam berbagai pelatihan dan building system. Namun, saya belum menjadi coach bersertifikat. Saat itu, coaching belum booming.

Pada 2009, saya tinggal di Amerika dan berkuliah di New York University. Saya ambil jurusan public and non profit management. Setelah selesai S2, saya menjadi freelancer (untuk consulting) dan mengambil sertifikasi coach di Columbia University Coaching Certification Program.

Pelatihan coach dilakukan selama enam hari penuh. Kami dilatih untuk membangun kepercayaan klien yang pertama kali bertemu agar mereka nyaman untuk terbuka dan berbagi. Setelah pelatihan selama 6 hari, ada practical online selama 8 bulan. Salah satu tugasnya adalah mendapatkan klien sebagai jam terbang dan membangun coaching business juga. Meskipun sulit, akhirnya saya mendapat klien pertama, yaitu orang Indonesia. Saya menggunakan jaringan di Indonesia.

Lalu, apa yang Anda lakukan setelah mendapat sertifikat sebagai coach?


Related Posts

Berlangganan Artikel Kami

Dapatkan tips karir terbaru dengan berlangganan artikel kami


Read This Next



Ikuti Kami