Jika Pahlawan Wanita Hidup di Zaman Sekarang: Edisi Karier | Qerja

Jika Pahlawan Wanita Hidup di Zaman Sekarang: Edisi Karier

Qerja, 3 years ago
Jika Pahlawan Wanita Hidup di Zaman Sekarang: Edisi Karier

Terlepas dari permasalahan diskriminasi yang masih membelit kaum hawa, abad 21 bisa dibilang adalah periode terbaik untuk hidup sebagai seorang perempuan. Dibandingkan ratusan tahun lalu, wanita sekarang pada umumnya dapat memperoleh pendidikan tinggi dan memilih karir berdampingan dengan pria.

Tanpa dikekang kewajiban dan stigma, rasanya menarik membayangkan bagaimana caranya para pahlawan perempuan mengembangkan potensi mereka di zaman modern ini. Kalau pahlawan wanita hidup dan aktif di tahun 2016, kira-kira apa pekerjaan mereka? 

1. Raden Ajeng Kartini

Pionir kesetaraan dan pendidikan bagi kaum wanita ini bersinar melalui tulisannya yang dibukukan ke “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Niat Kartini untuk mengenyam pendidikan lebih tinggi memang tersandung kewajiban sebagai istri. Namun sebelum meninggal di usia muda, Kartini sempat mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang. Buah pemikiran beliau pun tidak terbatas hanya pada pendidikan untuk kaum wanita, namun juga nasionalisme dan kesetaraan perempuan yang diterbitkan dalam buku.

Piawai mengetuk hati para pembaca dengan kalimat-kalimat yang powerful dan dengan kemampuannya menciptakan tren dan topik hangat, besar kemungkinan Kartini di abad 21 akan mempunyai karir sebagai aktivis media sosial, dan juga social media specialist. Di samping pekerjaannya sehari-hari, Kartini juga akan menjadi seorang selebtwit dan blogger yang aktif membahas masalah perempuan dan anak-anak serta kesejahteraan rakyat Indonesia.

qc-jkt-2019

Kira-kira gaji Kartini berapa, ya? Cek di sini.

2. Raden Dewi Sartika


Minat Dewi Sartika pada dunia pendidikan dapat dilihat sejak Dewi Sartika masih muda, dari kegemarannya mengajari anak-anak pembantu. Cita-cita mendirikan sekolah khusus wanita sudah ada sejak usia belia, namun baru terealisasikan pada 16 Januari 1904 ketika beliau mendirikan Sakola Istri yang kemudian tersebar di berbagai lokasi di Pasunduan.

Dewi Sartika di tahun 2016 tentu akan malang melintang di dunia pendidikan sebagai kaum akademisi, tapi ambisi dan aspirasi beliau mungkin tidak akan berhenti hanya menjadi seorang guru, dosen, atau membuka sekolah. Giat berorganisasi dan pilihan untuk memulai karir di Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan akan memberi beliau kesempatan berdekatan dengan dunia politik. Siapa tahu, mungkin beberapa tahun lagi, Dewi Sartika akan mencapai career goal sebagai Menteri Pendidikan.

Kira-kira gaji Dewi Sartika berapa, ya? Cek di sini.



Berlangganan Artikel Kami

Dapatkan tips karir terbaru dengan berlangganan artikel kami

Related Posts

Read This Next