Michael Victor Sianipar: Mantap Melabuhkan Hati ke Dunia Politik

Oleh Steffi Teowira, 5 years ago

Apa arti karier bagi Anda? Sebuah medium pembuktian diri melalui passion atau sekedar metode membayar tagihan per bulan? Bagi Michael Victor Sianipar, kesibukannya sebagai personal assistant Gubernur DKI Jakarta tidak lagi dianggap sekedar pekerjaan yang ditinggalkan begitu ia keluar dari kantor dan mendedikasikan diri sepenuhnya hingga merasa tidak ada lagi batasan antara hidup personal dengan hidup kerja. Bagaimana ceritanya hingga ia mencapai titik ini? Percakapan kami dengan Michael Victor Sianipar di edisi Star Leader kali ini mungkin dapat menjadi pencerahan bagi Anda yang sedang mencari passion dalam berkarier.

Let’s start with a little bit about yourself.
 Di mana Anda lahir?
Saya lahir di Jakarta dan besarnya di Jakarta, tapi saya sempat tinggal di Karawaci, di Tangerang sana selama beberapa tahun karena sekolah di sana.

Apa yang Anda senang lakukan saat masih kecil? Apakah Anda masih melakukannya?
Dulu waktu masih SD, saya suka jalan-jalan dan mengamati. Kalau sekarang, saya suka jalan sendiri keliling-keliling ke kampung. Sekarang jika mengamati sesuatu, saya bisa membayangkan, "Oke, ini kondisi sekarang. Tempat ini bisa jadi seperti apa, harusnya kampung ini seperti apa, harusnya kota ini seperti apa."

Bagaimana Anda memulai hari Anda? Apakah ada sejenis ritual di pagi hari?
Pagi saya bangun jam 6, 6.30 karena kebetulan rumah saya dekat dengan kantor. Bangun, lalu mandi, dan kalau sempat, sarapan. Karena saya bukan PNS, jadi sebetulnya nggak ada jadwal masuk kerja yang pasti. Target saya capai kantor sebelum jam 8 karena kalau kelewatan, kerjaannya sudah keburu menumpuk: ada yang mau ketemu, ada Whatsapp yang harus dibalas, ada tugas dari bos. Karena itu, saya berusaha datang sebelum jam 8 supaya ada waktu untuk diri sendiri, untuk baca koran atau kadang saat teduh.

Kalau di penghujung hari? Bagaimana Anda melepas stress seusai kerja?
Biasa selesai jam kantor sudah jam 8, 8.30. Sampai rumah saya masih membalas-balas Whatsapp selama kira-kira setengah jam sambil baca berita yang terlewatkan hari ini. Itu cara saya rileks. Lagipula, itu hitungannya masih hari kerja, jadi dalam kantor atau luar kantor, fokusnya masih ke arah sana.

Bagaimana dengan akhir pekan?
Kalau Sabtu, saya biasa kumpul-kumpul dengan teman, kadang pergi fellowship. Kalau Minggu, kadang ke gereja. Sekali seminggu atau sekali 2 minggu biasa blusukan, jalan-jalan keliling saja. Weekend ya, kebanyakan untuk teman dan keluarga

Jadi Anda benar-benar memisahkan antara hari kerja dan akhir pekan, ya. 
Nggak juga, karena akhir pekan kadang juga suka rapat. Masalahnya, di pekerjaan saya ini, agak susah menarik batas antara waktu bekerja dan waktu tidak bekerja. Misalnya, waktu saya ngobrol-ngobrol dengan teman kadang tidak terbatas hanya sosialisasi. Kalau saya ketemu teman terus ujungnya bicara tentang Jakarta, itu juga bagian dari bekerja. 


Selanjutnya

Berlangganan Artikel Kami

Dapatkan tips karir terbaru dengan berlangganan artikel kami



Read This Next



Tweets
Ikuti Kami