“Kalau 5 Tahun Masih di Posisi dan Perusahaan yang Sama, There Might Be Something Wrong with You”: Rudy Dalimunthe Berbagi Tips Karir | Qerja

“Kalau 5 Tahun Masih di Posisi dan Perusahaan yang Sama, There Might Be Something Wrong with You”: Rudy Dalimunthe Berbagi Tips Karir

Qerja, 4 years ago
“Kalau 5 Tahun Masih di Posisi dan Perusahaan yang Sama, There Might Be Something Wrong with You”: Rudy Dalimunthe Berbagi Tips Karir

Rudy Dalimunthe is always on the move. Berawal dari sekolah pilot, sempat jadi sports reporter di sebuah media, associate di Ernst & Young, dan sekarang Division Head of Customer Experience Management di Indosat, ia pernah menikmati waktu di berbagai industri. Saat tim Qerja berbincang dengannya, kami belajar bahwa when it comes to Rudy Dalimunthe, nothing is static. Dari analogi mengenai presiden hingga teori relativitas, prepare to nod along and be amused as we follow his career journey and glean wisdom along the way.

Let’s start with your passion when you were younger? What was your passion?
Saya sempat punya cita-cita jadi pilot, sempat masuk di flying school di Curug.  Lalu ada krismon tahun 1997… di mana ada beberapa airline yang shut down, saya berpikir saat itu prospeknya kurang baik Lalu saya ambil UMPTN dan diterima di UI di accounting. Tahun pertama, saya jadi news reporter. I enjoyed my time, cuma kadang merasa serba salah juga: kuliah di tempat yang bisa dibilang susah masuknya, susah keluarnya, tapi nggak di bidang itu, ya, ada dorongan untuk back on track… Jadi masuklah saya ke Ernst & Young Indonesia. Likewise, I enjoyed my time. Setahun, 60% waktu saya nggak di Jakarta,karena klien saya banyakan di luar kota, plus working with other colleagues from other E&Y in many countries. Untuk yang belum menikah, it was fun, ibaratnya kayak liburan sambil kerja.

Rudy Dalimunthe Head of Customer experience Indosat profile wawancara tips perjalanan karier

Do you still have any dream or aspiration for what you’ve been doing?
Apapun yang saya lakukan, saya selalu berikan ekstra. Whatever I’m doing, I always give my extra mile, mungkin lebih dari yang diharapkan atasan. Tapi once it’s done, it’s done. You create your next journey. Ya, jadi saya lima tahun di Ernst & Young dan memang nggak mau spend my entire career life di sana. Saya pengen di area yang banyak berinteraksi dengan orang, communicate and understand people, dan plus, saya juga sudah harus settle down, jadi saya mulai mencari perusahaan di Jakarta. Lalu ada tawaran dari XL, tapi masih di internal audit. It’s quite fun, dua tahun. Karir di XL itu dari sisi people development cukup challenging.

Oh? How so?
Untuk advance, kita nggak boleh di bidang itu melulu. Kalau mau naik ke level GM, kamu akan di-challenge untuk menjadi manajer with good performance di dua fungsi berbeda. Jadi saat itu saya terima tawaran untuk pindah ke vendor management di bawah customer service, contact management. 3 tahun… Hm, di situ sebetulnya momentumnya; saya merasa kalau di bidang operation terasa impact-nya memang berbeda. If you do something, impact-nya langsung kelihatan, nggak seperti waktu saya bekerja di back office/as consultant kan, nggak melihat langsung impact ke customer. So, I enjoyed my time.

qc-jkt-2019

Do you still have any dreams or aspiration you want to accomplish?
Tentu. I want to be at C level before 40. Yes, it’s C-level at your own start-up, right?

Sekarang berapa, ya?
Sekarang 37.

Wah, sebentar lagi dong. Oke, sepanjang karir Anda, what’s your most noteworthy project, ibaratnya yang paling Anda banggakan?
Mm… Waktu saya di XL Axiata, saya improved persepsi both in customer and internal company, persepsi terhadap contact center, gain acknowledgement dari customer, then we win awards both local or international. Tahun 2012 di Hongkong, saya mendapat award Asia’s CRM Manager of The Year, plus tahun berikutnya masuk Top 5 Indonesian Future Business Leader dari Majalah SWA di 2013. Tapi, ya, sudah lewat. Ibaratnya, your achievement is history, nggak ada yang perlu dibanggakan sekali. Saya juga yang membangun XL social media team, namanya XLCare, dari scratch, rekrut sendiri ranger-nya, membuat strateginya. Lalu di Indosat saya built customer experience team, dari nol juga. Seringnya begitu, ya, saya selalu mendapat task untuk membuat sesuatu yang bisa dibilang dari nggak ada jadi ada, gitu.

Pak Rudi sepertinya memang senang mencoba hal baru, ya?
Iya, saya senang mencoba hal baru dan create hal baru. Dulu di perusahaan yang lama, bos saya selalu memberi saya pekerjaan yang bisa dibilang belum pernah dikerjakan orang. Saya anggap tantangan, walau kadang kesal juga, yang susah-susah jatahnya ke saya (chuckles).

