Letkol Gogor Aditya Tentang Karir Militer: "Kalau Dari Awal Sudah Tidak Tangguh, Minggir Saja"

Oleh Syahrina Pahlevi, 5 years ago

Menjadi seorang perwira Angkatan Darat memang menjadi cita-citanya sejak kecil. Namun siapa sangka bahwa banyak juga konsekuensi yang harus dihadapinya. Menjalani posisi sebagai seorang anak, kakak, suami, komandan, dan juga abdi negara secara bersamaan tidaklah mudah. Belum lagi berbagai tuntutan pekerjaannya di lapangan.

Kepada Qerja, Komandan Batalion Infanteri Mekanis 201/Jaya Yudha, Letnan Kolonel Infanteri Mohammad Imam Gogor A. Aditya berbagi tentang kisahnya terjun ke lapangan dan juga saat harus menjalani berbagai peran dalam satu waktu.

 

Menjadi seorang tentara, apa saja tantangan yang Anda hadapi?

Kalau sudah memilih menjadi seorang tentara itu maka sadar tidak sadar, suka tidak suka, mau tidak mau, terpaksa tidak terpaksa hidup kami itu sudah milik negara. Apapun yang akan dilakukan harus izin terlebih dahulu. Bukan berarti profesi yang lain tidak harus izin, tetapi saat menjadi seorang tentara walaupun izin sudah keluar, tapi ternyata di hari tersebut ada tugas yang harus dilakukan, ya mau tidak mau harus dilakukan dan izin harus dibatalkan.

Walaupun hanya sekadar untuk jalan-jalan saja harus tetap izin dengan komandan. Kalau tidak dapat izin, ya tidak bisa keluar. Sudah tidak bisa sebebas dulu lagi. Hidup kami itu sudah milik negara.

Kalau dulu zaman masih pangkat Letnan kadang saya masih suka kabur, tetapi makin ke sini sudah makin mendarah daging dengan konsep tersebut. Kalau dipikir-pikir juga buat apa. Sekarang saya justru sudah menduplikasi orang-orang di sekitar saya untuk memahami kondisi saya.

Kemarin bahkan waktu adik saya Prita menikah, saya sudah hampir tidak mendapat izin untuk menghadirinya. Bapak sudah tidak ada dan satu-satunya orang yang bisa mendampinginya ya tinggal saya. Sementara saat itu saya juga harus dinas 5 Oktober (Hari Tentara Nasional Indonesia) di Cilegon, harus membawa pasukan kala itu. Sempat bingung sekali harus bagaimana, walau pada akhirnya izin pun keluar hanya untuk dua hari. Jadi setelah akad nikah dan resepsi saya langsung kembali ke pasukan. 

Tahun pertama sampai kelima memang sempat merasa, waduh kok hidup saya seperti ini sekali ya menjadi seorang tentara. Tetapi semakin lama semakin sadar, oh ya memang harus seperti ini. Kesulitan juga datang saat saya harus membuat semua orang di sekitar maklum dengan kondisi saya. Belum lagi saat akhirnya saya berkeluarga, saya juga harus membuat paham tidak hanya istri saya, tetapi juga keluarga dari istri saya mengenai kondisi kehidupan saya sebagai seorang abdi negara.

Sementara itu kalau di kedinasan, tantangan pekerjaan itu rasanya semua sudah dipikirkan oleh negara. Kalau ada tantangan yang menghadang mereka sudah pasti menyiapkan solusinya, kalau tidak atau belum ada solusinya ya kami harus mampu untuk bertahan.

Sudah menjalankan karir di Angkatan Darat selama 17 tahun dan menjadi Komandan Batalion di umur 38 tahun, titik balik apa yang membuat Anda akhirnya benar-benar yakin bahwa menjadi seorang prajurit memang jalan yang akan Anda tempuh untuk seterusnya?

Kembali lagi kepada kenyataan bahwa saya itu orangnya apatis, saya hanya memiliki satu prinsip bahwa saat saya bekerja memang harus dari hati saya. Saya itu selalu bekerja tanpa pamrih. Saya tidak pernah mengerjakan sesuatu hal dengan baik hanya karena ingin melaporkan hasilnya kepada komandan. Dari sejak pangkat saya masih Letnan Dua hingga sekarang, saya tidak pernah melakukan hal tersebut. Nothing to lose, apakah pekerjaan tersebut bisa membuat saya naik pangkat atau tidak, semuanya saya kerjakan dengan sebaik-baiknya.

