Living the Dream: Alexander Thian Berbagi Cerita Soal Karir Sebagai Travel Blogger | Qerja

Living the Dream: Alexander Thian Berbagi Cerita Soal Karir Sebagai Travel Blogger

Qerja, 5 years ago
Living the Dream: Alexander Thian Berbagi Cerita Soal Karir Sebagai Travel Blogger

Jalan-jalan keliling dunia, gratis, dibayar pula. Siapa yang tak mau punya pekerjaan seperti itu? Alexander Thian adalah salah satu dari sedikit orang yang beruntung ini. Bagaimana awal mulanya sampai ia menjadi travel blogger sukses, dan apakah profesi impian banyak orang yang kelihatannya begitu sempurna ini memiliki tantangannya sendiri?

Simak bincang-bincang Qerja.com dengan pemilik blog www.amrazing.com ini seputar karirnya di dunia travel.

Bagaimana dulu awalnya bisa jadi travel blogger?

Memulainya, dijebak. Gue punya teman namanya Windy Ariestanty, dia pemimpin redaksi Gagas Media. Dia yang meyakinkan gue, “Alex, lo bisa bikin buku.” Gue bilang, “Nggak, gue nggak bisa.” Tapi dia tetep bilang, “Lo bisa. Lo harus bikin buku nonfiksi yang lucu, yang komedi.” Gue cuma bilang, “Gue nih garing, aslinya. Gue nggak bisa ngelucu.” “Ya udah, coba dulu deh, kamu nulis tentang satu perjalanan kamu, terus nanti kamu kasih ke aku. Jadi antologi.”

Yau dah, gue nulis. Yang gue nggak tahu adalah tulisan gue ini ternyata digabungkan dalam satu buku bersama Raditya Dika dan penulis terkenal lainnya, termasuk Trinity Traveler. Gue yang belum punya karya apa-apa waktu itu, kagetnya setengah mati. Tulisan gue ini diterima dengan baik, dan itu tulisan travel pertama gue. Dan memang dari awal, gue nggak menceritakan tentang cara pergi ke Karimun Jawa begini, lo harus begini, nggak. Gue cerita benar-benar pengalaman gue, apa yang gue alami, apa yang gue lakukan.

Semua orang pasti pernah merasa bosan dan jenuh dengan pekerjaannya. Apakah sebagai travel blogger yang kerjanya jalan-jalan terus, kamu pernah merasa bosan juga? 

Kemarin gue ke Lombok untuk “Somewhere Only We Know Trip”, promo buku terbaru gueJadi pemenang-pemenang Golden Ticket gue ajak ke sana. Gue awalnya berencana extend, tapi ketika udah memasuki hari ketiga, gue sadar: gue bosan, ternyata. I mean, everything was gorgeous and perfect. Tapi gue merasa bosan karena gua harus berpindah-pindah melulu. Merasa capek, gue hanya ingin lay down. Tidur the whole day. So, rencana extend gue, dipicu dengan kehilangan KTP juga kemarin, akhirnya gue memutuskan bahwa ini adalah pertanda bahwa gue tidak begitu menikmati perjalanan ini, jadi gue pulang aja.

Jadi jangan dipikir orang yang kerjaannya traveling tidak merasakan kejenuhan. Bisa banget. Gue jenuh banget kemarin. Bukan karena view-nya nggak oke, bukan karena orang-orangnya nggak asik. Nggak. Tapi karena gue merasa jenuh karena traveling bagi gue sudah menjadi rutinitas, dan gue butuh masuk kantor, ketemu dengan orang-orang yang gue kenal dan biasa gue temui. So I went home and I slept the whole day.

Sebagai travel blogger, pasti ada beberapa tempat yang sudah kamu kunjungi berkali-kali. Kalau ada order untuk kembali ke tempat tersebut untuk kesekian kalinya, atau misalnya kamu diajak liburan bareng teman-teman ke tempat itu, apakah kamu masih bersemangat?

