Memetik Inspirasi dari Perjalanan Karier Roy Simangunsong | Qerja

Memetik Inspirasi dari Perjalanan Karier Roy Simangunsong

Qerja, 3 years ago
Memetik Inspirasi dari Perjalanan Karier Roy Simangunsong

The mind is a powerful thing dan Roy Simangunsong paham benar ini. Begitu mantap menetapkan arah dan goal, beliau tidak berhenti mengejarnya hingga kini mencapai mimpinya sebagai pemimpin di perusahaan multinasional. Di edisi Star Leader kali ini, Anda akan mendapatkan tips sukses plus tips segar dan sehat langsung dari Country Business Head Twitter Indonesia ini. Ayo simak kisah inspiratifnya!

Let’s start with a little bit about yourself. Di mana Anda lahir?

Saya lahir di Pematang Siantar, 6 Juni 1973. Ayah saya pekerjaannya pindah-pindah, jadi saya tumbuh besar di banyak kota-kota, pernah di Riau, tapi kebanyakan di Sumatra. Masa kecil saya yang seperti itu membuat saya jadi lebih adaptif, cepat menyesuaikan diri dan tidak terkungkung hal-hal lama.

Setelah lulus SMA, saya pergi ke Jakarta sekitar tahun 1990, 1991 untuk kuliah di ISTN juusan mechanical engineering bagian metalurgi—bertolak belakang dengan pekerjaan saya saat ini. Tapi dengan latar belakang sebagai engineer, saya lebih analitis dan terstruktur saat melihat sesuatu.

Bisa cerita sedikit masa kecilnya Roy? Waktu kecil senangnya bagaimana?

Saya paling senang menggambar, membuat komik-komik kecil seperti superhero. Kalau tidak menggambar, saya juga senang membaca buku, salah satunya sebuah komik namanya Dilbert yang dikenalkan oleh ayah saya waktu saya masih kecil.

Bagaimana Anda memulai hari?
Saya bangun dan memandikan anak saya, lalu diantar ke sekolah. Kadang saya lari pagi dan olahraga ringan 45 menit untuk menyegarkan diri. Saya punya aturan kalau saya tidak akan memikirkan tentang pekerjaan di pagi hari. Ketika saya di rumah, saya ingin benar-benar merasa kalau saya ada di rumah dan begitu juga perjalanan di kantor, kadang dengan mobil, kadang Transjakarta. Saya menikmati alone time saya di perjalanan itu.

Oh, ya? Bagaimana kira-kira keseharian Anda saat commute?
Dulu ketika saya berangkat kerja ditemani ayah saya, saya selalu memanfaatkan waktu itu untuk ngobrol dengan beliau. Walau saat itu beliau sudah berusia 80an tahun, wawasan beliau sangat luas dan paham berbagai macam topik. Kalau saya berangkat ke kantor dengan bus Transjakarta, saya senang mengamati orang-orang di sekeliling saya. Saya bisa tahu tentang apa-apa saja yang sekarang ramai dibicarakan atau apakah mobile phone penetration benar-benar terjadi karena mereka selalu lekat dengan ponsel mereka.

qc-jkt-2019

Kalau begitu, Roy biasa bangun jam berapa?
Saya selalu bangun jam setengah lima dan saya berusaha agar saya tidur paling tidak sebelum jam 11. Sebisa mungkin saya akan mencoba tidur sekitar jam sembilan karena katanya jam 11 itu metabolisme racun kita sedang bekerja. Beberapa waktu lalu, saya adalah seorang workaholic: bangun pagi dan tidur sangat malam. Lama-kelamaan, setelah saya mengubah kebiasaan itu, saya merasa lebih segar, tidak terlalu letih, dan tidak mudah emosian. Kalau soal lama tidur, yang penting kamu harus mendengarkan kebutuhan tubuhmu.

