4 Fakta Seputar Paternity Leave Untuk Pekerja | Qerja

Cuti Melahirkan untuk Ayah Tak Cukup Hanya Tiga Hari: 4 Fakta Seputar Paternity Leave

Qerja, 5 years ago
Cuti Melahirkan untuk Ayah Tak Cukup Hanya Tiga Hari: 4 Fakta Seputar Paternity Leave

Paternity leave adalah hak cuti bagi pekerja laki-laki yang baru memiliki anak. Di banyak, paternity leave diterapkan untuk membuat suami lebih terlibat dalam berbagi tanggung jawab merawat anak, sehingga pengasuhan anak bukan hanya tugas sang ibu semata, namun sang ayah juga ikut serta.

Di mayoritas perusahaan di Indonesia, meski cuti melahirkan kepada pegawai perempuan bisa mencapai tiga bulan, sang suami biasanya hanya diberi waktu tiga hari. Apakah tiga hari cukup bagi seorang ayah untuk membantu istrinya merawat buah hati yang baru lahir?

Berikut empat fakta yang Anda perlu diketahui tentang paternity leave:

1. Keuntungan Paternity Leave
Saat istri melahirkan, kehadiran dan dukungan suami mutlak diperlukan. Namun bukan berarti tugas suami berhenti di situ. Kehadiran suami tetap diharapkan saat anak sudah lahir dan sudah membutuhkan pengasuhan dari kedua orang tuanya.

Paternity leave memungkinkan sang ayah mengambil perannya untuk ikut serta merawat sang anak di hari-hari awal kehidupannya. Ayah akan belajar menganti popok, memandikan bayi, dan bermain dengan buah hati, sehingga hubungan emosional antara keduanya akan terbentuk.

Keuntungan lain? Kehadiran suami juga akan mengurangi depresi istri pasca-melahirkan. Keduanya bisa berbagi peran dalam pengasuhan dan ikatan mereka juga akan semakin kuat.

2. Paternity Leave Kurang Populer
Indonesia belum memiliki peraturan perundang-undangan yang mengatur secara khusus paternity leave untuk pekerja laki-laki, sehingga paternity leave menjadi kurang populer. Banyak pekerja laki-laki yang tidak begitu paham soal cuti tersebut, sehingga biasanya mereka menerima saja jatah minim yang diberikan perusahaan.

Biasanya pekerja laki-laki hanya diberikan cuti selama tiga hari untuk mendampingi istri melahirkan, kemudian ia harus kembali bekerja seperti biasa. Ingin cuti lebih lama? Pekerja laki-laki harus mengambil jatah cuti tahunan untuk hal tersebut.

Sementara itu, perempuan yang bekerja mendapatkan jatah cuti tiga bulan untuk melahirkan sesuai dengan UU No 13/2003 pasal 82. Pembagian cuti tiga bulan, dan waktu pengambilan tergantung dengan perusahaan tempat dia bekerja.

Ada perusahaan yang menerapkan cuti 1,5 bulan sebelum melahirkan dan 1,5 bulan setelah melahirkan. Ada pula yang perusahaan yang membebaskan karyawannya untuk mengambil waktu cuti melahirkan, sehingga banyak pekerja perempuan yang mengambil waktu cuti berdekatan dengan saat akan melahirkan.

3. Mulai Digalakkan di Indonesia
Beruntunglah kalau Anda menjadi pegawai negeri sipil (PNS) karena mulai ada instansi pemerintahan yang memberikan paternity leave untuk PNS laki-laki mendampingi istrinya yang melahirkan dan merawat si buah hati.

Waktu yang ditawarkan untuk paternity leave ini tidak sampai berbulan-bulan, tetapi lebih lumayan ketimbang tiga hari, sebagaimana yang berlaku saat ini.

Pemda kota Depok, Jawa Barat misalnya menyarankan pekerja pria untuk mengambil cuti maksimal tiga minggu untuk prternity leave. Ini dilakukan untuk menggalakkan suami membantu istri dalam program pemberian Air Susu Ibu (ASI) ekslusif.

4. Indonesia Termasuk Terburuk di Dunia
Karena tidak memiliki peraturan soal paternity leave, Indonesia termasuk negara yang “tidak ramah” pada pekerja laki-laki dalam hal ini. Menurut www.citation.co.uk, posisi Indonesia berada di urutan ke-4 terburuk dalam hal paternity leave setelah Afrika Selatan, Djibouti, dan Algeria.

Bagaimana dengan negara-negara yang mempunyai paternity leave terbaik di dunia? Berikut beberapa daftar negara tersebut.

– Inggris
Inggris mengeluarkan aturan Shared Parental Leave Regulation di tahun 2015. Peraturan ini mengizinkan suami dan istri berbagi jatah cuti sesuai dengan ketentuan yang diterapkan. Di Inggris perempuan mendapat izin cuti 52 minggu, terdiri dari cuti melahirkan 26 minggu dan cuti setelah melahirkan 26 minggu juga.

– Kanada
Kanada juga menerapkan aturan di mana suami dan istri bisa berbagi jatah cuti melahirkan. Jatah cuti melahirkan istri adalah 52 minggu, dan 37 minggunya bisa dibagi antara suami dan istri. Oh ya, karyawan tetap dibayar sepanjang cuti, lho. Asyik, kan?

– Norwegia
Di Norwegia, pekerja pria mendapat jatah cuti untuk mendampingi istri melahirkan selama 12 minggu. Sama dengan jatah cuti pekerja perempuan yang melahirkan di Indonesia.

– Swedia
Jatah untuk pekerja pria mengambil paternity leave adalah dua bulan atau delapan minggu.

– Amerika Serikat
Ada banyak perusahaan di Amerika yang cukup sadar kalau memberikan jatah paternity leave kepada pekerja laki-lakinya sangat penting. Misalnya, Ernst & Young memberikan paternity leave kepada karyawan laki-lakinya selama 6 minggu. Peraturan ini sudah dilakukan sejak 12 tahun yang lalu sehingga menjadikan Ernst & Young salah satu perusahaan yang paling ramah pada keluarga.

Perusahaan teknologi besar seperti Facebook dan Yahoo lebih murah hati lagi karena memberikan jatah paternity leave masing-masing hingga empat bulan dan dua bulan!

BACA JUGA:
8 Tips Sukses Wawancara Kerja Lewat Skype
6 Profesi Pilihan Untuk yang Ingin Berkarier di Bidang Hukum
5 Mitos yang Salah Tentang Profesi Chef
4 Alasan Tak Perlu Takut Untuk Resign
10 Cafe Terbaik di Jakarta Untuk Tempat Nebeng Kerja



Berlangganan Artikel Kami

Dapatkan tips karir terbaru dengan berlangganan artikel kami

Related Posts

Read This Next