Budi Legowo: Dari Engineering, Pendidikan Hingga CFO Siloam

Oleh Steffi Teowira, 6 years ago

Berawal dari dunia engineering di berbagai perusahaan ternama, berpindah ke sektor pendidikan dan kemudian perjalanan karier Budi Legowo akhirnya membawanya menjadi CFO Siloam Hospitals Group. Perpindahan industri yang bisa dibilang cukup ekstrim ini ternyata didasari alasan yang cukup praktis. Simak kisah lengkapnya di edisi Star Leader kali ini.

Apa cita-cita Anda waktu masih kecil dulu?

Macam-macam, tapi saya sempat berminat jadi astronomer. Rasa ingin tahu saya cukup tinggi sih, jadi saya liat astronomi itu mempelajari sesuatu yang luar biasa, tapi saya juga tahu kalau profesi ini agak sulit berkembang di negara seperti Indonesia. Bahkan di negara maju peluang profesinya juga tidak besar. Jadi ya, saya realistis dan ambil jurusan kuliah teknik kimia.

Apa Anda masih ingat pengalaman kerja pertama Anda sebagai fresh graduate?

Setelah saya lulus, saya langsung bekerja di P&G di sector manufacturing, production di pabrik, lebih ke arah technical. Saat itu pekerjaan saya sesuai dengan latar belakang pendidikan juga, jadi semua bisa dibilang lancar-lancar saja.

Setelah itu saya ke Thailand kira-kira setahun dan di sana saya bersama rekan membentuk consulting firm untuk konsultasi klien soal implementasi peraturan dan program-program engineering dari perusahaan multinasional.

Apa yang Anda pelajari selama waktu Anda di P&G?

P&G mengajarkan kepemimpinan. Walaupun saya di manufacturing, saya terpapar dan berinteraksi dengan individu dari semua departemen dari sales sampai logistic.

P&G punya konsep 3E: Envision, Enable, Energize. Pertama seorang pemimpin harus bisa memberikan visi. Kedua, Enable, seorang memberdayakan pegawainya untuk bersinar. Kemudian Energize itu setelah diberi arah yang jelas, kita dukung dan beri motivasi.

Saya rasa ini sejalan dengan konsep yang diusung Ki Hadjar Dewantoro: Ing Ngarso Sung Tulodo, di depan pemimpin memberi contoh dan arah yang terbaik. Ini mirip sekali dengan poin Envision. Kedua, Ing Madyo Mangun Karso, dari tengah pemimpin juga bekerja untuk membangun kemampuan pegawainya, dan ketiga, Tut Wuri Handayani, dari belakang pemimpin mendorong untuk maju. Ini Energize.

Ternyata filosofi perusahaan multinational mirip sekali dengan filosofi Indonesia. Sampai sekarang masih saya terapkan ini ke karier saya.

Anda  kuliah  dan  sempat  berkarier di sektor engineering selama  beberapa tahun di berbagai perusahaan, sebelum kemudian memegang  kendali UPH dan sekarang Siloam. Apa yang mendasari keputusan Anda untuk beralih jalur?

Setelah bekerja beberapa saat di sektor engineering di perusahaan-perusahaan lain, saya sempat ke management consulting juga. Setelah itu saya mulai berkeluarga dan saya rasa perlu punya menghabiskan lebih banyak waktu dengan keluarga. Saya masuk ke sector pendidikan karena sejujurnya beban kerjanya tidak terlalu berat dan saya jadi bisa punya quality time pribadi.

Tapi kemudian, setelah berprofesi beberapa waktu di dunia ini, saya melihat kalau saya punya kesempatan untuk membangun bangsa karena generasi yang akan datang dibentuk dari dua industri ini.

Menurut Anda sendiri, sesulit apa perjalanan karier Anda selama ini?

Kalau dibilang sulit, selama kita punya tekad untuk bekerja dengan baik, boleh dibilang tidak ada yang sulit. Porsi yang sulit itu ketika harus berinteraksi dengan orang lain. Tantangannya itu selalu dengan individu, bukan dengan porsi pekerjaan itu sendiri. Kita tidak bisa mengontrol relasi dengan kolega, bawahan, atau atasan. Bagi saya, tantangannya di situ.


Selanjutnya

Berlangganan Artikel Kami

Dapatkan tips karir terbaru dengan berlangganan artikel kami



Read This Next



Tweets
Ikuti Kami