Letkol Gogor Aditya Tentang Karir Militer: “Kalau Dari Awal Sudah Tidak Tangguh, Minggir Saja” | Qerja

Letkol Gogor Aditya Tentang Karir Militer: “Kalau Dari Awal Sudah Tidak Tangguh, Minggir Saja”

Qerja, 1 year ago
Letkol Gogor Aditya Tentang Karir Militer: “Kalau Dari Awal Sudah Tidak Tangguh, Minggir Saja”

Menjadi seorang perwira Angkatan Darat memang menjadi cita-citanya sejak kecil. Namun siapa sangka bahwa banyak juga konsekuensi yang harus dihadapinya. Menjalani posisi sebagai seorang anak, kakak, suami, komandan, dan juga abdi negara secara bersamaan tidaklah mudah. Belum lagi berbagai tuntutan pekerjaannya di lapangan.

Kepada Qerja, Komandan Batalion Infanteri Mekanis 201/Jaya Yudha, Letnan Kolonel Infanteri Mohammad Imam Gogor A. Aditya berbagi tentang kisahnya terjun ke lapangan dan juga saat harus menjalani berbagai peran dalam satu waktu.

 

Menjadi seorang tentara, apa saja tantangan yang Anda hadapi?

Kalau sudah memilih menjadi seorang tentara itu maka sadar tidak sadar, suka tidak suka, mau tidak mau, terpaksa tidak terpaksa hidup kami itu sudah milik negara. Apapun yang akan dilakukan harus izin terlebih dahulu. Bukan berarti profesi yang lain tidak harus izin, tetapi saat menjadi seorang tentara walaupun izin sudah keluar, tapi ternyata di hari tersebut ada tugas yang harus dilakukan, ya mau tidak mau harus dilakukan dan izin harus dibatalkan.

Walaupun hanya sekadar untuk jalan-jalan saja harus tetap izin dengan komandan. Kalau tidak dapat izin, ya tidak bisa keluar. Sudah tidak bisa sebebas dulu lagi. Hidup kami itu sudah milik negara.

Kalau dulu zaman masih pangkat Letnan kadang saya masih suka kabur, tetapi makin ke sini sudah makin mendarah daging dengan konsep tersebut. Kalau dipikir-pikir juga buat apa. Sekarang saya justru sudah menduplikasi orang-orang di sekitar saya untuk memahami kondisi saya.

Kemarin bahkan waktu adik saya Prita menikah, saya sudah hampir tidak mendapat izin untuk menghadirinya. Bapak sudah tidak ada dan satu-satunya orang yang bisa mendampinginya ya tinggal saya. Sementara saat itu saya juga harus dinas 5 Oktober (Hari Tentara Nasional Indonesia) di Cilegon, harus membawa pasukan kala itu. Sempat bingung sekali harus bagaimana, walau pada akhirnya izin pun keluar hanya untuk dua hari. Jadi setelah akad nikah dan resepsi saya langsung kembali ke pasukan.

Tahun pertama sampai kelima memang sempat merasa, waduh kok hidup saya seperti ini sekali ya menjadi seorang tentara. Tetapi semakin lama semakin sadar, oh ya memang harus seperti ini. Kesulitan juga datang saat saya harus membuat semua orang di sekitar maklum dengan kondisi saya. Belum lagi saat akhirnya saya berkeluarga, saya juga harus membuat paham tidak hanya istri saya, tetapi juga keluarga dari istri saya mengenai kondisi kehidupan saya sebagai seorang abdi negara.

Sementara itu kalau di kedinasan, tantangan pekerjaan itu rasanya semua sudah dipikirkan oleh negara. Kalau ada tantangan yang menghadang mereka sudah pasti menyiapkan solusinya, kalau tidak atau belum ada solusinya ya kami harus mampu untuk bertahan.

Sudah menjalankan karir di Angkatan Darat selama 17 tahun dan menjadi Komandan Batalion di umur 38 tahun, titik balik apa yang membuat Anda akhirnya benar-benar yakin bahwa menjadi seorang prajurit memang jalan yang akan Anda tempuh untuk seterusnya?