Iya, dong. Gue nggak akan pernah bosan dengan Australia atau Jepang, misalnya. Gue menganggap walaupun lo pergi berkali-kali ke spot yang sama, lo akan selalu menemukan hal yang baru. Contohnya, waktu pertama kali gue pergi ke Paris, gue nangis di dalam Notre Dame. Gue nggak nangis di dalam Vatikan, gue nggak nangis di Westminster Abbey, pun di San Paulo, tapi gue nangis di dalam Notre Dam karena hal yang gue nggak bisa jawab. Kemudian gue keluar, gue duduk-duduk di bangkunya, dan waktu itu musim dingin tapi gue senang. Keesokan harinya gue melakukan hal yang sama, gue nggak bosan. Gue pikir, oh, mungkin karena ini kali pertama gue ke Paris.

Lalu kemudian, tahun kemarin gue balik lagi ke Paris dan lagi-lagi gue pergi ke Kilometre Zero dan ke Notre Dame. Gue bosan? Nggak sama sekali. Karena gue melihat hal baru, langitnya beda. Waktu pertama kali ke sana, langitnya abu-abu. Kedua kali ke sana, langitnya biru. Orang-orangnya juga beda. Untuk pergi ke satu tempat yang sama berulang-ulang buat gue nggak masalah karena pasti akan ada hal baru yang bisa gue dapatkan.

Sebaliknya, adakah satu tempat yang kamu tak terlalu tertarik untuk kembali?

Ada. Dubai. Pertama, sebenarnya ini nggak fair, sih. Waktu itu balik dari Eropa mau ke Jakarta ada layover selama kurang lebih 12 jam di Dubai. Daripada gue cuma bengong kayak orang bego di airport, akhirnya gue memutuskan untuk eksplor. Nah, untuk eksplor ini kan gue butuh visa. Temporary visa gitu, deh. Akhirnya gue apply, udah segala macem, hal pertama yang bikin nggak enak adalah petugas imigrasinya very rude. Mereka nggak menganggap gue ada. Gue udah berdiri di depan, mereka masih sibuk ngobrol sama temannya. Itu menurut gue udah sangat tidak profesional.

Dan yang kedua, ketika gue masuk ke kotanya lalu gue jalan-jalan, gue ngeliat, this is a paper townEverything looks nice but it’s fake. Terus, ketiga, memang orang-orangnya, sih. Orang-orang di Dubai, dan nggak cuma sekali dua kali, nggak cuma di imigrasi aja, ketika gue antre tiket ini itu, gue merasa diperlakukan nggak baik. Padahal kalau dianggap gue nggak punya duit, gue dandan, loh. Gue masih pakai winter coat.

Gue nggak klik aja sama Dubai, kali, ya. Gue naik ke puncak gedung tertinggi di dunia, gue ke hotel yang paling mahal sedunia, gue bahkan ke fake island mereka yang berbentuk palem itu. Gue ke sana, I didn’t like itI mean, it’s great, it’s nice, gue kagum bahwa di Dubai mereka menerapkan sistem hidrofonik sehingga di padang pasir yang gersang gitu mereka mampu menumbuhkan bunga-bungaan. Ada taman, ada rumput, segala macem. Tapi I know it’s fake karena mereka tiap hari harus ganti. So, no. Gue nggak pengen balik ke Dubai. Kecuali diajakin, dan gratis, dan mewah. Hehehe…

Apa yang selalu kamu cari di tempat yang baru pertama kamu kunjungi?

