Mengenal Adrian Li, Sosok Partner dan Mentor Bagi Puluhan Entrepreneur Startup Digital | Qerja

Mengenal Adrian Li, Sosok Partner dan Mentor Bagi Puluhan Entrepreneur Startup Digital

Qerja, 3 years ago
Mengenal Adrian Li, Sosok Partner dan Mentor Bagi Puluhan Entrepreneur Startup Digital

Sebagai Managing Partner Convergence Ventures, Board Director sejumlah startup, dan peminat marathon, Adrian Li benar-benar selalu on the move. Dengan aspirasi untuk menjadi lebih dari sekedar investor dari startup ternama seperti Qraved dan Female Daily Network, beliau menyempatkan waktu untuk berbagi kisahnya dengan Qerja dan kami belajar tentang pentingnya fokus dan passion sebagai kunci dari keberhasilan karier.

Let’s start with a little bit about yourself. Di mana Anda lahir?
Saya lahir di London tahun 1979. Saya sempat tinggal di Hongkong selama tiga tahun sebelum bersekolah di sekolah asrama di Inggris.

Apa yang senang Anda lakukan waktu masih kecil? Dan apakah Anda masih melakukannya sampai sekarang?
Mungkin lebih ke kegiatan saya waktu masih remaja. Saya cukup serius dan sering menghabiskan waktu untuk belajar, tapi saya juga aktif berolahraga, baik tim atau individual seperti berlari dan judo. Walau sekarang agak sulit untuk melakukan olahraga tim, saya masih aktif lari, berenang, dan bersepeda.

Satu hal yang saya senangi dari olahraga individual adalah hasil yang kita dapatkan sepenuhnya tergantung kerja keras yang kita berikan. Semakin sering kita berlatih dan semakin cerdas kita mengatur strategi berlatih, maka hasil yang kita dapatkan juga semakin baik. Pola pikir yang mengajarkan bahwa kita perlu bekerja keras dan melakukan persiapan memadai dapat diaplikasikan untuk banyak aspek dalam hidup.

qc-jkt-2019

Anda adalah seorang endurance athlete yang telah menyelesaikan beberapa maraton. How did you get started?
Saya sering berlari ketika masih kuliah, jadi itu bukan sesuatu yang baru untuk saya. Saya mulai melakukan maraton jarak jauh ketika saya berumur 21 tahun dan saya melakukannya karena di tengah kesibukan bekerja, saya perlu melakukan sesuatu untuk menjadi fit kembali. Selain itu, saya juga berkompetisi untuk amal.

Sebagai seorang peserta marathon, bukan berarti saya hebat atau luar biasa cepat, tapi sekali lagi, yang saya sukai dari aktivitas ini yaitu dengan komitmen berlatih keras dan teratur, saya akan mampu menyelesaikannya dan mendapat kepuasan pribadi.

Bagaimana Anda menemukan waktu di tengah kesibukan untuk berlatih?
Sesibuk apapun, kita akan menyempatkan waktu untuk melakukan hal yang sukai. Saya memang sangat sibuk dan saya ingat saya pernah tertidur saat berlari di treadmill sampai terjatuh. Bank tempat saya bekerja dulu, JPMorgan menyediakan gym di lantai atas, jadi saya bisa berlatih di sana. Saya biasa berlari di malam hari dalam perjalanan ke kantin karena kami dulu bisa bekerja sampai jam 10, 11 malam.

Bagaimana Anda memulai hari? Apakah Anda minum kopi atau teh?
Saya minum kopi. Saya rasa saya jadi terbiasa bangun pagi sejak berkeluarga dan punya anak. Sekarang saya tidur lebih awal, sekitar jam 10 dan bangun jam 5. Saya memulai hari dengan meditasi singkat. Jika anak saya sudah bangun, saya akan menghabiskan waktu dengan mereka, lalu saya berolahraga, dan membaca email.

Saya tiba di kantor sekitar jam 9 pagi. Hari-hari kerja saya biasa diisi meeting dengan perusahaan di portfolio kami. Saya selalu berusaha untuk menyelesaikan semua pekerjaan saya sebelum pulang dan pulang tepat waktu untuk makan malam dengan keluarga saya.

Apakah Anda suka membaca buku?
Ya, saya suka membaca.