Kembali lagi kepada kenyataan bahwa saya itu orangnya apatis, saya hanya memiliki satu prinsip bahwa saat saya bekerja memang harus dari hati saya. Saya itu selalu bekerja tanpa pamrih. Saya tidak pernah mengerjakan sesuatu hal dengan baik hanya karena ingin melaporkan hasilnya kepada komandan. Dari sejak pangkat saya masih Letnan Dua hingga sekarang, saya tidak pernah melakukan hal tersebut. Nothing to lose, apakah pekerjaan tersebut bisa membuat saya naik pangkat atau tidak, semuanya saya kerjakan dengan sebaik-baiknya.

Kalau membahas tentang titik balik, ya Sesko (Sekolah Staff dan Komando). Sesko itu benar-benar berat. Saya saya sangat bersyukur diberi kesempatan satu kali tes bisa masuk pendidikan. Tahun 2012 itu umur saya 35 tahun, kalau sampai saya gagal 3 kali berarti umur saya itu 37 tahun. Saya dulu sempat memiliki pemikiran, kalau memang saya mengikuti ujian Sesko hingga tiga kali masih tetap tidak lulus, maka saya akan mempertimbangkan untuk tidak berkarir di jalur militer lagi, ketimbang saya tidak bisa berkarir secara maksimal. Mengingat belum tentu juga ada kesempatan untuk ujian Sesko menghampiri lagi. Bagi saya umur saya terlalu muda untuk disia-siakan. Kalau memang tidak bisa berkarir di tentara, ya saya akan berkarir di tempat lain. Tidak ada masalah bagi saya.

Saya bukan mencari pekerjaan hanya dari segi finansial, tidak. Saya hanya ingin saya yang memang punya semangat untuk bekerja, bisa terus bekerja dan juga membangun di bidang apapun yang saya lakukan. Kalau nanti ke depannya kegagalan mengikuti, Sesko akan menjadi rintangan saya untuk naik jabatan atau mendapatkan jabatan tertentu, ya buat apa. Prinsipnya saya bekerja itu dengan tulus dan yang saya lakukan itu harus berhasil. Saya ini orangnya tidak ambisius, tidak juga ngoyo. Kalau memang saya sudah tidak bisa berkarya di tempat ini, ya sudah, sebaiknya saya berkarya di tempat lain. Hal ini bahkan sudah sempat saya komunikasikan dengan keluarga.

Nasib berkata lain, saya ternyata lulus ujian Sesko dan setelah itu masuk menjadi Paspampres. Saya merasa sangat bersyukur karena sepertinya passion saya juga di sana, setiap hari operasi, setiap hari dinamika yang dihadapi juga berbeda-beda. Pekerjaannya sama tetapi tantangannya berbeda. Saya pun berusaha menjaga momentum ini supaya bisa terus maju.

Sebagai seorang Komandan Batalion, menurut Anda atasan yang ideal itu seperti apa?

Ideal, bagi saya kata ideal itu sangat relatif. Hal yang menurut saya ideal belum tenti ideal bagi orang lain. Tetapi kalau di tentara bagi saya atasan ideal itu yang pertama, dia mau memberikan ruang dan waktu bagi bawahannya untuk membuktikan bahwa dia bisa bekerja dengan baik.

Kadang-kadang memang suka tidak sabar jika kita melihat bawahan yang tidak bisa mengerjakan pekerjaan yang dibebnkan kepadanya. Tapi sebagai atasan seharusnya bisa melihat dulu seperti apa sebenarnya karakter bawahan Anda. Kasih mereka pekerjaan, lalu lihat seperti apa mereka bekerja. Kalau memang jelek, ya tinggal diarahkan. Lama-kelamaan juga akan bisa terbaca berapa kapasitas yang dimiliki oleh bawahan tersebut. Kalau memang kapasitasnya cuma 70 persen, ya tidak bisa memberikan pekerjaan dengan kapasitas 90 persen kepada mereka. Kalau kapasitas mereka hanya 70 persen, berarti yang 30 persen itu adalah pekerjaan kita sebagai atasan.

