“In the Beginning, Seek Knowledge, Not Title” dan Tips Karier Lainnya Dari Henry Manampiring, Head of Strategy Leo Burnett | Qerja

“In the Beginning, Seek Knowledge, Not Title” dan Tips Karier Lainnya Dari Henry Manampiring, Head of Strategy Leo Burnett

Qerja, 5 years ago
“In the Beginning, Seek Knowledge, Not Title” dan Tips Karier Lainnya Dari Henry Manampiring, Head of Strategy Leo Burnett

Sebagai sosok di balik the wildly witty ramblings di blog pribadi dan Twitter dengan handle @newsplatter, penulis dua buku, kepala divisi di Leo Burnett, Henry Manampiring surely has a lot on his plate (pun intended). Qerja menelusuri perjalanan karir Henry Manampiring sembari mengumpulkan nasehat bijak plus trivia. A sneak preview: Henry sedang mencari anak buah yang tertarik dengan fenomena di balik batu akik and we might or might not have uncovered his age!

Hi, Henry. Let’s start with a little bit about yourself. Waktu kecil passion-nya apa, ya? Pengen jadi apa cita-citanya?
Waktu kecil saya… di sekolah Katolik, ya. Saya sendiri bukan Katolik, tapi orangtua saya merasa anak bandel kayak saya itu harus ditaruh di sekolah Katolik biar disiplin (chuckles). Basically saya di Jakarta terus, kecuali waktu kuliah di Bandung. Kalau cita-cita… aduh, generasi saya dulu kalau ditanya pasti ngomong dokter atau astronot, ya nggak sih? Imajinasinya segitu doang. Tapi kalau passion, saya dari dulu senang menggambar dan mengarang.

profile wawancara tips karier Henry Manampiring, Head of Strategy Leo Burnett

Oh, karir Anda sejalan dengan passion ya, kalau begitu?
Sedikit sejalan, karena sekarang saya berkarir di industri kreatif. Selain itu, saya juga masih menulis di blog dan menerbitkan buku. Sudah terbit dua dan sekarang sedang proses menulis buku ketiga.

Wah, sudah buku ketiga. Sejauh ini, feedback personalnya bagaimana? Are you satisfied or…?
Saya lumayan senang, sih, karena sebenarnya nggak pernah kepikiran akan jadi penulis yang diterbitkan. Tahun 2012 saya di-approached oleh penerbit buku Kompas. Saya nggak kirim apapun. Mereka hanya can we publish your blog, begitu awalnya. They just wanted to publish my blog. Akhirnya ya, saya termasuk beruntung, bukunya terbit.

Baiklah, sekarang kita bicara sedikit tentang perjalanan karir. Can you tell us a bit how it started, the change, up until now?
Saya termasuk orang yang murtad dari kuliahnya—kuliah sama pekerjaan nggak nyambung. Kuliah S1 saya akuntansi. Kenapa akuntansi, nah ini pelajaran untuk anak-anak SMA juga, sebaiknya sudah tahu minatnya dimana. Jadi saya dinasehati Bapak saya untuk masuk accounting karena pasti cari pekerjaannya gampang, which is, well, masuk akal karena semua perusahaan pasti punya departemen itu, kan? Sesudah lulus, saya menjadi management trainee untuk departemen finance di British American Tobacco. Saya nggak betah; saya nggak tahan kalau melihat Excel melulu. I can work with numbers but I don’t love them.

Wah, lalu bagaimana?
Beruntung kantor saya akomodatif, jadi saya ditawarkan ke marketing research within marketing department. Apa yang tampaknya seperti keputusan spontan saat itu, kalau melihat kembali, saya bersyukur banget, karena di market research, saya belajar tentang consumer behavior dan market information. Saya di perusahaan pertama hampir 6 tahun, kemudian pindah ke Coca Cola Company dan di market research juga. Setelah itu, dianjurkan teman untuk mencoba bidang kreatif, jadi waktu itu saya apply saja di Lowe dan untung-untungan diterima.

Saat mengambil keputusan itu, merasa itu risky nggak?
RiskyRisky banget! Bapak saya orangnya konservatif, katanya kerjaan saya sudah bagus, kenapa ganti lagi?

Saat itu umur berapa, ya?
Waktu itu saya sudah 27. Tapi pindahnya kan, nggak radikal kalau dipikir-pikir, dari market research ke advertisingBasically saya juga follow my gut. Jadi itu pertama kali saya masuk advertising dan sampai sekarang masih bertahan. Perpindahan ini saya anggap titik balik karena mengukuhkan saya di jalur karir communication, khususnya marketing communication dan brand communication.

