Saur Marlina “Butet” Manurung: Perempuan Kota yang Berkarier di Rimba | Qerja

Saur Marlina “Butet” Manurung: Perempuan Kota yang Berkarier di Rimba

Eka Utami, 6 months ago
Saur Marlina “Butet” Manurung: Perempuan Kota yang Berkarier di Rimba

Pada tahun 2004, Majalah TIME Asia menyebut Saur Marlina Manurung sebagai salah satu Pahlawan Asia. Sebenarnya, apa saja yang telah dilakukanyai? Mengapa namanya begitu harum hingga dikenal di luar negeri?

Pada awal tahun 2000-an, nama Saur Marlina Manurung atau biasa disapa Butet Manurung tidak dikenal. Terang saja, wanita kelahiran Jakarta ini memang tidak bekerja di kota besar dan mudah mendapat publikasi. Butet memulai dan mengembangkan karier di bidang pendidikan di pedalaman Jambi. Ia mengajarkan baca-tulis hitung pada suku Anak Dalam di Taman Nasional Bukit Duabelas.

Kini, namanya sudah terkenal sebagai salah satu perintis pendidikan di pedalaman Indonesia. Dedikasinya untuk pendidikan suku pedalaman diakui di dalam maupun luar negeri. Selain Majalah Time, ia juga medapat penghargaan Manusia dan Biosfer Award oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), UNESCO Indonesia, Young Global Leader oleh forum Ekonomi Dunia, Social Entrepreneur of the Year oleh Ernst and Young, dan Ramon Magsaysay Award. Berikut kisah perjalanan karier Butet Manurung yang dirangkum dari berbagai sumber.

Memilih pekerjaan yang berhubungan dengan dunia pendidikan dan lingkungan alam

Saur Marlina muda bukan gadis yang terbiasa hidup di lingkungan yang dekat dengan alam. Wanita kini berusia 46 tahun tersebut adalah anak kota yang menghabiskan masa kecilnya di Jakarta dan sempat merasakan hidup di Leuven, Belgia. Namun, kecintaannya pada alam diam-diam tumbuh dalam hati.

Selepas lulus dari Sekolah Menengah Atas, Butet memutuskan mengambil dua jurusan: Antropologi dan Sastra Indonesia di Universitas Padjajaran, Bandung. Menurut catatan Vemale, di sela-sela kesibukannya berkuliah, ia masih sempat mengajar organ dan matematika. Uang hasil keringat pertamanya dikumpulkan untuk ongkos naik gunung.

Selain memiliki rasa cinta pada alam yang begitu tinggi, Butet juga punya kepedulian besar pada pendidikan untuk masyarakat di pedalaman Indonesia. Hal ini muncul ketika ia melakukan perjalanan dan melihat sendiri suku pedalaman yang dianggap bodoh, miskin dan primitif, sehingga sering ditipu. Butet merasa harus melakukan sesuatu untuk mereka.

Setelah berhasil meraih gelar sarjana, Butet pun langsung memilih pekerjaan yang berhubungan dengan alam, yaitu sebagai pemandu wisata di Taman Nasional Ujung Kulon. Namun, pekerjaan ini tidak memuaskannya. Ia merasa jenuh sampai akhirnya menemukan iklan lowongan kerja untuk menjadi fasilitator pengajar di pedalaman bagi suku Jambi Orang Rimba, Jambi dari Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warung Informasi Konservasi (Warsi), LSM yang berkonsentrasi terhadap isu konservasi hutan di Sumatra.

Menjadi guru rimba bersama Warsi

Butet bergabung dengan Warsi pada 1999. Pada saat itu, Warsi sudah punya program pendidikan alternatif untuk Orang Rimba yang dirintis oleh guru rimba Yusak Adrian Panca Pangeran Hutapea. Yusak memulai gerakannya untuk masuk dan mendekati Orang Rimba di Makekal Hulu dan Hilir, Jambi sejak pertengahan 1998. Dia menghadapi penolakan dari suku pedalaman karena pendidikan dianggap bukan budaya Orang Rimba dan akan membawa petaka. Namun, akhirnya, Yusak berhasil mendekati dan mengajar Orang Rimba. Sampai pada akhirnya, sekitar Maret 1999, Yusak meninggal karena malaria.

Ketika Butet bergabung dengan Warsi, kegiatan belajar mengajar Orang Rimba telah terhenti selama 8 bulan. Butet diminta menjadi penerus Yusak. Ia memulai sekolah pertamanya di Bernai, Makekal Hilir. Menurut catatan Warsi, awalnya murid Butet hanya berjumlah 3 orang. Butet masih menghadapi penolakan dari suku asli pedalaman. Namun lama kelamaan pendidikan menjadi semacam tren baru di kalangan anak muda Rimba. Kemampuan baca-tulis-hitung dianggap keahlian yang hebat setara dengan kemampuan berburu. Pada akhirnya, kepala kelompok masyarakat pedalaman memilih bersikap abstain. Ia tidak menolak dan mendukung sekolah. Tetapi, anak-anak yang ingin belajar diizinkan bergabung bersama Butet.

Selama Butet menjadi guru rimba bersama Warsi, sekolah rimba mulai berkembang ke wilayah lain di Taman Nasional Bukit Duabelas. Para kader Warsi, yaitu murid-murid yang sudah mampu membaca, menulis dan berhitung membantu membuka akses ke wilayah lainnya yang belum mengenal pendidikan. Butet sendiri pun mencoba mengembangkan metode pengajaran dengan belajar sambil bermain sesuai adat budaya dan cara hidup Orang Rimba. Selain itu, pada 2002, Warsi mendapat tenaga guru rimba baru Oceu Apristawijaya, seorang pelukis yang mengenalkan materi pengajaran dipadukan dengan materi menggambar.

Setelah 4 tahun menjadi guru rimba, Butet mengundurkan diri dari Warsi pada 2003. Ia dan rekan-rekannya kemudian mendirikan lembaga swadaya masyarakat yang memiliki perhatian khusus pada bidang pendidikan untuk suku terasing.

Sokola Rimba

Berhenti dari Warsi bukan berarti Butet mengundurkan diri dari dunia pendidikan. Ia dan lima rekannya mendirikan Sokola rimba pada 2003 dengan slogan “Pendidikan untuk masyarakat adat.” Sekola rimba pertama dimulai dari pedalaman hutan tropis Jambi. Mereka mencoba memberi pendidikan untuk suku Anak Dalam di Jambi.

Setelah sukses dengan Sokola Rimba di Jambi, Butet membuka sejumlah sekolah untuk suku-suku terasing di Indonesia, seperti di Pulau Besar, Sikka, NTT, suku Asmat di Papua, dan suku Kajang di Sulawesi Selatan. Selain itu, ia mengembangkan yayasan pendidikan alternatif yang disebut Yayasan Sokola. Lembaga ini didirikan untuk komunitas adat lain di Indonesia yang belum mendapat pendidikan. Butet tidak hanya berusaha memberi pendidikan dasar pada suku di pedalaman, tetapi juga memberikan advokasi. Ia ingin masyarakat adat masyarakat bisa mandiri dan menyelesaikan masalah sendiri. –Qerja.com

Sumber Foto: Flickr

 



Berlangganan Artikel Kami

Dapatkan tips karir terbaru dengan berlangganan artikel kami

Related Posts

Read This Next