Bisa memberikan ruang dan waktu untuk mengoptimalkan potensi bawahan. Saat bawahan tidak bisa melakukan, maka atasan harus membinanya, dan juga mampu memahami bahwa bawahan membutuhkan bantuan untuk menyelesaikan tugasnya.

Yang kedua, atasan yang ideal itu adalah orang yang bisa melaksanakan aturan pada saat dibutuhkan dan bisa membijaksanakan aturan saat diperlukan. Bukan menjadi terlalu fleksibel, tetapi bisa bijaksana saat dia dihadapkan dengan kondisi lain yang menuntut dia tidak melakukan aturan itu.

Seorang atasan di perusahaan bisa memilih bawahan seperti apa yang diinginkan. Paling tidak mereka bisa melakukan penyaringan kriteria melalui CV misalnya. Sementara sebagai seorang Komandan Batalion, bawahan yang Anda dapatkan itu sudah given dan selalu berbeda-beda karakternya di setiap lokasi penugasan. Nah, karakter bawahan favorit Anda seperti apa untuk bekerja?

Saya ini bukan tipe atasan yang setelah saya memberikan pekerjaan saya tidak mau tahu kendala yang dihadapi oleh bawahan saya itu apa. Saya termasuk tipe atasan yang terbuka, jadi saat saya memberikan pekerjaan dan bawahan saya merasa mendapatkan kendala maka ia bisa melaporkan kepada saya kendala apa saja yang ia hadapi.

Kalau sudah begitu kan saya tinggal memberikan arahan apa yang harus dilakukan. Dengan begitu juga saya juga akan mampu memahami kapasitas bawahan saya seperti apa.

Saya tidak pernah memilih bawahan, bawahan seperti apapun yang diberikan pasti akan saya terima. Paling nanti saya tinggal menyesuaikan saja. Kalau misalnya si A lebih cocok di tempat si B dan begitu sebaliknya, tinggal saya tukar posisinya. Karena dengan begitu mereka akan lebih optimal dalam pekerjaan mereka.

Salah satu contoh, misalnya saya dikasih supir, dan ternyata supir tersebut kurang dapat bekerja dengan baik. Saya tidak akan langsung menolaknya, saya akan mengajarinya supaya bisa bekerja dengan lebih baik. Dengan demikian secara pribadi dia tidak akan merasa diremehkan atau merasa tidak diakui keberadaannya. Dan yang kedua, kemampuan dia jadi menjadi lebih meningkat.

Terkadang kalau ada orang baru datang itu akan mengubah semuanya. Nah, saya tidak. Saya akan melihat terlebih dahulu kerja kamu seperti apa, kalau kerja kamu bagus ya lanjut, kerja kamu tidak bagus, siapapun dia mau dari Secapa, Secaba, atau Akmil, saya tidak ada urusan. Walaupun dia dari Akmil kalau tidak bagus ya tidak saya pakai, sementara walaupun dia dari Secapa tetapi bagus ya saya pakai. Begitu juga sebaliknya.

Selain bisa mengikuti perintah dengan baik, saya juga suka jika bisa memiliki bawahan yang gemar berinovasi. Jadi tidak sekadar mengikuti dan menjalankan apa yang diperintahkan, tetapi juga mengembangkan hal tersebut menjadi sesuatu yang lebih berguna bagi dirinya.

Misalnya begini, saya mau anggota saya bisa lari menempuh jarak 3.200 meter dalam waktu 16 menit. Saya perintahkan mereka untuk lari setiap hari. Perintahnya jelas dan dilaksanakan. Bagi saya setiap hari mereka latihan lari itu sudah bagus, sudah sesuai perintah, tetapi orang yang berinovasi dia tidak hanya akan berlari, dia akan melatih untuk menguatkan kakinya, lalu dia juga menguatkan tangannya, supaya pada saat dia lari tangannya tidak mudah letih dan kakinya juga lebih kuat.

