Alexander Thian ‘aMrazing’: Dari Buka Counter HP Sampai Jadi Penulis Ternama | Qerja

Alexander Thian ‘aMrazing’: Dari Buka Counter HP Sampai Jadi Penulis Ternama

Qerja, 5 years ago
Alexander Thian ‘aMrazing’: Dari Buka Counter HP Sampai Jadi Penulis Ternama

Tak tahu Alexander Thian? Anda mungkin lebih mengenalnya sebagai @aMrazing di Twitter atau Instagram. Selain dikenal sebagai salah satu social media influencer paling laris di Indonesia, ia juga sudah merilis sejumlah buku baik solo maupun anthology bersama sejumlah penulis ternama lainnya.

Buku fiksi pertamanya “Somewhere Only We Know” baru saja dirilis September 2015 oleh Gagas Media. Namun pria yang akrab dipanggil Alex atau Lexy ini juga sibuk menjelajah dunia sebagai penulis/fotografer travel, sekaligus berkecimpung di kantor Digital Petrichor sebagai Chief Digital Officer.

Qerja berbincang dengan Alex seputar kesehariannya juggling tiga pekerjaan, dan bagaimana dirinya bisa sukses seperti sekarang ini meski tak pernah mengecap bangku kuliah.

Bisa diceritain nggak, kamu lahirnya di mana, dan waktu kecil hobinya apa?

I was born in Pontianak, West Kalimantan. As a kid I loved going to the jungle near my house, because you know it’s Kalimantan, banyak hutan di situ. Gue suka ngintilin orang–orang dewasa karena nggak punya banyak temen anak-anak kecil. Kalaupun punya, they were mean. I always hung out with adults. 

Adakah hal yang sejak kecil dilakukan dan masih dilakukan hingga kini?

Ada, dari kecil gue suka berkeliaran sendiri, setelah dewasa gini tetep gue suka berkeliaran sendirian. Kadang-kadang suka diomelin sama teman karena gue bisa menghilang gitu aja. Just because there was something really-really interesting and I went for it. Setelah itu baru ngeh, oh iya tadi kan gue bareng sama temen-temen gue. Jadi sering diomelin gara-gara itu.

Seperti apa sih rutinitas harian kamu?

Rutninitasnya biasanya ya, normal day, bangun sekitar jam 8-9 karena biasanya gue tidur jam 2 atau jam 3 pagi. Kemudian ada Personal Trainer dan gue akan mulai latihan, dan gue baru ke kantor. Meeting sebentar kemudian makan siang. Abis itu akan ada meeting-meeting selanjutnya di kantor, kerja apa segala macem, pulang. Biasanya gue nunggu di atas pukul 7 malam baru kabur, karena kalau nggak gue akan kena macet banget. Kalau memang ada film bagus, gue akan nonton, kalau tidak gue akan pulang. Normal daily life. Gue rajin nonton, belakangan ini gue kurang rajin membaca, jadi harus diimbangi dengan sesuatu yang lain, jadi gue nonton. 

Dulu background pendidikan kamu apa?

Gue sekolah cuma sampe SMA aja.

Berpengaruhkah dengan karier kamu sekarang?

Nggak. Ada dua macam orang: ada yang book smart, ada yang street smart. Nah, yang jarang itu yang street smart. Mungkin mereka IQ-nya tinggi segala macam, tapi nggak banyak orang yang bisa melihat satu kesempatan dan mengambil kesempatan itu. Dan menurut gue, gue beruntung ditempa sama lingkungan dan keluarga gue sehingga gue bisa melihat satu kesempatan dan memanfaatkannya. Itu nggak diajarin di sekolah, sih. 

Kalau kamu sempat kuliah, kira-kira apa yang akan berubah?

Kalau dulu gue kuliah kayaknya gue akan kabur-kaburan mulu deh, karena dulu sekolah pun gue udah nggak betah. DO mungkin ujung-ujungnya, nggak tau juga.

Masih ingat pekerjaan pertamamu?

