Mengenal Government Shutdown Di Amerika Serikat | Qerja

Mengenal Government Shutdown Yang Buat Pegawai Pemerintah Amerika Menganggur

Riyan Sugandy, 9 months ago
Mengenal Government Shutdown Yang Buat Pegawai Pemerintah Amerika Menganggur

Walaupun dikenal memiliki pelayanan yang lama dan cukup berbelit-belit, kantor pelayanan publik di Indonesia tidak pernah berhenti melayani masyarakat. Tetapi, hal ini sangat berbanding terbalik dengan Amerika Serikat yang saat ini sedang mengalami Government Shutdown atau penutupan layanan publik sejak 22 Desember 2018 lalu.

Sebenarnya ini bukan sebuah hal yang baru di pemerintahan Amerika Serikat. Hingga saat ini sudah tercatat Pemerintah Amerika Serikat melakukan penghentian layanan untuk publik sejak tahun 1976. Apa sebenarnya yang terjadi?

Penghentian Layanan Publik Oleh Pemerintah

Untuk menjalankan aktivitas pelayanan, Pemerintah membutuhkan dana anggaran yang akan digunakan untuk seluruh kegiatan operasionalnya. Tanpa adanya dana operasional tersebut akan sangat sulit bagi Pemerintah untuk memberikan layanan gratis kepada masyarakat umum.

Untuk menentukan anggaran ini, Pemerintahan yang menggunakan sistem Republik membutuhkan persetujuan Parlemen dalam membuat anggaran tahunan. Tanpa adanya persetujuan Parlemen, Pemerintah tidak bisa menggunakan anggaran yang sudah mereka buat.

Inilah yang saat ini sedang terjadi di Amerika Serikat yaitu belum adanya titik temu antara Pemerintahan Presiden Trump dengan Parlemen Amerika Serikat. Pasalnya, Parlemen masih menolak anggaran pembuatan tembok di perbatasan Amerika Serikat dengan Meksiko yang diajukan oleh Presiden Trump dengan biaya sebesar $5 miliar.

Hal ini mengakibatkan terjadinya Government Shutdown yang sudah terjadi sejak akhir Desember 2018 lalu. Tercatat hingga saat ini Amerika sudah mengalami Government Shutdown lebih dari 33 hari dan menjadi penutupan yang paling lama.

Baca Juga : Pemerintah Akan Buka Lowongan Pegawai Kontrak, Seperti Apa Mekanismenya?

PNS Amerika ‘Menganggur’

Dengan tidak adanya anggaran tersebut, berimbas kepada pada pegawai pemerintah Amerika. Sebanyak 800 ribu pegawai pemerintah harus ‘dirumahkan’ dan tidak mendapatkan gaji dari Pemerintah.

Dampak lainnya yang terjadi adalah pemutusan hubungan kerja dengan para vendor dan juga kontraktor yang bekerja dengan institusi pemerintah. Diprediksi kerugian ekonomi yang timbul karena terjadinya peristiwa ini sebesar $6 miliar. 

Karena kekurangan sumber daya manusia akibat pengurangan pegawai, beberapa bandara di Amerika Serikat mengalami penutupan. Sehingga mengganggu jadwal penerbangan internasional

Tidak Hanya Terjadi Sekali

Sebenarnya Government Shutdown bukan sebuah hal yang baru di Pemerintahan Amerika Serikat. Adanya Ketidaksepakatan antara Kongres dengan Pemerintah dalam membuat rancangan anggaran sudah terjadi beberapa kali.

Sejak pertama kali terjadi di era Presiden Gerald Ford, hampir setiap presiden setelahnya pernah mengalami terjadinya penutupan layanan oleh Pemerintah. Tercatat penutupan layanan di era Presiden Trump menjadi yang terlama dibandingkan dengan presiden sebelumnya.

Penutupan  layanan selama lebih dari 30 hari menjadi rekor tersendiri bagi Trump, mengalahkan rekor sebelumnya yang dipegang oleh Presiden Obama.

Bagaimana Jika Terjadi di Indonesia?

Sangat sulit membayangkan jika Indonesia mengalami penghentian layanan umum, mengingat banyaknya layanan umum yang dilakukan oleh Pemerintah. Belum lagi bila para PNS di Indonesia harus ‘dirumahkan’, mengingat jumlah PNS yang tercatat hingga tahu  2016 berdasarkan data BPS sebesar 4.1 juta pegawai.

Angka tersebut tentunya sangatlah besar dan bisa berdampak secara langsung kepada kegiatan perekonomian di Indonesia. Walaupun pelayanan umum oleh Pemerintah masih belum sempurna, setidaknya tidak pernah penutupan layanan. -Qerja

Baca Juga : Ramai-Ramai Daftar Jadi PNS, Berapa Gaji CPNS Saat Ini?



Berlangganan Artikel Kami

Dapatkan tips karir terbaru dengan berlangganan artikel kami

Related Posts

Read This Next



Punya masalah dan dilema karir?
Kini kami punya solusi untuk Anda.

Ask the Expert!
Ikuti Kami