Marlene Danusutedjo: Meniti Karier dari Resepsionis Hingga PR Hotel | Qerja

Marlene Danusutedjo: Meniti Karier dari Resepsionis Hingga PR Hotel

Eka Utami, 3 months ago
Marlene Danusutedjo: Meniti Karier dari Resepsionis Hingga PR Hotel

Awal karier Director of Communications Mandarin Oriental Group T. Merlene Danusutedjo di bidang jasa adalah di bagian front office. Dia menjadi resepsionis hotel. Saat meniti karier sebagai sekretaris, secara tidak sengaja dia berkenalan dengan dunia public relation. Marlene malah sering membantu acara di bagian kehumasan, dan dia menikmatinya. Ternyata, bidang baru ini membuatnya bisa melangkah jauh di dunia public relation. Simak kisah Marlene yang diceritakan kepada Qerja berikut ini.

Bagaimana awal mula terjun di dunia komunikasi? Apakah ada pengaruh dari orangtua atau keinginan sendiri?

Tidak ada influence orang tua. Saya go with the flow saja. Tapi ayah saya memang pernah kerja di sektor hospitality. Mungkin ada keturunan.

Pekerjaan saya di hotel dimulai dari front office resepsionis. Dulu saya bekerja sebagai resepsionis di Hotel Grand Hyatt. Waktu itu Grand Hyatt baru buka di awal tahun 1990an. Setelah itu saya pindah departemen ke business center. Selama saya bekerja, pada akhir tahun 1990an sempat berkarier di badan pariwisata Belanda. Tapi, akhirnya saya balik lagi ke hotel. Seiring berjalannya karier saya jatuh cinta dengan bidang public relation.

Bagaimana awal mula berkarier di dunia public relation?

Awalnya saya bekerja di Mercantile Athletic Club, sebuah membership club ada di Jakarta yang eksklusif. Saya bekerja sebagai sekretaris yang banyak meng-handle promosi. Jadi, saya sering bekerjasama dengan tim PR.

Lalu, suatu saat mereka membutuhkan orang untuk menggantikan posisi PR. Sebab PR sebelumnya pulang ke Amerika. Kemudian, bos saya bilang,”Kayaknya Marlene berbakat (sebagai PR) karena sering membantu bikin event, dan membantu dengan media. Jadi ada potensi (menggantikan posisi PR.” Kebetulan, saya juga sedang belajar ilmu PR. Saya pikir ini bidang baru dan menarik. Akhirnya saya dipercaya oleh bos menjadi PR. Itu titik awal saya berkarier di dunia PR, dipercaya menjadi PR coordinator. Saya berterima kasih pada atasan waktu itu.

Setelah dari situ (Mercantile Athletic Club), Anda “lompat” ke mana?

Saya kembali ke hotel, dan menjadi PR manager. Kemudian, saya berpindah kerja di beberapa hotel seperti di Four Season dan JW Marriot.

Dulu, ada istilah kutu loncat (untuk pegawai seperti saya). Saat itu, tahun 1990an, hotel masih jarang. Jumlah hotel bintang 5 masih terbatas. Jadi pindah dari satu hotel ke hotel lain dari teman. Namun, lama-lama durasi kerja saya mulai lebih lama, sekitar 4-5 tahun. Saya pernah bekerja di Four Season selama empat tahun, kemudian ke JW Marriot. Sekarang di Mandarin Oriental baru sekitar satu tahun.

Tantangan apa yang dihadapi sepanjang karier?

Sekarang jumlah hotel semakin banyak. Kompetisi semakin tinggi. Hotel bintang 2, 3, 4, dan 5 sudah sangat baik. Bahkan hotel bintang dua pun sudah beautiful dan fungsional, serta dilengkapi teknologi canggih.

Banyak tantangan bagi PR. Bagaimana mempromosikan pada klien. Sekarang kita melihat ada hotel bersebelahan dengan hotel lain. Lalu, klien bertanya: “Apa bagusnya hotel Anda?” Pertanyaan ini memotivasi kami sehingga membekali diri untuk memerbaharui situasi. Kami melihat hal apa yang bisa diberikan untuk klien. Jadi memberi yang terbaik untuk klien di tengan pilihan hotel yang banyak.

Adakah pengalaman menarik yang bisa diceritakan? Apakah pernah terlibat kasus? Berseteru atau menghadapi keluhan?

Tidak. Jangan sampai itu (ada perseturan atau hal lain). So far so good. Keluhan dari tamu pasti ada dari berbagai angle. Namanya juga bidang jasa. Pasti ada saja keluhan. Kalau ada keluhan, berarti ada yang menginap, ada kehidupan. Kalau sepi keluhan, malah jadi pertanyaan. Ada orang yang datang atau tida?

Tapi, kalau ada miss sedikit, banyak pilihan hotel lain di luar sana. Misalnya begini, jika ada klien yang memertanyakan: “Mengapa saya harus menginap di hotel bintang 5? Saya tidak sempat menikmati fasilitasnya. Saya hanya datang, menaruh tas, pergi meeting, dan kembali untuk tidur. Jadi, Hotel bintang dua dan tiga juga sudah bagus.” Lalu kami memasukkan value yang dimiliki Hotel Mandarin Oriental.

Mandarin Orienal Jakarta didirikan pada akhir 1970an. Tahun depan kami berusia tahun. Alamat Hotel kami tidak bernomor. Kami adalah salah satu ikon di Jakarta. Keuntungan menginap di Mandarin Oriental bisa mendapat view bundaran HI. Selain itu, kalau meeting di ruangan pada siang hari tidak perlu lampu karena ada cahaya natural dari matahari. Keunikan lain ada pada cake shop. Orang bilang, American Chocolate di toko kue kami cukup melegenda. Sebuah kue yang sejak tahun 1980an ada di hati masyarakat dan eksis sampai sekarang. Meski tahun berganti, tapi kami tetap memertahan kan resep asli.



Berlangganan Artikel Kami

Dapatkan tips karir terbaru dengan berlangganan artikel kami

Related Posts

Read This Next