Cara Mencegah Staf Anda Mengalami “Burnout” | Qerja

Mengenali dan Mencegah Staf Anda Mengalami “Burnout”

Qerja, 4 years ago
Mengenali dan Mencegah Staf Anda Mengalami “Burnout”

Di tempat kerja, sangat mudah mengenali pekerja yang stres, lelah fisik dan mental akibat pekerjaan, atau lebih dikenal sebagai burnout. Bos yang marah-marah terus, kolega yang bilang tidak sanggup lagi menyelesaikan pekerjaan dan tiba-tiba cuti untuk berlibur ke Bali, atau anggota tim Anda yang sehari-hari terus menggerutu dan mengerjakan segala sesuatunya secara asal jadi.

Yang sulit adalah mengenali dan mencegah burnout itu terjadi. Sebagai manajer, Anda tentu tidak ingin pekerjaan anggota tim Anda kualitasnya rendah, atau bahkan kemudian resign.

Burnout adalah respons seseorang terhadap stres emosional dan interpersonal kronis di tempat kerja. Penyebabnya bukan semata mental yang kurang tahan banting, bekerja terlalu banyak, jam kerja yang panjang, atau kerja dalam lingkungan dengan standar yang tinggi. Sebaliknya, itu adalah masalah multidimensi dengan banyak penyebab yang kompleks.

Pahami penyebabnya

Hal-hal umum yang menyebabkan kelelahan kerja adalah tuntutan pekerjaan yang berlebihan. Untuk mengetahuinya, kenali kepanikan di wajah mereka, ketika mengerjakan tugas, atau ketika Anda memberinya tugas tambahan saat mereka sedang mengerjakan sebuah tugas.

Penyebab lainnya juga termasuk terjadi konflik peran. Hal ini bisa terjadi akibat kurangnya informasi serta dukungan yang memadai untuk melakukan pekerjaan dengan baik. Pelatihan yang tidak benar dan/atau sumber daya memadai untuk melaksanakan pekerjaan secara efektif.

Kondisi lingkungan kerja yang kurang ada dukungan sosial dari atasan memiliki efek lebih buruk dibanding kurangnya dukungan sosial dari rekan kerja. Mengabaikan dan mengucilkan karyawan Anda, adalah cara cepat untuk membuatnya segera berhenti.

Umpan balik adalah hal yang sangat penting bagi staf Anda, sehingga mereka tahu bahwa tugas sudah dikerjakan dengan benar. Karyawan yang merasa tidak memiliki partisipasi dalam pengambilan keputusan dan kurang dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan terhadap caranya melakukan suatu tugas juga memicu kondisi stres yang akut.

Penyebab lainnya adalah beban kerja yang tidak nyambung. Kelebihan beban pekerjaan dalam melakukan jenis pekerjaan yang salah.

Semua itu adalah pemicu stres yang menyebabkan karyawan mengalami burnout. Kondisi ini juga bisa terjadi ketika seorang pekerja tidak punya akses dalam mengontrol sumber daya yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan secara efektif, atau saat mereka tidak punya cukup otoritas untuk melakukan pekerjaan dengan cara yang paling efektif.

Hal lain yang bisa memicu adalah kurangnya penghargaan. Saat merasa kurang dihargai, pekerja akan mudah stres saat menghadapi tugas yang besar. Kurangnya penghargaan ada beberapa jenis: pertama, tentu saja gaji serta fasilitas yang dianggap kurang sesuai dengan pencapaian dan beban mereka selama ini. Kedua, kurangnya apresiasi dari rekan sekerja atau atasan. Terakhir, kurangnya rasa kepuasan serta kebanggaan dalam bekerja.

Efek dari “Burnout”

Burnout tidak hanya mempengaruhi kinerja karyawan, namun berdampak pada kinerja tim dan lingkungan kerja. Efek buruknya adalah: Berniat untuk resign, sering tidak masuk, produktivitas rendah, kerja menjadi tidak efektif, kepuasan kerja menurun, kurangnya komitmen terhadap pekerjaan dan organisasi yang dampaknya akan mengganggu  pekerjaan rekan kerja yang lain.

Cara Mencegah “Burnout”

Menciptakan lingkungan kerja yang mencegah kelelahan, kondusif untuk produktivitas, melibatkan karyawan, dan memperhatikan kepuasan kerja secara keseluruhan, sangat penting untuk mencegah burnout. Tidak ada manajer, Co-Founder, atau CEO ingin kehilangan bakat yang terbaik hanya karena masalah ini.

Namun, sebagian besar tidak tahu bahwa karyawan mereka telah mengalami hal ini terlalu lama sampai akhirnya terlambat.
Berikut adalah cara untuk mencegah kelelahan di perusahaan Anda:

 1. Realistis ketika menetapkan tugas. Mendelegasikan sejumlah pekerjaan yang menantang, tapi tidak berlebihan.

2. Fleksibel. Memastikan bahwa setiap anggota tim Anda berada dalam posisi yang membuat mereka bersemangat. Buat posisi baru atau membiarkan karyawan Anda pindah untuk posisi yang berbeda jika mereka merasa lebih bergairah dan percaya diri mengerjakan hal tersebut.

3. Biarkan Mereka punya ‘sampingan’. Mengizinkan karyawan Anda untuk bekerja pada sebuah ‘proyek sampingan’ yang berhubungan dengan pekerjaan. Ternyata, beberapa ide paling inovatif Google berasal dari proyek sampingan karyawan.

4. Terapkan waktu kerja yang wajar. Pastikan juga mereka mudah mengajukan cuti sakit serta mengambil cuti tahunan.

5. Istirahat cukup. Dorong anggota tim Anda untuk memanfaatkan istirahat makan siang satu jam penuh. Serta ingatkan untuk sekali-sekali istirahat 15 menit, untuk sekedar berjalan-jalan, meregangkan tubuh atau main telepon genggam.

7. Penyesuaian. Ketika batas waktu kerja tidak realistis, ubahlah. Jika ternyata seseorang yang ditugaskan bukan orang yang tepat untuk pekerjaan itu, rombak kembali.

8. Pastikan setiap anggota tim memiliki deskripsi pekerjaan yang spesifik. Pastikan karyawan memahami peran mereka, dan menyadari kontribusi yang diharapkan perusahaan. Pastikan bahwa ada dana yang cukup untuk menjalankan strategi secara efektif. Berikan dukungan yang cukup. Manajer harus menghabiskan waktu mendengarkan dan menangani masalah karyawan. Buat budaya suportif dengan meluangkan waktu untuk mengenal setiap karyawan pada tingkat pribadi. Membawa mereka keluar untuk makan siang secara individual dan berbicara tentang topik yang terkait non-bisnis.

9. Penghargaan. Berikan penghargaan, reward, dan promosi yang sesuai, kontribusi masing-masing karyawan kepada perusahaan harus diakui.

10. Kenali rasa frustasi mereka. Ketika seorang karyawan kerap menyampaikan rasa frustrasi atau kekhawatiran, tangani hal itu dengan segera. Pastikan bahwa mereka tahu Anda mengambil tindakan yang tepat atau memberikan penjelasan mengapa Anda tidak dapat memenuhi kebutuhan mereka. Berikan informasi tentang kejenuhan dan bagaimana karyawan dapat mencegahnya.—Qerja.com

Foto: awdnews



Berlangganan Artikel Kami

Dapatkan tips karir terbaru dengan berlangganan artikel kami

Related Posts

Read This Next