Apakah ada kesalahan yang pernah Anda lakukan dalam berkarir?

Kalau di kedinasan, apa ya? Saya bisa sampai di posisi saya sekarang sebagai komandan ini berarti kan saya juga pernah menjadi staff dan komandan bawahan. Dan saya selalu menyesuaikan kondisi tersebut. Saat saya menjadi staff, berarti saya tidak punya kepribadian karena semua keputusan ada di tangan komandan. Kalau pada saat saya menjadi komandan staff, saya selalu memiliki pemikiran bahwa saya adalah seorang komandan dan apapun risikonya harus saya ambil.

Sementara itu kalau di tugas operasi, Alhamdulillah hingga saat ini saya belum pernah melakukan kesalahan yang fatal sampai membuat anggota harus tertembak atau bagaimana.

Kalau di homebase, Alhamdulillah belum ada. Ya, kalau sampai yang fatal sih tidak ada, tapi saya juga pernah menerjemahkan perintah komandan, seharusnya begini tetapi saya mengartikannya lain. Terkadang juga kesalahan yang diperbuat ternyata bisa juga membawa kita kepada satu pembelajaran baru yang bisa membuat saya melakukan evaluasi kepada kinerja saya ke depannya.

 

Kalau mengenai pencapaian yang pernah Anda lakukan selama berkarir?

Di masing-masing level ada hal yang membuat saya merasa bahwa itu adalah sebuah prestasi bagi saya.

Salah satunya saat saya menjadi Komandan Kompi (Danki) di Kariango. Saya ditempatkan di kompi yang paling lemah dalam satu batalion, kompi yang ditinggal dalam kondisi yang tidak bagus. Anggotanya belum memiliki kerangka yang kuat dan kepercayaan diri mereka juga kurang sekali.

Saya akhirnya berpikir, kira-kira apa yang bisa saya berikan kepada mereka, supaya kompi ini memiliki satu kebanggaan. Apa kebanggaan bagi mereka, ya itu adalah prestasi. Saya lalu melatih mereka, pagi hari saat yang seharusnya kompi melakukan apel pagi, kompi saya tidak apel pagi. Dari subuh mereka semua sudah latihan. Orang latihan di jalan, kami latihan di pasir. Saya sampai berani ambil keputusan bahwa apel itu tidak jam tujuh pagi tapi jam sembilan pagi. Saat ditanya oleh komandan, saya bilang bahwa mereka (pasukan kompi) sedang latihan dan nanti akan melakukan apel pada jam 9 pagi. Alhamdulillah pada saat mereka mengikuti satu kegiatan regu tangkas, di mana setiap kompi harus bertanding mulai dari olahraga voli, sepakbola, renang, panjat tebing, menembak, dan juga halang rintang, ternyata mereka menang. Itu juga sempat membuat kompi lain kaget, karena kompi saya bisa dibilang underdog.

Kami ikut serta di lomba Ton Tangkas (Peleton Tangkas) dan kompi kami menang. Terakhir kami mengikuti POR (Pekan Olahraga) Kompi, ada 17 Kompi dan waktu itu kami meraih juara pertama. Bagi saya itu adalah satu pencapaian.

Pernah juga waktu itu saya masih memegang pangkat Kapten, saya adalah orang pertama yang melatih pasukan dalam jumlah besar yaitu 500 orang untuk melakukan demonstrasi Yong Modo di hadapan pak SBY dan itu termasuk sukses, mengingat sampai sekarang Yong Modo itu menjadi beladiri wajib di TNI AD.

Pencapaian yang terakhir itu, saya sangat bangga bisa ikut mengamankan lambang negara ini (Presiden). Itu merupakan salah satu pencapaian terbesar bagi saya.


Related Posts

Berlangganan Artikel Kami

Dapatkan tips karir terbaru dengan berlangganan artikel kami


Read This Next