The people. Karena sebenarnya yang gue kejar dari suatu tempat bukan destinasinya sendiri, tapi bagaimana orang-orang lokal memandang tempat itu. Kayak misalnya begini, lo orang Jakarta, tiap hari kerja dari Jakarta, sedangkan misalnya gue datang dari Australia, so I want to know what you think about your cityI wanna know your daily lifeThings like that. Gue menemukan banyak sekali hal yang menarik dari orang-orang, hal yang mungkin kita anggap nggak bagus, tapi ternyata punya histori yang gede buat local people. Atau diajak makan ke tempat yang nggak ada di guide book, tapi ternyata tempat ini jauh lebih bagus dari yang ada di Lonely Planet lah, apa lah, segala macam. Hanya local people yang tahu. Nah, itu yang gue suka banget.

Selama ini local people di mana yang paling berkesan buat kamu?

Jepang. Orang Jepang itu gila, ramah banget, they’re so niceEven though you don’t speak the language, it doesn’t even matter to them.

Tempat-tempat di mana saja di Indonesia yang menurutmu wajib dikunjungi?

Sumba. Kenapa? Gue ke sana nginep enam malam, setiap hari perfect sunset, perfect milky way, every single day. Terus masyarakat di sana juga ramah, walaupun tetap ada preman, ya. Tapi yang dituju dari Sumba adalah, Sumba itu sangat raw dan Sumba itu not like any other places in Indonesia, deh. Bahkan dia nggak mirip sama Lombok. Dia sama sekali nggak mirip dengan Bali. Jauh. Kayaknya it’s another world in Indonesia. Indonesia yang bukan Indonesia, itu Sumba. 

Terus yang kedua, gue sangat merekomendasikan, Danau Laut Tawar yang ada di Aceh Tengah. Kita memang harus mengendarai mobil selama tujuh jam dari Banda Aceh untuk sampai ke tempat ini, tapi begitu sampai ke sana, lo akan lupa kalau ini Indonesia, dengan mataharinya, langitnya yang cerah, refleksi di danaunya yang akan membuat lo merasa seperti sedang berada di suatu danau di Swiss.

Terus yang ketiga, gue suka banget dengan Lembah Harau yang ada di Sumatra Barat. Bisa dibilang ini Grand Canyon-nya Indonesia. Grand Canyon versi hijau karena ini ada di antara lembah-lembah dan banyak sekali sawah-sawah. Keren parah.

Kalau boleh nambahin satu lagi, Lombok, particularly Sebui Pink Beach di Lombok Timur, jauh sekali dari Senggigi, sekitar empat jam driving, tapi sekarang bisa naik kapal selama 30 menit dari Gili Pasir. Bilang aja mau ke Sebui. Luar biasa tempatnya, karena bisa membuat lo merasa this is my private island, and I can do anything. You wanna swim naked, you want to do skinny dipping, terserah lo. Dan pasirnya memang pink. Tempatnya sepi, nggak ada orang. Itu dari dulu adalah pantai favorit gue di Indonesia, dan memang tempatnya juga bersih. Kece, lah. Really secluded place. Kalau mau nginep di sana bisa di stay di Tanjung Ringgit, kalau nggak salah ada Jeeva Beloam Beach Camp, a really nice resort and very expensive.

Di Sebui ini bener-bener nggak ada yang bisa dilakukan selain berenang dan berjemur. Kalau emang mau makan, ya bawa bekel makanan dan makan di situ.

Banyak yang bilang liburan ke Bali itu overrated. Bagaimana menurutmu? Dan biasanya kalau ke Bali, tujuan mana yang jadi favoritmu?

Gini loh, orang bilang Bali begini, Bali begitu, Bali overrated, tapi gue rasa setiap orang yang ke Bali selalu akan senang, sih. Oke, mungkin pantai-pantai yang ada di Bali nggak seindah pantai-pantai yang ada di Lombok, ataupun di Sumba. Bahkan dibanding Banyuwangi, Bali kalah, pantainya. Tapi yang gue liat mengapa Bali jadi istimewa adalah karena culture, penduduk, dan makanannya. Apalagi bagi para penggemar babi-babian.



Berlangganan Artikel Kami

Dapatkan tips karir terbaru dengan berlangganan artikel kami

Related Posts

Read This Next