Bagaimana Bila ‘Bekerja’ Setelah Bekerja Menjadi Gaya Hidup ? | Qerja

Bagaimana Bila ‘Bekerja’ Setelah Bekerja Menjadi Gaya Hidup ?

F. Irawan Agung Prasetyo, 2 years ago
Bagaimana Bila ‘Bekerja’ Setelah Bekerja Menjadi Gaya Hidup ?

Bekerja setelah Bekerja, apakah kita harus bekerja lembur?

Tenang, ini bukan pemaksaan supaya seseorang kerja lembur, karena antara kerja dan ‘kerja’ ini adalah dua hal berbeda. Kerja dalam tanda kutip ini adalah pekerjaan yang mungkin juga terletak diantara kondisi serius dan tidak. Mengapa bisa begitu? Berikut penjabarannya.

Memilih bekerja itu sendiri adalah sebuah gaya hidup. Mengapa demikian, karena bekerja (dalam hal ini berarti bekerja halal) adalah cara manusia berharga di mata masyarakat ketimbang sekadar menjadi pengemis bahkan yang paling parah: mencuri atau merampok. Bekerja adalah cara manusia menjadi berguna bagi manusia lainnya; bekerja adalah cara manusia memenuhi kebutuhannya; bekerja adalah cara manusia bisa mandiri dan lebih independen disebabkan terbebas dari uluran tangan pihak manapun.

Makna pekerjaan bagi kebanyakan orang adalah cara untuk memperoleh pendapatan. Hal ini tidak salah, namun alasan ini bukan satu-satunya disebabkan banyak orang malah rela menjadi sukarelawan dibandingkan dengan sekadar mengejar gaji dari apa yang dilakukannya; meskipun arah tulisan ini memang menuju pengertian “pekerjaan untuk memperoleh pendapatan” tersebut.

Lalu apa perbedaan antara bekerja dengan ‘bekerja’ pada judul di atas? Pekerjaan pertama membutuhkan konsentrasi berlebih dan seringkali menyita waktu seseorang hingga titik tertinggi, namun tidak demikian dengan ‘pekerjaan’ yang seringnya dilakukan secara (hampir) santai, tidak terikat waktu dan bisa juga menjadi satu sumber penghasilan yang layak. Hal ini tidak dilarang, lagipula telah banyak orang juga mempunyai sambilan di luar waktu kerja utama. Banyak orang mempunyai passion yang berbeda dengan pekerjaan utama yang selama ini dijalaninya, dan ini sah-sah saja. Ada istilah juga untuk ‘pekerjaan’ setelah bekerja ini, yakni ‘afterhour’ atau bisa juga disebut sebagai freelance (pekerjaan yang tidak terikat atau inhouse) meskipun ada perbedaannya. Perbedaannya adalah seseorang bisa menjadi full-time freelancer atau bisa juga ‘setengah-setengah’, yakni dengan bekerja penuh waktu di sebuah perusahaan dan menjadi freelancer setelahnya, dan hal ini sudah jamak dilakukan oleh banyak orang dalam situasi dan kondisi yang penuh dengan ketidakpastian ini.

Penulis sendiri mempunyai beberapa contoh mereka yang memilih bekerja ganda seperti ini, yang beberapa diantaranya adalah teman sekitar penulis.



Berlangganan Artikel Kami

Dapatkan tips karir terbaru dengan berlangganan artikel kami

Related Posts

Read This Next