Mengenal Adrian Li, Sosok Partner dan Mentor Bagi Puluhan Entrepreneur Startup Digital

Oleh Steffi Teowira, 5 years ago
Saya biasa membaca buku nonfiksi dan saya paling menikmati biografi para entrepreneur. Salah satunya adalah biografi Jeff Bezos, “The Everyhing Store” dan sekarang saya sedang membaca biografi Elon Musk.

Buku lainnya yang saya rasa menarik adalah buku informatif dengan topik-topik spesifik, seperti “The Power of Habit” yang menceritakan bagaimana perusahaan menghasilkan produk yang menciptakan 'ketergantungan' atau kebiasaan pada konsumernya sehingga mereka tetap menggunakan produk tersebut. Buku ini sangat menarik dan menggunakan banyak data, riset, dan hasil wawancara.

Jenis buku lain yang saya sukai adalah buku inspirasional yang menceritakan tentang individu- individu, para peserta maraton, peserta Iron Man, dan lainnya. Saya tertarik dengan kisah bagaimana mereka menyeimbangkan seluruh aktivitas itu dengan keseharian mereka.

Apakah ada satu topik yang sedang menarik perhatian Anda belakangan ini?
Pertumbuhan bisnis dan teknologi dan pengaruhnya yang tidak hanya terbatas pada para konsumen, tapi juga kehidupan orang banyak. Misalnya Gojek yang kontroversial namun secara keseluruhan diterima dengan baik. Teknologi memberi kesempatan besar tidak hanya untuk para pengemudi Gojek, tapi juga toko-toko yang bisa meraih lebih banyak pelanggan.

Saya percaya bahwa teknologi dapat menciptakan sesuatu yang tidak hanya memiliki nilai guna tinggi bagi konsumer, tapi juga pihak pemilik bisnis. Posisi Indonesia saat ini sangat menarik untuk diamati, karena teknologi akan menciptakan lebih banyak lapangan kerja dan memperbaiki ketimpangan pendapatan sembari memudahkan hidup pelanggan.

Di mana Anda kuliah dan jurusan apa?
Saya cukup beruntung untuk bisa kuliah di Cambridge jurusan ekonomi dan kemudian MBA di Stanford University.

Menurut Anda, seberapa besar kontribusi latar belakang pendidikan Anda terhadap kesuksesan karier Anda?Kesempatan untuk kuliah di universitas yang bergengsi adalah basis yang sangat baik untuk karier apapun dan ada banyak aspek lain yang bisa kita dapatkan dari pendidikan di universitas.

Pertama, jika kita cukup beruntung dan tahu persis apa yang ingin kita lakukan dalam hidup, maka universitas dapat memberi kita pengetahuan mendasar mengenai profesi yang ingin didalami kelak. 

Di samping itu, universitas dapat menyediakan lingkungan yang sangat menunjang untuk tahu lebih banyak tentang hal yang menarik bagi kita. Salah satunya adalah kesempatan untuk bertemu dan bekerja dengan individu dengan minat serupa. Karenanya, saat itu, saya bergabung dengan banyak kelompok dan organisasi. Saat di Cambridge, saya sempat memiliki bisnis website foto digital. Walau gagal, setidaknya saya mendapat pengalaman dan kesempatan yang tidak bisa saya dapatkan di sekolah. Hal ini berpengaruh besar terhadap keputusan saya untuk menjadi entrepreneur dan venture capitalist.

Salah satu aspek lainnya adalah network yang saya bangun saat kuliah: orang-orang yang saya kenal di Cambridge dan Stanford sangat berharga terhadap apa yang saya lakukan sekarang dari segi mentorship dan bimbingan.

Apa pekerjaan pertama Anda?
Investment banker di JPMorgan. Itu adalah pekerjaan saya yang pertama dan satu-satunya karena setelah itu saya berbisnis sendiri.