Yes. Sebagai tukang ngebantuin om gue di toko materialnya. Jadi kalau pulang sekolah siang-siang udah nggak ngapa-ngapain, gue akan bantuin di toko, misalnya ngangkat batu bata, ngitungin barang-barang yang keluar dari gudang, segala macam. Helping my uncle supaya gue dapetin uang jajan. Itu pada umur 13, 14, 15. Lulus SMA gue kan 15, jadi ya sepanjang SMA gue bantuin mereka karena yang bayarin sekolah gue ya mereka.

Kapan pertama kali sadar bahwa kamu suka nulis?

Kayaknya dari kecil memang sudah suka nulis, nggak cuma di kertas tapi di tembok juga, yang akibatnya gue digebukin sama nyokap gue, hehehe. Tapi kemudian waktu zaman sosial media mulai, terutama zaman-zaman Friendster, gue suka bikin cerpen sendiri. Kemudian banyak yang komentar. Kemudian suka posting my daily live di multiply.com. Terus dari situ dapet banyak temen dan feedback mereka rata-rata positif. “Enak ya, baca tulisan Alex, karena mengalir kayak lagi diceritain di depan mata.” Dan dari situ gue mulai mengasah skill menulis karena gue pikir kayaknya gue bisa nih, nulis.

Ada prestasi paling membanggakan di dunia tulis menulis?

Yang paling berasa adalah ketika empat cerpen gue masuk ke kompilasi antologi cerpen yang judulnya ‘Cerita Sahabat’, dan empat-empatnya itu bahkan nggak kena sensor edit dari editor penerbit tersebut. Menurut mereka, ini nggak perlu diedit udah OK, jadi tinggal naik cetak, and I was really proud. Itu tahun 2010 atau 2011, saya lupa.

Ada buku yang kamu rekomendasikan untuk orang-orang yang ingin jadi penulis?

Buku-bukunya Dewi Lestari kalau untuk Indonesia gue suka banget. Kalau suka traveling dan cerita-cerita tentang traveling, gue sangat menyarankan buku Agustinus Wibowo, ada trilogi tentang traveling. Dia cara menulisnya beda banget, kita seakan diajak jalan-jalan. Setiap ceritanya dia bukan hanya menceritakan destinasi, dia menceritakan manusianya, yang membuat sedikit banyak menginspirasi gue untuk melakukan hal yang sama. Dan yang ketiga, gue suka banget sama buku-bukunya Roald Dahl, Enid Blyton. There is a child inside of me that you cannot cure. JK Rowling juga.

Ada satu isu yang saat ini sedang kamu perhatikan?

Melawan asap di Indonesia. Gue sampai saking keselnya pakai hashtag #bakarIndonesia. Karena lo bayangin aja, di Sumatera kebakaran, Kalimantan kebakaran, Maluku mulai kebakaran, Papua mulai kebakaran, Sulawesi juga udah mulai. The only place that is not burning is Jakarta and Jawa. Dan pemerintah kesannya ogah-ogahan menangani ini, karena kemarin pas final sepakbola dikerahkan berapa puluh ribu personel dan Jakarta siaga satu, sementara yang udah kebakaran berbulan-bulan dibiarin begitu aja, cuma 7000 personel yang diturunkan, and for me it is really ridiculous.

Kamu sekarang dikenal sebagai travel writer dan book writer. Menurut kamu, apa turning point yang bisa membawa kamu ke posisi saat ini?

Turning point adalah ketika gue curhat. Literally, seriously. Jadi suatu hari gue capek banget sama kerjaan gue, betenya minta ampun karena I thought I was making a chance and I didn’t, so I got frustrated. Saat itu gue nulis sinetron, gue berpikir bahwa gue mau bikin sinetron yang bagus, nggak mau yang isinya cewek cakep tapi goblok dan kerjaannya nangis-nangis. Gue pikir gue bisa dengan idealisme gue, ternyata nggak bisa. I failed, and I have to work inside the system without a chance to break it. That’s why I wrote about it on my social media.

