Roostiawati: Kerja Tidak Harus Pakai Dasi | Qerja

Roostiawati: Kerja Tidak Harus Pakai Dasi

Eka Utami, 8 months ago
Roostiawati: Kerja Tidak Harus Pakai Dasi

Kementerian Tenaga Kerja mencoba mewujudkan program Nawa Cita Presiden Joko Widodo dengan mengurangi 10 juta pengangguran dalam lima tahun. Lapangan kerja, khususnya di bidang konstruksi terbuka luas. Namun, suplai tenaga kerja tidak mencukupi. Direktur Pengembangan Pasar Kerja Kementrian Ketenagakerjaan Roostiawati berusaha membuka akses informasi seluas-luasnya, dan meningkatkan keterampilan tenaga kerja agar bisa mengisi permintaan pasar dan bersaing dengan tenaga kerja asing. Berikut penjelasan tentang pasar kerja Indonesia yang diceritakan Roos kepada Qerja.

  

Bagaimana kondisi pasar kerja Indonesia sekarang?

Berdasarkan program Nawa Cita Presiden Joko Widodo, ada target pengurangan 10 juta pengangguran selama 5 tahun. Artinya, kami harus membuka 10 juta lapangan kerja. Selama dua tahun terakhir, kami sudah membuka dua juta kesempatan kerja.

Kami bekerjjasama dengan Apindo (Asosiasi Pengusaha Indonesia) dan Kadin (Kamar Dagang dan Industri). Kami juga bekerjasama dengan semua kementerian agar angka penempatan tenaga kerja terkumpul. Misalnya, di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat yang bisa menempatkan hampir satu juta tenaga kerja setiap tahun di sektor infrastruktur untuk konstruksi perhubungan laut, pembangunan dermaga, rel kereta api, bandara, perumahan, dan sebagainya. Berdasarkan analisis kami, sektor konstruksi membutuhkan 3,1 juta tenaga kerja hingga 2019. Sementara suplai tenaga kerja belum bisa memenuhi. Maka kita harus waspada. Maka kami minta Balai Latihan Kerja untuk melatih tenaga kerja di sektor tersebut.

Perkembangan sektor infrastruktur memang luar biasa. Sebab, banyak rencana pembangunan seperti jalan tol 1000 kilometer, 1000 perumahan rakyat, 50 dermaga baru dan 20 bandara baru. Semua butuh tenaga kerja. Jadi, permintaan tenaga kerja paling banyak di sektor konstruksi. Selain itu juga sektor pariwisata dan industri menengah ke atas.

Tetapi, banyak orang yang bilang tidak ada kesempatan kerja. Jadi di mana letak bottleneck-nya?

Kalau kita lihat, ada pergeseran di pasar kerja. Banyak orang memilih pekerjaan di bidang jasa. Menggeser kecenderungan ini tidak mudah. Pertama, terkait background pendidikan. Kita tidak bisa langsung memekerjakan pengangguran ke sektor konstruksi.

Selain itu, ada juga pergeseran di sektor pertanian. Angka sudah membunyikan terjadi pergeseran dari sektor agraria ke pelayanan. Sementara lapangan pekerjaan di sektor services terbatas. Hal ini menimbulkan dampak pengangguran baru.

Lalu, bagaimana cara mengatasi pergeseran di pasar kerja?

Misalnya di sektor pertanian harus punya strategi baru untuk mengarahkan ke industri pengolahan, industri pertanian dan perikanan. Pengolahan dengan menggunakan metodologi modern akan diminati pemuda. Kementerian Pertanian sudah berpikir untuk mengarah pada industri pengolahan pertanian. Sehingga nantinya bisa menarik tenaga kerja.

Apa tantangan yang paling mendasar dalam pengembangan pasar tenaga kerja?

Kelemahan pendidikan dasar, menengah, dan tinggi di Indonesia adalah pada bahasa dan IT. Padahal tenaga kerja berkualitas harus menguasai bahasa dan komputer. Anda jangan lihat perkembangan di kota besar saja. Harus melihat di daerah juga.

Maka, sekarang lulusan S1 sulit mendapat pekerjaan. Harus S1 plus. Keinginan pasar kerja ya tenaga kerja yang menguasai bahasa (Inggris) dan komputer. Peluang kerja di luar negeri banyak, tapi kita tidak bisa mengisinya.

Sekarang coba kita lihat negara Jepang dengan teknologi yang maju. Mereka tidak bisa bertahan dengan mengungkung diri dan merasa semua orang akan mencari mereka (ke Negara Jepang). Akhirnya, Orang Jepang mau belajar Bahasa Inggris juga.

Selain itu, kita kekurangan tenaga kerja untuk level manajer. Banyak peluang yang tidak bisa terisi. Kami tantang teman-teman S2 itu untuk memasuki jabatan itu. Namun, kelemahannya lagi-lagi bahasa.

Selain itu, keahlian tambahan apa lagi yang dibutuhkan?

Sekarang masih ada karang taruna? Pengalaman berorganisasi penting. Jadi orang tidak mudah baper. Kalau pernah berorganisasi bisa mengatasi masalah. Berbeda dengan orang yang terkungkung dan tidak berorganisasi.

Bagaimana menghadapi tantangan pegembangan pasar tenaga kerja?



Berlangganan Artikel Kami

Dapatkan tips karir terbaru dengan berlangganan artikel kami

Related Posts

Read This Next



Punya masalah dan dilema karir?
Kini kami punya solusi untuk Anda.

Ask the Expert!
Ikuti Kami