Kalau membahas tentang titik balik, ya Sesko (Sekolah Staff dan Komando). Sesko itu benar-benar berat. Saya saya sangat bersyukur diberi kesempatan satu kali tes bisa masuk pendidikan. Tahun 2012 itu umur saya 35 tahun, kalau sampai saya gagal 3 kali berarti umur saya itu 37 tahun. Saya dulu sempat memiliki pemikiran, kalau memang saya mengikuti ujian Sesko hingga tiga kali masih tetap tidak lulus, maka saya akan mempertimbangkan untuk tidak berkarir di jalur militer lagi, ketimbang saya tidak bisa berkarir secara maksimal. Mengingat belum tentu juga ada kesempatan untuk ujian Sesko menghampiri lagi. Bagi saya umur saya terlalu muda untuk disia-siakan. Kalau memang tidak bisa berkarir di tentara, ya saya akan berkarir di tempat lain. Tidak ada masalah bagi saya.

Saya bukan mencari pekerjaan hanya dari segi finansial, tidak. Saya hanya ingin saya yang memang punya semangat untuk bekerja, bisa terus bekerja dan juga membangun di bidang apapun yang saya lakukan. Kalau nanti ke depannya kegagalan mengikuti, Sesko akan menjadi rintangan saya untuk naik jabatan atau mendapatkan jabatan tertentu, ya buat apa. Prinsipnya saya bekerja itu dengan tulus dan yang saya lakukan itu harus berhasil. Saya ini orangnya tidak ambisius, tidak juga ngoyo. Kalau memang saya sudah tidak bisa berkarya di tempat ini, ya sudah, sebaiknya saya berkarya di tempat lain. Hal ini bahkan sudah sempat saya komunikasikan dengan keluarga.

Nasib berkata lain, saya ternyata lulus ujian Sesko dan setelah itu masuk menjadi Paspampres. Saya merasa sangat bersyukur karena sepertinya passion saya juga di sana, setiap hari operasi, setiap hari dinamika yang dihadapi juga berbeda-beda. Pekerjaannya sama tetapi tantangannya berbeda. Saya pun berusaha menjaga momentum ini supaya bisa terus maju.

Sebagai seorang Komandan Batalion, menurut Anda atasan yang ideal itu seperti apa?

Ideal, bagi saya kata ideal itu sangat relatif. Hal yang menurut saya ideal belum tenti ideal bagi orang lain. Tetapi kalau di tentara bagi saya atasan ideal itu yang pertama, dia mau memberikan ruang dan waktu bagi bawahannya untuk membuktikan bahwa dia bisa bekerja dengan baik. 

Kadang-kadang memang suka tidak sabar jika kita melihat bawahan yang tidak bisa mengerjakan pekerjaan yang dibebnkan kepadanya. Tapi sebagai atasan seharusnya bisa melihat dulu seperti apa sebenarnya karakter bawahan Anda. Kasih mereka pekerjaan, lalu lihat seperti apa mereka bekerja. Kalau memang jelek, ya tinggal diarahkan. Lama-kelamaan juga akan bisa terbaca berapa kapasitas yang dimiliki oleh bawahan tersebut. Kalau memang kapasitasnya cuma 70 persen, ya tidak bisa memberikan pekerjaan dengan kapasitas 90 persen kepada mereka. Kalau kapasitas mereka hanya 70 persen, berarti yang 30 persen itu adalah pekerjaan kita sebagai atasan.

Bisa memberikan ruang dan waktu untuk mengoptimalkan potensi bawahan. Saat bawahan tidak bisa melakukan, maka atasan harus membinanya, dan juga mampu memahami bahwa bawahan membutuhkan bantuan untuk menyelesaikan tugasnya.

Yang kedua, atasan yang ideal itu adalah orang yang bisa melaksanakan aturan pada saat dibutuhkan dan bisa membijaksanakan aturan saat diperlukan. Bukan menjadi terlalu fleksibel, tetapi bisa bijaksana saat dia dihadapkan dengan kondisi lain yang menuntut dia tidak melakukan aturan itu.


Selanjutnya

Berlangganan Artikel Kami

Dapatkan tips karir terbaru dengan berlangganan artikel kami



Read This Next



Tweets
Ikuti Kami