Dian Sonnerstedt Bicara Tantangan Membawa Perusahaan untuk Go Digital | Qerja

Dian Sonnerstedt Bicara Tantangan Membawa Perusahaan untuk Go Digital

Qerja, 5 years ago
Dian Sonnerstedt Bicara Tantangan Membawa Perusahaan untuk Go Digital

Dengan pengalamannya yang kaya di dunia marketing di berbagai perusahaan terkemuka, sepertinya tidak sulit untuk melihat mengapa Dian Sönnerstedt adalah pilihan tim Qerja untuk Star Leader edisi kali ini. Sebagai pemimpin berpengalaman yang ambisius, COO Bayon Management sekaligus instruktur yoga bersertifikat ini tahu apa yang dibutuhkan seseorang untuk sukses di bidang digital marketing. Cari tahu apa rahasianya dari wawancara tim Qerja dengan beliau.

Di Bayon Management, tujuan Anda adalah membantu membawa perusahaan untuk “go digital”. Menurut Anda pribadi, apakah ada satu sektor bisnis di Indonesia yang butuh untuk segera merambah digital?

Menurut saya industri pariwisata di Indonesia adalah salah satu industri yang desperately butuh untuk go digital, karena sangat terkait dengan konsumer dari seluruh dunia dan internet adalah media yang sangat efektif dan efisien untuk menjangkau orang-orang di skala global.

Internet juga dapat membantu meningkatkan transparansi dalam hal biaya sehingga industri pariwisata kita juga dapat menjadi lebih profesional dalam melayani para turis.

Apa tantangan terbesar dalam membawa perusahaan untuk go digital? Bagaimana Anda mengatasinya?

Banyak perusahaan mulai mengenal pentingnya go digital, tapi pola pikir mereka biasanya hanya sebatas “try and see”, dengan incorporate digital in a smaller scale, baik dengan membentuk digital department atau membuat akun sosmed, alih-alih memandang digitalization sebagai bagian yang integral untuk bisnis secara keseluruhan dari berbagai segi: how the company review the whole business and make it more efficient and competitive in a fast changing market.

Apakah benar kalau perusahaan Indonesia cenderung lebih enggan untuk go digital dibanding perusahaan internasional? Jika iya, apa alasannya?

Bisa jadi karena kebanyakan perusahaan di Indonesia terikat birokrasi dan hierarki, yang menyebabkan perubahan masih sangat tergantung kepada para pembuat keputusan dalam perusahaan. Perubahaan hanya bisa terjadi jika para pembuat keputusan tersebut menginginkan perubahan dan mendukung untuk go digital. Menurut saya fenomena ini tidak hanya ditemui di Indonesia; di negara asing juga masih ada perusahaan internasional yang beroperasi secara tradisional.

Menurut Anda, Anda tipe atasan yang bagaimana? Dan bagaimana Anda mendefinisikan atasan yang ideal?

Saya rasa saya adalah atasan yang tegas, hands-on, dan sangat peduli dengan detil. Walau begitu, saya sangat terbuka untuk menerima masukan dan feedback dari tim saya. I prefer solution focus. I love to give the best and only the best. Pola pikir ini mungkin muncul dari pengalaman saya di dunia BTL, karena di sana, saya tidak bisa mengulang sebuah event kalau gagal. Saya hanya punya satu kesempatan untuk membuatnya jadi sukses.

Meski begitu, saya cenderung memilih untuk memberi kesempatan bagi tim saya untuk bertumbuh and excel from their current position; kesuksesan mereka adalah kesuksesan saya juga. Saya selalu berambisi untuk membentuk sebuah tim yang suatu hari mampu menggantikan saya.

Seorang bos yang ideal di dunia bisnis yang super kompetitif ini adalah seorang yang bisa berkomunikasi dengan pegawainya; seseorang yang dengannya, pegawainya bisa bicara secara langsung dan terbuka. Bos ideal juga adalah seseorang yang memberi kepercayaan pada timnya untuk merealisasikan strategi dan perencanaan. Beliau seharusnya bukan seseorang yang memberi tahu pegawainya apa yang harus dilakukan, tapi menginspirasi timnya untuk mencapai target, tapi tidak lupa untuk have fun di waktu bersamaan. 

Apa yang Anda harapkan dari tim atau bawahan Anda? Apa karakter yang Anda cari dari seorang pegawai?



Berlangganan Artikel Kami

Dapatkan tips karir terbaru dengan berlangganan artikel kami

Related Posts

Read This Next