Gue bercerita bagaimana gue bete karena kalau orang-orang melihat sinetron lalu sinetronnya jelek, yang pertama kali disalahin, siapa? Penulisnya. Tapi mereka tidak memperhatikan bagaimana satu skenario ketika diterjemahkan menjadi syuting ada pengaruh-pengaruh luar seperti sutradara dan lain-lain. Editor, produser, artisnya sendiri, banyak banget. Jadi gue bercerita behind the scene penulisan sinetron, kelakuan artis-atisnya yang kayak gitu, gue cerita dan gue nggak mengharapkan ada yang baca tweet gue karena waktu itu follower gue cuma 150 atau 500 gitu, gue lupa.

But then again, tanpa gue sadari, ini kekuatan sosial media. Ada temen gue yang bilang, “Wah, si Amrazing lagi cerita begini begini begini,” dan ternyata salah satu temannya adalah seorang artis yang followernya ratusan ribu, yang kemudian merekomendasikan akun gue. Dalam sehari, akun gue dapat 3000 followers baru, sampe BlackBerry gue ngehang. Oh, ternyata mereka suka dengan cerita gue yang ceplas-ceplos tanpa filter. Jadi gue sejak itu mulai sering cerita, “Sebenarnya penulis sinetron itu begini, loh. Sebenarnya rating itu begini.” Kayaknya turning point-nya di situ.

Jadi penulis skenario di sinetron itu awal mulanya gimana?

You wont believe this. Jadi, waktu itu gue punya counter HP, lalu pada satu hari ada seorang sahabat aku dateng, bilang, “Lexy, aku udah kerja.” “Oh, ya? Kerja apaan?” “Jadi penulis sinetron,” katanya. Gue ketawain, waktu itu. “Sinetron itu busuk, bla bla bla…”

Beberapa hari kemudian, dia datang dan nanya, “Lex, mau coba jadi penulis, ngga? Lagi dicari, tuh.” And you know what, keesokan harinya gue langsung tutup counter, jadi penulis sinetron, dan saat itu gue nggak tahu apapun tentang penulisan skenario. Waktu itu adalah satu sinetron yang lagi ngehits di RCTI dan gue disuruh nonton sinetron itu, dan karena gue baru, nggak ngerti apa-apa, gue disuruh nulis scene plot, di mana bahkan gue nggak tahu scene plot itu apa. Jadi gue nonton sinetron itu, episode ke-55, orang teriak-teriak nangis-nangisan and I didn’t know what the hell was going on di sinetron itu. Gue cuma duduk bengong, ketawa ngakak banget, sampe akhirnya gue diomelin sama bos gue. Terus lama-kelamaan gue mulai belajar struktur menulis sinopsis itu seperti apa, scene plot itu seperti apa, bagaimana cara pembelahan karakter, potential conflict itu seperti apa, kemudian baru ke penulisan skenarionya. Dialog yang efektif itu apa, kayak di sinetron tuh it would be time wasting if you say, “Hai, selamat pagi, silakan duduk,” segala macem, itu dibuang. Kayak gitu, sih, tips-tips yang berguna banget untuk karier penulisan gue selanjutnya.

Did you enjoy it?

At that time, yes. Karena gue saat itu berpikir gue nantinya akan bikin sinetron yang bagus. Bayangan gue adalah gue akan bikin kayak ‘Friends’, gue mau bikin kayak ‘The Big Bang Theory’ atau Smallville’. How wrong was that.

Masih ada impian untuk bikin sinetron yang bagus?

Udah nggak. You cannot beat the system.

Apa proyek atau prestasi yang paling membanggakan selama ini?

Novel gue, sih. ‘The No-So Amazing Life of Amrazing’ dan ‘Somewhere Only We Know’. Dua novel ini yang satu nonfiksi dan satu fiksi, dan gue nggak nyangka bahwa gue bisa nulis kayak beginian.



Berlangganan Artikel Kami

Dapatkan tips karir terbaru dengan berlangganan artikel kami

Related Posts

Read This Next