Rudy Dalimunthe Head of Customer experience Indosat profile wawancara tips perjalanan karier

Apa Anda masih berniat menjelajahi industri lain? Seperti misalnya yang sedang popular itu teknologi, ya.
Pasti, lah. Sempet kepikiran untuk ganti industri, tapi belum dapat jodohnya, gitu.

Wah, kenapa bapak masih punya kepikiran untuk shift, menimbang posisi Anda sekarang sudah enak?
Sebetulnya begini, ya, I’ve tried many things, dari non-operation sampai operation. Saya sebetulnya sudah berada di level yang punya authority untuk halt product launching kalau saya merasa produk itu belum siap. Tapi saya juga merasa masih punya cukup waktu untuk mencoba industri lain yang challenging, seperti E-commerce, startup, OTT. They’re interesting, but then there’s the risk, kan.

Ya, itu maksud kami, Anda sudah nyaman. Lalu, ketika mempertimbangkan untuk pindah, apa yang jadi pertimbangan Anda? What do you look for in a new company when you move?
Ah, first, company ini harus cukup punya prospek. Seperti E-commerce, ya, level of penetration masih di bawah 20%, masih banyak ruang untuk berkembang. Coba dibandingkan dengan telco, even handset juga sudah 120%; ini bisa dibilang sudah saturated. Sedangkan untuk E-commerce bisa dibilang masih kecil, plus the emerging middle class di Indonesia, dengan spending power with online access yang lebih baik so that’s interesting. Ya, pertama, yang harus dilihat adalah apakah tempat itu punya challenge yang bisa memberi saya opportunity untuk grow, room to contribute more, explore more. I always feel most challenged when I need to create sesuatu yang belum pernah dilakukan orang lain. You have to create a good history book for yourself, filled with your achievements. You set a standard for your kids, friends, and most importantly for yourself. Standard saya pengen higher and higher, sih. Yang kedua environment, a creative environment, no barrier,open dan you’re appreciated based on performance, less political. Yang ketiga ya… pasti salary and benefit.

Ah, dan biasa kalau memutuskan untuk pindah, apa lagi pertimbangan Anda?
Kalau kata Richard Branson, kan, you have to take risk, but a calculated one. Kalau yang saya lihat itu, satu, berapa yang saya dapat sekarang setahun, lalu quantifiable benefit, lalu risk di perusahaan itu. Itu semua ditambah-tambahin. Seperti misalnya, perusahaan dengan aset besar seperti Indosat sebetulnya akan tetap ada 5 tahun ke depan. Kalau misalnya perusahaan seperti startup, E-commerce, bisa dibilang asetnya kan, hanya office equipment, sedikit copyrights, ada capital dari shareholder tapi bisa di-withdraw atau dijual kapan saja kan. Itu harus dihitung juga risk-nya, plus how much pay cut you’re willing to accept. Itu juga pertimbangan. Walau kadang ada pay cut, tapi kalau saya merasa itu challenging, ya, saya terima.

Bagaimana pendapat bapak tentang generasi muda yang pindah untuk career leap?
Pola perpindahan generasi saya dan kalian itu beda, loh. Kalian lebih cepat nggak puasan. Saya nggak melihat masalah waktu, lebih ke how much value you have contributed di situ. Kalau masih muda dan sudah achieve maksimal, ya, nggak apa. Perpindahan itu kalau internally juga masih bisa. Tiga tahun biasanya sudah harus move, sih. Kalau lima tahun masih di posisi dan perusahaan yang sama, there might be something wrong with you.

How is it like to work in Indosat? Divisi apa yang Anda pimpin?
Yang saya handle itu customer experience management, semua yang berhubungan dengan customer experience, customer complain. Saya merasa ini challenging, karena yang saya kerjakan itu jadi company objective. Saya punya tiga manajer dan sebelum product launching, kita harus memastikan kalau produk itu punya adoption rate yang bagus, bikin customer bisa pakai terus dan rekomen ke customer lain. Kita memang punya produk yang perfect tapi limitasi pasti ada. Walau kadang harus tetap launch, tetap ada tim yang mencoba memperbaiki limitasi itu dan communicating that to your customer, since it’s about managing expectation kan. Bagaimana saya bisa appreciate customer dan kasih lebih, pasti saya kasih lebih.

Rudy Dalimunthe Head of Customer experience Indosat profile wawancara tips perjalanan karier

How’s the work environment?
It’s great, dalam pengertian dia cukup challenging. Indosat cukup heterogen dengan employees dari berbagai latar belakang dan dengan pola pikir yang bermacam-macam. Banyak orang baru yang masuk dan itu juga challenge tersendiri bagaimana cara kita blend, mingle, maju sama-sama.



Berlangganan Artikel Kami

Dapatkan tips karir terbaru dengan berlangganan artikel kami

Related Posts

Read This Next