Wah, 27 risky banget, tuh. Nah, kalau menurut Henry, say, kita sudah menetap di umur 28, 29, lalu tiba-tiba ada gut feel pengen yang lain, apakah Anda akan menasehati orang lain untuk mengikuti that feel?
Saya sering dapat pertanyaan begini. Mau pindah atau nggak? Kita memang harus mengejar bidang dimana strength dan passion kita berada, tapi tentu saja harus realistis. Ibaratnya begini, kalau mau bekerja di corporate harus mempertimbangkan jenjang karir, kan? Lebih awal banting stir lebih baik, karena ada konsekuensinya terutama kalau bidang sebelumnya dan bidang sekarang terlalu jauh. Mungkin di bawah 30 masih oke menurut saya. Tapi prinsip ini tidak berlaku jika kita mau keluar untuk membangun bisnis sendiri beda. Nggak ada kata terlambat kalau itu.

profile wawancara tips karier Henry Manampiring, Head of Strategy Leo Burnett

Kalau Anda sendiri, apa pertimbangan untuk pindah ke perusahaan lain?
Saya sih, reputasi, ya. Karena bagi saya, perusahaan sendiri adalah sebuah brandemployer brand namanya. Employer brand itu nantinya membantu personal brand kita sendiri di CV. Makanya saya sering bilang ke temen-temen atau adik-adik yang baru lulus, kalau bisa coba dapatkan pekerjaan pertama di perusahaan yang keren, entah multinasional atau nasional, selama dia leading company di industri itu: Contohnya seperti Unilever, BCA, Telkomsel, atau Coca Cola. Nanti kalau mau pindah, reputasi perusahaan tempat kita berasal akan dijadikan pertimbangan oleh perusahaan berikutnya. Yang kedua, culture. Sebelum saya pindah ke perusahaan baru, saya selalu riset dulu tentang perusahaan dan budayanya. Karena kalau culture nggak cocok juga nggak bisa perform.

Sekarang kan, Henry sudah terbilang stabil di industri kreatif. Apa ini berarti Henry sudah tidak mencari sektor lain untuk berkembang? Seperti sekarang yang sedang tren bidang teknologi. Apa Anda tertarik?
Pasti, sih. Tapi teknologi kan luas, ya dan yang saya tertarik itu dalam konteks komunikasi, jadi mungkin digital communication atau digital marketing.

Menurut Anda apakah ada limit on how long someone should stay in a company? Misalnya, mungkin 5 tahun?
Menurut saya nggak, karena buat saya bukan banyak-banyakan waktunya, tetapi kondisinya: Apakah kamu menemukan kondisi yang membuat kamu mempertimbangkan untuk keluar? Saya malah lebih concerned sama orang yang terlalu cepat pindah-pindah. Millenials yang pindah-pindah kerja menurut saya itu sangat annoying. Saya pribadi merasa itu minus untuk saya kalau hire anak buah. Untuk apa saya invest di orang ini dengan training, lalu baru satu tahun, delapan bulan, eh, dia keluar. Setidaknya untuk first job, deh, bertahanlah dua, tiga tahun. Yang saya lihat, generasi muda yang pindah-pindah itu pengetahuannya cetek, belum cukup lama untuk memendam ilmunya. Carilah ilmu, knowledge, dan experience dulu, jangan titel. Kalau soal apakah ada waktu maksimal di sebuah perusahaan, kembali tergantung kondisinya. Buat apa pindah selama di perusahaan itu kamu masih dapat career advancement dan budayanya baik? Nggak ada alasan untuk pindah, kan? Nah, kalau kamu merasa sudah nggak fairly compensated, karirnya mentok, nggak cocok sama culture, then move. In the end, bagi saya, setiap orang itu beda. Ada orang yang cenderung menghindari resiko, risk averse, selama kerjaannya nggak aneh-aneh dia nggak akan pindah. If so, so be it. If it works for you, it’s fine. Beberapa orang kan ambisius sehingga membuat dia banyak pindah. Ya nggak apa, whatever floats your boat. Yang paling payah itu kalau orang yang stay tapi terus ngedumel. Waduh, mengeluh terus. Either you stay, be happy, kalau nggak, cari solusi!



Berlangganan Artikel Kami

Dapatkan tips karir terbaru dengan berlangganan artikel kami

Related Posts

Read This Next