Jadilah Karyawan Yang Terlihat di Mata Atasan | Qerja

Jadilah Karyawan Yang Terlihat di Mata Atasan

Qerja, 4 years ago
Jadilah Karyawan Yang Terlihat di Mata Atasan

Dilihat, dihargai, dan dipuji oleh atasan sudah pasti menjadi keinginan dari setiap karyawan. Namun masalahnya, Anda bukanlah satu-satunya karyawan di perusahaan dimana Anda bekerja. Mungkin saja Anda adalah 1 dari 5 karyawan, 1 dari 10 karyawan, atau bahkan lebih dari itu. Tentu saja rekan kerja Anda juga ingin “terlihat” oleh atasan Anda. Bagaimana cara Anda agar “terlihat” di mata atasan di antara rekan-rekan kerja Anda? Saya akan memberikan beberapa tips berdasarkan pengalaman pribadi saya yang semoga bermanfaat bagi Anda.

Bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan – apalagi perusahaan besar – memiliki tantangan tersendiri, dan salah satunya adalah persaingan dengan rekan sekerja. Persaingan di sini tidak melulu seputar promosi karena ada beberapa profesi yang memang tidak memiliki jenjang karir misalnya profesi-profesi di bidang kreatif (seni) seperti fotografer, video editor, penata musik, penulis skenario, kamerawan, dsb mungkin Anda bisa menambahkan.  Untuk profesi-profesi semacam itu biasanya yang ada adalah semacam senioritas dan pengakuan atas eksistensi mereka (penghargaan, piala, dll termasuk tunjangan).

Persaingan dengan rekan sekerja bisa berarti siapa yang lebih tinggi gajinya, siapa yang mendapatkan fasilitas lebih baik dibanding rekan satu timnya, termasuk siapa yang lebih didengar pendapatnya oleh atasan

Saya sudah bekerja sebagai karyawan sejak tahun 1993 saat usia saya 18 tahun dan berhenti di usia 35 tahun. Selama 17 tahun bekerja, saya “hanya” berkarir di tiga perusahaan yang kebetulan semuanya tidak memiliki jenjang karir.  Namun begitu toh saya selalu tercatat sebagai karyawan dengan kondite baik dan mengakhiri masa kerja dengan baik pula.

Artikel saya kali ini merupakan tips bagi para karyawan dalam memenangkan persaingan dengan rekan kerja, khususnya dalam upaya “mengambil hati” atasan karena suka tidak suka, kebanyakan pemenang persaingan adalah mereka yang dikenal oleh atasannya, tidak semata karena kemampuannya.

Dan yang mesti  Anda ingat, cara-cara yang saya lakukan ini bukan menjilat atasan apalagi berprinsip ABS alias “Asal Bapak Senang”.  Di sini prinsipnya adalah memperlakukan atasan sebagai sesama profesional karena atasan juga manusia yang patut dihormati sewajarnya saja.

Untuk informasi pertama, kebanyakan atasan tidak mengenal satu demi satu anak buahnya.  Karena itu, kita harus berupaya untuk menjadi satu dari sedikit karyawan yang dikenal oleh atasan.

Caranya?

Tips menjadi karyawan yang terlihat atasan diperhatikan bos

Tips Pertama : Jangan takut pada atasan

Apa yang  Anda lakukan ketika berpapasan dengan atasan?

Pura-pura tidak melihat? Pura-pura sibuk? Atau malahan menghindar?

Saran saya, jangan lakukan semua itu.

Ketika berpapasan dengan atasan, saya biasa menyapa dengan sekadar ucapan, “Pak” sambil sedikit menganggukkan kepala dan tersenyum tulus ala Ary Ginanjar (pendiri ESQ) yaitu simetris 3 cm ke kiri dan kanan.

Kesan yang kita berikan pada atasan adalah :

“Saya menghormati Anda sebagai atasan karena profesionalitas, bukan karena saya takut pada Anda.”

Bahkan kita tak perlu repot-repot untuk berdiri demi menghormati atasan ketika kita sedang duduk, kecuali jika yang bersangkutan membawa tamu yang akan dikenalkannya pada kita. Pengertian “duduk” di sini tentu adalah posisi duduk yang baik, bukannya nongkrong – apalagi sambil mengangkat satu kaki.

Sedikit kilas balik, saya pernah memiliki atasan yang sangat ditakuti saking galaknya.  Dia tak segan membentak anak buahnya.  Hampir semua anak buahnya pernah kena damprat olehnya, kecuali saya.  Itu karena saya tidak pernah terlihat takut padanya, serta karena saya berani menyapanya dalam kondisi apapun.

Tips Kedua : Berbicara seperlunya dan merendahkan suara

Beberapa atasan tak ingin terlalu dekat dengan bawahannya.

Cara menghadapi atasan seperti ini adalah bicara seperlunya saja.

Meski saya sering menyapa atasan, bukan berarti saya sering bicara dengannya.  Saya hanya bicara jika yang bersangkutan membuka pembicaraan terlebih dulu (biasanya jika kebetulan berada satu lift).

Dan ketika berbicara dengan atasan, saya merendahkan nada suara dan tak perlu berusaha mengakrabkan diri dengan atasan.  Ini merupakan upaya saya menjaga jarak dengan atasan, soalnya jika terlalu dekat dengan atasan bisa-bisa kita diminta melakukan pekerjaan di luar job desc. Itu sudah habit kebanyakan atasan.



Berlangganan Artikel Kami

Dapatkan tips karir terbaru dengan berlangganan artikel kami

Related Posts

Read This Next