Apakah anda memang selalu ingin menjadi entrepreneur?
Saya tidak tahu apa artinya entrepreneur saat masih kecil, namun saya ingat pernah mencoba menjual kartu bergambar pada keluarga saya saat saya masih berumur 6, 7 tahun. Mungkin di situ bisa dilihat saya punya passion untuk berbisnis. 

Yang saya suka adalah membangun tim dan bekerja sama dengan banyak orang untuk menciptakan sesuatu, something from nothing. Membangun perusahaan setelah lulus kuliah rasanya sangat alami karena saya melakukan hal yang saya sukai.

Sebagai venture capitalist, saya juga dapat membantu entrepreneurs untuk menjadi sukses, lebih dari sekedar memberi mereka bantuan finansial. Saya ingin menjadi mentor yang bisa membantu dengan berbagai cara, baik itu menghubungkan mereka dengan network yang saya punya atau bekerja bersama dengan mereka. Saat ini kami masih berada dalam tahap awal dan saya harap kami bisa menanamkan investasi di lebih banyak perusahaan dan terus berkembang.

Jadi apakah saya selalu tahu saya ingin menjadi seorang entrepreneur? Mungkin tidak, tapi saya tahu saya ingin bekerja sama dengan orang lain untuk mencapai goal. Jadi saat ini saya cukup puas karena punya kesempatan untuk melakukan apa yang senang saya lakukan.

Anda terlibat dengan banyak proyek, seperti Convergence, Qraved, Female Daily, dan lainnya. Apakah Anda rasa ini sedikit banyak merefleksikan bahwa Anda menyukai bermacam-macam jenis yang berbeda?
Ya, saya rasa juga begitu. Pekerjaan full time saya adalah memimpin Convergence. Sebagai investor di Convergence, saya mendapat kesempatan untuk bekerja dengan para entrepreneur yang hebat. Saya membagikan banyak ilmu saya pada mereka, tapi saya juga belajar banyak dari mereka tentang bagaimana membangun perusahaan-perusahaan tersebut.

Posisi saya saat ini memungkinkan saya untuk memanfaatkan kelebihan saya yaitu menemukan talenta-talenta hebat dan menghubungkan orang-orang yang tepat melalui networking atau fundraising. Dengan ini, saya bisa menawarkan pandangan dan ilmu yang lebih luas pada perusahaan di portfolio kami.

Sehubungan dengan ini, apakah Anda akan menyarankan orang-orang untuk mencoba berbagai macam hal atau fokus pada satu hal saja?
Saat ini saya fokus pada Convergence Ventures dan sedang berusaha agar Convergence menjadi venture capital paling berpengaruh di Indonesia dan Asia Pasifik. Untuk mencapainya, kami bekerja keras untuk mendukung semua perusahaan di portfolio kami. Walau tampaknya saya terlibat dengan banyak hal, setiap perusahaan ini sebetulnya punya founder dan tim masing-masing yang berkonsentrasi penuh untuk mencapai kesuksesan. Saya bekerja di balik layar untuk mendukung mereka. Jika founder atau CEO perusahaan itu punya pertanyaan atau butuh bantuan, saya akan menawarkan bantuan semampu saya. 

Sebagai co-founder Idapted dan chairman CNYTrust, bisa dibilang Anda memiliki minat tinggi di bidang pendidikan. Apakah Anda punya rencana untuk membangun proyek yang berhubungan dengan pendidikan di Indonesia?
Education technology adalah sebuah sektor yang sangat berharga, tapi juga cukup rumit dan sangat bergantung pada market timing. Saya rasa ada kesempatan besar untuk membangun bisnis yang berhubungan dengan pendidikan di Indonesia. Saya mungkin tidak akan melakukannya sendiri, tapi saya akan mempertimbangkan berinvestasi jika ada entrepreneur dan tim yang sedang membangun hal serupa.

