Dari New York, ke Hutan di Flores, Hingga Jadi CEO CekAja.com: Perjalanan Karir J.P. Ellis | Qerja

Dari New York, ke Hutan di Flores, Hingga Jadi CEO CekAja.com: Perjalanan Karir J.P. Ellis

Qerja, 3 years ago
Dari New York, ke Hutan di Flores, Hingga Jadi CEO CekAja.com: Perjalanan Karir J.P. Ellis

Perjalanan karier J.P. Ellis penuh dengan pilihan-pilihan tak terduga. Dari New York, Flores, hingga kini di Jakarta sebagai CEO CekAja.com, ikuti kisah menariknya di edisi Star Leader kali ini.

Di mana Anda lahir?
Saya lahir di Greenwich, Connecticut.

Bisa bercerita sedikit tentang masa kecil Anda?
Waktu masih kecil, saya sering berpindah-pindah karena tuntutan pekerjaan Ayah saya sebagai seorang insinyur yang membangun gedung pencakar langit. Saya menghabiskan mayoritas masa muda saya di Asia: Taiwan, Singapura, Hongkong, dan negara lainnya.

Saya gemar melakukan kegiatan anak-anak pada umumnya, seperti berenang, pergi ke pantai. Saya juga sering memainkan bermacam jenis olahraga dan saya cukup tertarik dengan bahasa asing, mungkin karena saya sering pindah.

Berapa bahasa yang Anda kuasai?
Saya kira-kira mengerti enam, tujuh bahasa. Saya fasih menggunakan tiga bahasa: Bahasa Inggris, Indonesia, dan Prancis.

Bagaimana Anda memulai hari?
Saya minum kopi dan biasa langsung mengecek email.

Bagaimana dengan akhir hari? Apa yang Anda lakukan untuk melepas stress?
Kadang saya pergi ke gym, namun saya lebih sering membaca buku. Saya selalu merasa membaca buku adalah pelepas stress yang efektif dan sebelum tidur, saya berusaha untuk membaca beberapa halaman buku fiksi karena fiksi benar-benar membantu saya untuk rileks. Sepanjang hari, saya sudah membaca data, berita, analisis kasus, dan saya rasa jika terus membaca hal-hal yang berhubungan dengan bisnis sampai sebelum tidur, saya tidak akan bisa tidur karena otak saya tidak punya kesempatan untuk berhenti.

Apakah Anda punya penulis favorit?
Oh, macam-macam. Saya banyak membaca buku yang berkaitan dengan dunia finansial, jadi saya membaca  karya Mark Spitznagel. Untuk fiksi, saya banyak membaca karya Mark Twain, Hemingway, dan penulis literatur Rusia seperti Tolstoy.

Masih di topik membaca. Apakah ada satu buku yang Anda rekomendasikan untuk dibaca semua orang?
“Siddharta” oleh Hermann Hesse, seorang penulis Swiss kelahiran Jerman. Ia dulu cukup sukses di dunia bisnis, lalu ia meninggalkan semuanya untuk menjadi seorang penulis dan benar-benar mencurahkan segalanya dan fokus pada pengembangan diri. Buku ini sedikit banyak merefleksikan pandangan hidup penulisnya.

“Siddharta” sendiri adalah kisah fiktif tentang perjalanan hidup seorang individu yang keluar dari hidup lamanya dan menjalani berbagai jenis hidup baru. Menurut saya, setiap orang memiliki bermacam-macam kehidupan berbeda. Kita semua adalah sosok yang berbeda dan memiliki peran berbeda di periode hidup yang berbeda pula. Saya rasa konsep dalam buku ini cukup menarik.

Apakah ada satu topik yang sedang menarik perhatian Anda?
Pasar finansial global kini dinilai terlalu tinggi, overvalued, dan sedang menuju krisis besar. Jika kita menarik benang sebab akibat hingga ke akar-akarnya, kita bisa melihat kalau penyebabnya adalah tingkat suku bunga yang rendah. Konflik yang dihadapi saat ini mungkin hanya awal-awalnya saja. Ini adalah periode yang menarik untuk diamati dan saya berusaha untuk tetap up to date.

Apakah Anda masih aktif berpartisipasi di NGO?
Sayangnya saya sekarang tidak punya waktu untuk aktif di NGO.

Anda dulu pernah ditawarkan untuk pergi ke China. Lalu mengapa Anda kemudian memilih Indonesia?
Saya datang ke Indonesia melalui sebuah program bernama Volunteers in Asia di Stanford. Saat itu universitas Davis di California sedang melakukan riset ethnobotanical dan mencari beberapa sukarelawan untuk tinggal di hutan. Saya merasa itu adalah kesempatan yang unik: tinggal di hutan, tinggal di Flores. Saat itu saya berumur 24 tahun dan saya ingin punya pengalaman tinggal di alam liar, jadi saya merasa itu adalah tawaran yang tidak ingin saya tolak. Di sana saya mengajar bahasa Inggris dan mengajar researcher lokal bagaimana mengkatalogkan penemuan mereka.

Apa Anda rasa hal yang Anda pelajari dulu memberi kontribusi besar pada apa yang Anda lakukan sekarang?
Saya rasa saya cukup beruntung karena memiliki latar belakang yang beragam dan terpapar pada beragam budaya dan bahasa. Selain itu, orangtua saya juga gemar membaca buku, jadi saya tumbuh dikelilingi buku. Saat saya kuliah, saya juga berkesempatan terekspos ke berbagai ide-ide besar. Jika bicara dari satu sisi, sebetulnya ini semua agak merugikan, karena ketika lulus kuliah, saya tidak punya satu keahlian yang spesifik. Namun dari sisi lain, semuanya ini membuat saya menjadi seseorang yang punya macam-macam pengetahuan dasar dan minat.

Ketika kamu masih berusia 20-an tahun, sulit rasanya untuk melihat arah tujuan dan hikmah dari segala hal yang terjadi, tapi ketika kamu sudah lebih tua dan melihat kembali ke belakang, kamu baru bisa menghubungkan semua titik-titik dalam hidup dan memahami alasan mereka terjadi. Kamu harus percaya kalau semua butuh proses dan percaya pada hal-hal yang kamu lakukan. 

Jika Anda bisa memutar waktu, apakah Anda akan memilih untuk jadi seseorang yang ahli di banyak hal atau fokus pada satu area?
Ini pertanyaan yang sangat menarik! Teman-teman saya saat kuliah langsung bekerja sebagai bankir di Goldman Sachs begitu lulus sementara saya malah agak nyentrik dan memilih pergi ke hutan di Indonesia. Sekarang, sepuluh tahun kemudian, setiap hari saya masih bersemangat menjalani keseharian saya. Mereka kini malah sudah mulai bosan dengan pekerjaan mereka. Jadi saya rasa ini bukan masalah apakah jack of all trades atau master of one lebih baik, tapi lebih ke melakukan hal yang ingin kamu lakukan.



Berlangganan Artikel Kami

Dapatkan tips karir terbaru dengan berlangganan artikel kami

Related Posts

Read This Next