Ali Zaenal Abidin: Membantu Orang Menemukan Tujuan Hidup | Qerja

Ali Zaenal Abidin: Membantu Orang Menemukan Tujuan Hidup

Eka Utami, 2 months ago
Ali Zaenal Abidin: Membantu Orang Menemukan Tujuan Hidup

Chief of Organizational Happiness Insight Out Ali Zaenal Abidin melalui perjalanan panjang untuk menemukan tujuan hidupnya. Kini, dia ingin membantu orang lain untuk menemukan dan menjalankan tujuan hidupnya. Simak cerita Ali membantu orang lewat perusahaan Insight Out seperti yang diceritakan kepada Qerja

Mengapa Anda ingin membantu orang lain menemukan dan menjalankan tujuan hidup?

Sekitar Maret 2006, saya berada di Serbia. Saat itu, saya menginap di hostel yang menyediakan kamar mandi di luar kamar. Kami harus mengantri untuk menunggu giliran mandi, saya mengobrol dengan seorang pemuda Kroasia yang berusia sekitar 20 tahun. Saya bertanya padanya: “Apa rencana hidupmu ke depan?” Dia kaget mendengar pertanyaan saya. Bahasa tubuhnya mengatakan bahwa dia tidak tahu mau melakukan apa. Saya juga kaget. Saat itu saya benar-benar melihat orang yang tidak tahu tujuan hidupnya.

Sebelumnya, saya tahu bahwa tidak semua orang tahu tujuan hidup. Tapi, saya bertransisi dari  knowing ke understanding sampai ke believing. Buat saya pribadi, its fine jika kita masih mencari dan belum menemukan tujuan hidup. Selama kamu masih terus mencari.

Hal yang membuat saya tidak bisa tidur siang, sore, malam adalah banyak orang yang tidak merasa perlu untuk mencari tujuan hidup. I cannot live with that.

Saya percaya tujuan hidup seseorang tidak dibatasi dengan profesi. Profesi bisa macam-macam, cara (mencapai tujuan hidup) bisa macam-macam. Profesi hanyalah alat untuk mencapai tujuan hidup. Sebab, profesi bisa muncul, bisa juga hilang. Kita bisa lihat sekarang ada profesi social media specialist. Mungkin sepuluh tahun ke depan ada profesi baru.

Bagaimana awal pembentukan Insight Out?

Saya mendirikan Insight Out bersama teman dari AISEC yang punya concern sama. Saya sudah kontak dengan partner itu sejak masih di New York. Dia partner finansial bukan eksekutif. Saya kembali ke Indonesia pada Agustus 2013. Pada Oktober 2013, kami sudah ada akte PT (Perseroan Terbatas). Kami benar-benar langsung jump in.

Apa yang dilakukan Insight Out?

Di Insight Out, kami membantu individu dan organisasi untuk menemukan dan menjalankan tujuan hidup. Jadi, melayani jasa konsultasi juga. Sekarang sekitar 50 persen pelayanan kami untuk organisasi, dan sebagian lagi untuk individu. Ke depan kami akan fokus untuk (membantu) individu.

Untuk individu, kami membuat program I’m on My Way, yang sudah berjalan selama dua tahun. Awalnya kamu menyelesksi aak muda dari barat hingga timur Indonesia. Target utamanya anak muda berusia 21-28 tahun. Meski begitu, ada juga peserta yang lebih tua. Kami mencari orang yang masih galau.

Kami mendatangkan mereka ke Jakarta. Mereka ikut intensif camp di Depok. Mereka mendapat tempat menginap dan makan gratis. Sekarang I’m in My Way sudah (meluluskan) dua angkatan, sekitar 40 orang. Setelah dari camp, kami mendampingi mereka selama satu tahun. Sebab kami ingin mereka tidak hanya menemukan tujuan hidup tapi juga menjalankannya. Kami ingin tahu impact dari program tersebut. Sekarang, mereka ada yang menjadi filmmaker, pengusaha, melakukan pemberdayaan desa di Bogor, hingga mempromosikan kain tenun ke luar negeri.

Kebanyakan perusahaan bediri dengan visi dan misi-nya sendiri. Mengapa mereka masih butuh coaching?

Ternyata, banyak perusahaan tidak punya visi dan misi. Mereka pikir mereka punya visi misi, padahal tidak. Ada juga orang yang hanya membuat kata-kata visi dan misi untuk dipajang di website. Ada juga yang bikin visi misi asal-asalan.

Maka, salah satu produk kami yang disebut organizational discovery. Kami membantu perusahaan untuk menemukan tujuannya. Kami memfasilitasi berbagai organisasi. Mulai dari startup hingga perusahaan yang telah berusia 30 tahun.

Kebanyakan orang membuat perusahaan to make profit. Konsep purpose tidak seperti itu. Dalam sebuah organisasi (non perusahaan) pun demikian. Profit itu bukan purpose tapi konsekuensi. When you do great job, and you will make profit. Jadi kalimat dalam visi dan misi tidak berurusan dengan masalah keuntungan. Kalau tujuan perusahaan mengejar keuntungan, maka akan berpengaruh pada cara berkerja.

Sekarang, banyak perusahaan yang hanya melihat profit. Itu normal. Namun, kebanyakan dari mereka tidak bertahan lama. Misalnya saja perusahaan startup. Secara global, sekitar 80 persen startup mati setelah 2-5 tahun. Tapi, bukan berarti 20 persen perusahaan yang lain sukses. Ada yang bertahan. Ada yang hanya bisa dibilang “masih ada”.

Profit memang bisa menjadi ukuran kesuksesan. Tapi, kalau menjadikan profit sebagai faktor (kesuksesan), itu bahaya.


Related Posts

Berlangganan Artikel Kami

Dapatkan tips karir terbaru dengan berlangganan artikel kami


Read This Next



Punya masalah dan dilema karir?
Kini kami punya solusi untuk Anda.

Ask the Expert!
Ikuti Kami