Apakah Anda mengkonsumsi kopi?
Ya, saya minum kopi tapi saya tidak ingin kecanduan, karena itu saya membatasi hanya konsumsi dua cangkir sehari. Selain itu, saya juga berusaha membatasi konsumsi gula untuk menghindari risiko terkena kanker. Dua bulan belakangan ini, saya mencoba menghindari mengkonsumsi minuman yang mengandung gula. Jika saya merasa butuh asupan gula, saya akan mengkonsumsi buah-buahan atau kismis.

Bagaimana Anda mengakhiri hari?
Begitu saya meninggalkan kantor sekitar jam sembilan malam, saya langsung meninggalkan apapun yang berkaitan dengan kantor, kecuali kalau memang urgent. Saya menikmati perjalanan pulang dengan mendengarkan musik. Jika anak-anak belum tidur, saya akan ngobrol dengan anak sulung saya.

Kira-kira ada buku apa yang Anda sarankan untuk dibaca semua orang?
Ada dua buku yang ingin saya share. Yang pertama adalah “How to Become a Rainmaker” oleh Jeffrey Fox yang mengajarkan bahwa untuk menjadi sukses, kamu perlu belajar menghargai, mempersiapkan diri dengan baik, dan disiplin. Buku kedua… Ah, saya lupa judulnya, tapi buku itu mengajarkan bahwa kamu sendiri yang memutuskan apakah pekerjaanmu itu shitty or not. Ini adalah konsekuensi dari keputusanmu. Begitu kamu memilih pekerjaan ini, kamu perlu menyukai pekerjaan kamu dan hari demi hari kamu harus percaya kalau kamu melakukan sesuatu yang baik untukmu atau orang lain. Jika tidak, keluar saja. Semua adalah pilihan pribadimu.

Saya senang membeli buku baru, tapi karena kurang ruangan untuk menampungnya, istri saya sudah mewanti-wanti bahwa untuk setiap buku yang saya beli harus ada buku yang keluar (laughs). Karena itu, biasa ketika saya meninggalkan sebuah pekerjaan, saya akan menghadiahkan buku pada eks rekan saya, jadi mereka juga bisa mempelajari hal yang saya pelajari dari buku tersebut.

Apakah ada topik yang sedang menarik perhatian Anda?
Saat ini saya sedang tertarik dengan topik kepemimpinan dan manajemen. 

Latar belakang Roy kan di mechanical engineering, ya. Bagaimana bisa pindah ke media?

Awalnya saya di aircraft maintenance engineering. Saya membuat target sendiri untuk menjadi pimpinan perusahaan di usia 40 tahun dan saya merasa kalau saya tidak bisa menduduki posisi CEO di bidang pekerjaan saya saat itu. Saya berpikir, departemen yang trajektorinya tepat untuk menjadi seorang CEO itu antara finance dan sales. Kemampuan saya di bidang finance biasa saja, jadi saya pikir, oke, kalau begitu sales. Lalu bidang apa yang terus bertumbuh? Karena saya pernah terekspos di implementasi software, saya pun memutuskan untuk memulai dengan menjadi sales person di dunia IT.

Wah, just like that, ya. Lalu bagaimana?
Saya pergi ke kawasan industri dan melakukan riset saya. Ketika saya kembali ke kantor, saya mulai cold calling semua perusahaan itu. Tentu saja ini adalah proses yang sulit karena saya menghadapi penolakan dan saya belajar bagaimana caranya agar resepsionis mau menyambungkan saya ke IT manager

Selain memutuskan bidang, saya juga menetapkan bahwa saya ingin bekerja sebagai seorang pemimpin di perusahaan multinasional. Jadi solusinya saya harus berpindah-pindah perusahaan: dari lokal ke regional ke nasional ke multinasional. Setiap kali ada tawaran pekerjaan, saya selalu menanyakan diri sendiri apakah pilihan ini sejalan dengan goal saya. Jika tidak, saya tidak peduli. Itu cara saya membuat keputusan. 



Berlangganan Artikel Kami

Dapatkan tips karir terbaru dengan berlangganan artikel kami

Related Posts

Read This Next