Michael Victor Sianipar: Mantap Melabuhkan Hati ke Dunia Politik | Qerja

Michael Victor Sianipar: Mantap Melabuhkan Hati ke Dunia Politik

Qerja, 4 years ago
Michael Victor Sianipar: Mantap Melabuhkan Hati ke Dunia Politik

Apa arti karier bagi Anda? Sebuah medium pembuktian diri melalui passion atau sekedar metode membayar tagihan per bulan? Bagi Michael Victor Sianipar, kesibukannya sebagai personal assistant Gubernur DKI Jakarta tidak lagi dianggap sekedar pekerjaan yang ditinggalkan begitu ia keluar dari kantor dan mendedikasikan diri sepenuhnya hingga merasa tidak ada lagi batasan antara hidup personal dengan hidup kerja. Bagaimana ceritanya hingga ia mencapai titik ini? Percakapan kami dengan Michael Victor Sianipar di edisi Star Leader kali ini mungkin dapat menjadi pencerahan bagi Anda yang sedang mencari passion dalam berkarier.

Let’s start with a little bit about yourself.
 Di mana Anda lahir?
Saya lahir di Jakarta dan besarnya di Jakarta, tapi saya sempat tinggal di Karawaci, di Tangerang sana selama beberapa tahun karena sekolah di sana.

Apa yang Anda senang lakukan saat masih kecil? Apakah Anda masih melakukannya?
Dulu waktu masih SD, saya suka jalan-jalan dan mengamati. Kalau sekarang, saya suka jalan sendiri keliling-keliling ke kampung. Sekarang jika mengamati sesuatu, saya bisa membayangkan, “Oke, ini kondisi sekarang. Tempat ini bisa jadi seperti apa, harusnya kampung ini seperti apa, harusnya kota ini seperti apa.”

Bagaimana Anda memulai hari Anda? Apakah ada sejenis ritual di pagi hari?
Pagi saya bangun jam 6, 6.30 karena kebetulan rumah saya dekat dengan kantor. Bangun, lalu mandi, dan kalau sempat, sarapan. Karena saya bukan PNS, jadi sebetulnya nggak ada jadwal masuk kerja yang pasti. Target saya capai kantor sebelum jam 8 karena kalau kelewatan, kerjaannya sudah keburu menumpuk: ada yang mau ketemu, ada Whatsapp yang harus dibalas, ada tugas dari bos. Karena itu, saya berusaha datang sebelum jam 8 supaya ada waktu untuk diri sendiri, untuk baca koran atau kadang saat teduh.

Kalau di penghujung hari? Bagaimana Anda melepas stress seusai kerja?
Biasa selesai jam kantor sudah jam 8, 8.30. Sampai rumah saya masih membalas-balas Whatsapp selama kira-kira setengah jam sambil baca berita yang terlewatkan hari ini. Itu cara saya rileks. Lagipula, itu hitungannya masih hari kerja, jadi dalam kantor atau luar kantor, fokusnya masih ke arah sana.

Bagaimana dengan akhir pekan?
Kalau Sabtu, saya biasa kumpul-kumpul dengan teman, kadang pergi fellowship. Kalau Minggu, kadang ke gereja. Sekali seminggu atau sekali 2 minggu biasa blusukan, jalan-jalan keliling saja. Weekend ya, kebanyakan untuk teman dan keluarga

Jadi Anda benar-benar memisahkan antara hari kerja dan akhir pekan, ya.
Nggak juga, karena akhir pekan kadang juga suka rapat. Masalahnya, di pekerjaan saya ini, agak susah menarik batas antara waktu bekerja dan waktu tidak bekerja. Misalnya, waktu saya ngobrol-ngobrol dengan teman kadang tidak terbatas hanya sosialisasi. Kalau saya ketemu teman terus ujungnya bicara tentang Jakarta, itu juga bagian dari bekerja.

Untuk saya, arti pekerjaan bukan hanya mengerjakan tugas di kantor, bikin laporan, atau monitoring proyek. Pekerjaan saya adalah membangun Jakarta, membangun bangsa Indonesia, jadi hal-hal yang saya lakukan selain duduk di depan layar komputer juga bagian dari pekerjaan. Bukan berarti saya mengaitkan ini semua dengan stress. Saya blusukan, baca berita juga termasuk pekerjaan. Hidup saya bukan sekedar dikotomi kerja dan nggak kerja. Hidup saya memang untuk ini, ya jalani saja. Jadi kalau ditanya weekend-nya kerja atau nggak, jawabannya tergantung definisi kerja itu sendiri

Bagaimana ceritanya Anda di usia semuda ini sudah tahu bahwa “Hidup saya memang untuk ini”?

Awalnya dari waktu SMP, SMA, saya suka baca buku sejarah dan saya juga suka baca sejarah bangsa-bangsa. Dari yang saya baca, saya belajar kalau satu bangsa itu bisa maju atau terpuruk karena pemimpinnya. Jika di Amerika ada sosok seperti Abraham Lincoln yang mengakhiri perbudakan, di Jerman ada Hitler yang membawa seluruh dunia masuk ke perang dunia kedua. Di Indonesia juga sama, ada sosok yang membuatnya sejahtera dan ada yang membuatnya jatuh karena korupsi juga.

Dari sana saya ada ketertarikan ke dunia politik, tapi hanya sebatas akademis, makanya saya kuliah jurusan ilmu politik. Saat itu, saya pikir jalur karier saya nanti menjadi diplomat, pengacara, PNS, atau politisi. Karena itu, lulus S1 saya langsung mendaftar kuliah S2.

Saat saya kembali ke Indonesia menunggu jeda antara S1 dan S2, kebetulan sedang ada pemilihan gubernur. Saya disarankan teman ikut tim kampanye Jokowi-Ahok. Awalnya saya skeptis kenapa harus bergabung dengan tim Jokowi-Ahok, lalu oleh teman saya itu saya disuruh melihat rekam jejak para kandidat dan saya disuruh langsung ikut saja agar saya bisa melihat cara Pak Ahok berinteraksi dengan masyarakat. Dari situ, saya memang melihat ada ketulusan. Akhirnya saya memutuskan untuk tetap di Jakarta dan tidak S2.

Jadi menurut Anda, apakah itu pilihan karier yang membawa Anda sampai di titik ini?



Berlangganan Artikel Kami

Dapatkan tips karir terbaru dengan berlangganan artikel kami

Related Posts

Read This Next