Apakah Anda merasa Anda adalah seorang risk taker?
Setelah menikah dan berkeluarga, saya lebih berhati-hati mengambil risiko. Tapi menurut saya, risiko dan hasil saling berkaitan: semakin besar risiko yang diambil, ada peluang untuk mendapat hasil yang semakin besar.

Venture capital adalah sektor bisnis dengan risiko cukup tinggi karena kami berinvestasi di perusahaan tahap awal. Kami berusaha meminimalisir risiko itu dengan memilih perusahaan dengan peluang sukses yang besar. Walau begitu, menurut saya, di berbagai aspek dalam hidup, jika kita selalu mencari gampang dan menghindari tantangan, maka hidup kita belum maksimal. Hanya dengan mendorong diri untuk melampaui batasan, kita baru maju dan terus tumbuh.

Kalau begitu, apa risiko terbesar yang pernah Anda ambil?
Memulai perusahaan pertama saya karena saya baru lulus dengan MBA, menolak tawaran kerja dari banyak perusahaan multinasional, dan mengumpulkan modal beserta dengan capital yang saya punya untuk memulai bisnis di China, sebuah negara yang asing bagi saya, di industri yang juga asing.

Itu adalah risiko yang sangat besar, tapi saya suka tantangan dan saya percaya bahwa hal itu bisa membawa perubahan berarti. Itu adalah risiko yang saya ambil karena passion saya. Saat itu, saya tidak memperhitungkan profit. Saya hanya percaya kalau kami bisa memberi kontribusi besar yang pada akhirnya pasti terbayar. Saya rasa apa yang saya capai saat ini sedikit banyak dikarenakan keputusan saya saat itu.

Apakah Anda pernah melakukan satu kesalahan besar tidak terlupakan yang kemudian menjadi pelajaran yang Anda ingat sepanjang perjalanan karier Anda?
Perusahaan pertama saya melakukan banyak kesalahan dan saya tidak pernah bekerja dengan startup sebelumnya. Awalnya kami hanya bergerak di bidang pelatihan bahasa Inggris. Setelah mengumpulkan dana, kami memutuskan untuk mencoba pelatihan bahasa Mandarin. Saat itu kami merasa teknologi yang kami punya juga dapat diaplikasikan ke pasar lain. Itu adalah sebuah kesalahan karena momentumnya kurang tepat, terlalu awal. Walau menggunakan teknologi yang sama, kami membidik pasar yang berbeda dan itu memecah fokus kami. Kami menghabiskan banyak uang untuk proyek ini dan terpaksa harus memecat banyak anggota tim. Jika saja kami tetap fokus pada program pelatihan bahasa Inggris kami, mungkin kami bisa menjadi perusahaan yang lebih besar.

Apa keberhasilan yang paling Anda banggakan sepanjang karier Anda?
Saya sangat bangga dengan perkembangan Convergence hingga hari ini yang merupakan kombinasi dari kerja keras dan kepercayaan klien. Saya cukup bangga untuk mengatakan bahwa semua perusahaan yang kami investasikan sudah berkembang dan sukses, seperti Qraved. Saya rasa ini bukan keberhasilan saya, tapi keberhasilan tim dan kami berusaha memberi dukungan untuk kerja keras mereka.

Apa yang memberi Anda kepuasan terbesar dari pekerjaan Anda, satu hal yang membuat semua kerja keras Anda worth it?
Saya rasa jika saya dapat membantu perusahaan melewati periode keberhasilan dan kesulitan, kemudian melihat pertumbuhan entrepreneur dan bisnis yang mereka bangun. Bagi saya semua itu sangat memuaskan.

BACA JUGA:
"You Can't Be Good At Everything": Andy Zain Membeberkan Nasihat Bisnis untuk Para Entrepreneur
7 Keuntungan Bekerja di Startup Digital


Cek gaji di perusahaan impianmu di sini.


Sebelumnya

Berlangganan Artikel Kami

Dapatkan tips karir terbaru dengan berlangganan artikel kami



Read This Next



Tweets
Ikuti Kami