Apa satu buku yang Anda rekomendasikan untuk dibaca semua orang?
Saya biasa membaca buku nonfiksi dan saya paling menikmati biografi para entrepreneur. Salah satunya adalah biografi Jeff Bezos, “The Everyhing Store” dan sekarang saya sedang membaca biografi Elon Musk.

Buku lainnya yang saya rasa menarik adalah buku informatif dengan topik-topik spesifik, seperti “The Power of Habit” yang menceritakan bagaimana perusahaan menghasilkan produk yang menciptakan ‘ketergantungan’ atau kebiasaan pada konsumernya sehingga mereka tetap menggunakan produk tersebut. Buku ini sangat menarik dan menggunakan banyak data, riset, dan hasil wawancara.

Jenis buku lain yang saya sukai adalah buku inspirasional yang menceritakan tentang individu- individu, para peserta maraton, peserta Iron Man, dan lainnya. Saya tertarik dengan kisah bagaimana mereka menyeimbangkan seluruh aktivitas itu dengan keseharian mereka.

Apakah ada satu topik yang sedang menarik perhatian Anda belakangan ini?
Pertumbuhan bisnis dan teknologi dan pengaruhnya yang tidak hanya terbatas pada para konsumen, tapi juga kehidupan orang banyak. Misalnya Gojek yang kontroversial namun secara keseluruhan diterima dengan baik. Teknologi memberi kesempatan besar tidak hanya untuk para pengemudi Gojek, tapi juga toko-toko yang bisa meraih lebih banyak pelanggan.

Saya percaya bahwa teknologi dapat menciptakan sesuatu yang tidak hanya memiliki nilai guna tinggi bagi konsumer, tapi juga pihak pemilik bisnis. Posisi Indonesia saat ini sangat menarik untuk diamati, karena teknologi akan menciptakan lebih banyak lapangan kerja dan memperbaiki ketimpangan pendapatan sembari memudahkan hidup pelanggan.

Di mana Anda kuliah dan jurusan apa?
Saya cukup beruntung untuk bisa kuliah di Cambridge jurusan ekonomi dan kemudian MBA di Stanford University.

Menurut Anda, seberapa besar kontribusi latar belakang pendidikan Anda terhadap kesuksesan karier Anda?Kesempatan untuk kuliah di universitas yang bergengsi adalah basis yang sangat baik untuk karier apapun dan ada banyak aspek lain yang bisa kita dapatkan dari pendidikan di universitas.

Pertama, jika kita cukup beruntung dan tahu persis apa yang ingin kita lakukan dalam hidup, maka universitas dapat memberi kita pengetahuan mendasar mengenai profesi yang ingin didalami kelak. 

Di samping itu, universitas dapat menyediakan lingkungan yang sangat menunjang untuk tahu lebih banyak tentang hal yang menarik bagi kita. Salah satunya adalah kesempatan untuk bertemu dan bekerja dengan individu dengan minat serupa. Karenanya, saat itu, saya bergabung dengan banyak kelompok dan organisasi. Saat di Cambridge, saya sempat memiliki bisnis website foto digital. Walau gagal, setidaknya saya mendapat pengalaman dan kesempatan yang tidak bisa saya dapatkan di sekolah. Hal ini berpengaruh besar terhadap keputusan saya untuk menjadi entrepreneur dan venture capitalist.

Salah satu aspek lainnya adalah network yang saya bangun saat kuliah: orang-orang yang saya kenal di Cambridge dan Stanford sangat berharga terhadap apa yang saya lakukan sekarang dari segi mentorship dan bimbingan.

Apa pekerjaan pertama Anda?
Investment banker di JPMorgan. Itu adalah pekerjaan saya yang pertama dan satu-satunya karena setelah itu saya berbisnis sendiri.

Apakah anda memang selalu ingin menjadi entrepreneur?
Saya tidak tahu apa artinya entrepreneur saat masih kecil, namun saya ingat pernah mencoba menjual kartu bergambar pada keluarga saya saat saya masih berumur 6, 7 tahun. Mungkin di situ bisa dilihat saya punya passion untuk berbisnis. 

Yang saya suka adalah membangun tim dan bekerja sama dengan banyak orang untuk menciptakan sesuatu, something from nothing. Membangun perusahaan setelah lulus kuliah rasanya sangat alami karena saya melakukan hal yang saya sukai.



Berlangganan Artikel Kami

Dapatkan tips karir terbaru dengan berlangganan artikel kami

Related Posts

Read This Next