Profesi Dokter: Kalau Mau Cepat Kaya Jangan Jadi Dokter | Qerja

Profesi Dokter: Kalau Mau Cepat Kaya Jangan Jadi Dokter

Qerja, 3 years ago
Profesi Dokter: Kalau Mau Cepat Kaya Jangan Jadi Dokter

Hanya ada sekitar 100 orang dokter spesialis bedah jantung di Indonesia yang berpenduduk 240 juta orang. Salah satunya adalah dr. Wirya Ayu Graha, spesialis Bedah Torak Kardio Vaskular di Rumah Sakit Harapan Kita.

Menurut Dr. Wirya Ayu Graha jumlah dokter yang hanya sekitar 100 itu tentu tidak mencukupi. “Karena yang membutuhkan operasi jantung banyak. Contohnya di rumah sakit Harapan Kita, untuk bedah jantung anak antrinya bisa sampai setahun, yang untuk dewasa antrinya enam bulan,” kata dia. Pasalnya, dalam sehari seorang dokter hanya bisa melakukan operasi paling banyak dua kali.

Dokter yang lahir 2 November 1988 itu menjelaskan bahwa kondisi ini membuat hari-harinya sangat sibuk. Dia bahkan tidak memiliki ‘kemewahan’ ritual pagi seperti kebanyakan orang. Dia bangun jam lima setiap pagi, setengah enam sudah sampai RS, langsung mengunjungi para pasien. Selanjutnya ia akan sibuk dengan operasi yang bisa berlangsung hingga pukul tujuh malam.

Ilmu Bedah Toraks Kardio Vaskular adalah salah satu cabang kedokteran spesialisasi yang menangani kelainan-kelainan dan penyakit yang mengenai sistem organ pernapasan (saluran pernapasan, paru-paru, dinding dada, dsb). Pun sistem pompa jantung, dan sistem sirkulasi darah.

Tantangan yang harus dihadapi bahkan sebelum menjadi dokter

Dokter Wirya mengakui bahwa jurusan kedokteran bukan pilihannya. Awalnya ia ingin mendalami teknik kimia. Namun orangtuanya ingin ia menjadi dokter. “Saya nurut saja untuk menyenangkan mereka,” kata dia.

Lahir di di Belitang, dr Wirya menghabiskan masa kecil di kota kelahirannya yang berjarak lima jam perjalanan dari Palembang hingga tamat SMP. Lalu pindah ke kota Palembang untuk melanjutkan ke SMA. “Kemudian saya diterima di beberapa universitas, dan pilihan jatuh ke Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,” ujarnya.

Namun setelah tahun ke dua di kedokteran ia mulai ragu. “Kuliah kedokteran itu susah dan berat. Saya hampir memutuskan untuk berhenti,” kata dia.

Diskusi panjang dengan orangtuanya, menyampaikan semua unek-unek yang dipendam, akhirnya memantapkan hatinya untuk menuntaskan pendidikan dan menjadi dokter.

“Yang paling saya ingat dari pembicaraan kami saat berkendara lima jam dari Palembang ke Belitang adalah kata-kata orangtua yang bilang bahwa profesi dokter itu bukan untuk cari uang dan menjadi kaya. Tetapi itu profesi yang mengabdi untuk masyarakat.”

Kalimat itulah yang menjadi titik balik dari semua kegundahannya. “Hingga saat ini hal tersebut yang menjadi pegangan saya. Alasan kuat saya untuk menjadi dokter. Mungkin orangtua saya berhasil mem-brainwash saya,” kata dia berkelakar.

Awal karir hingga memasuki dunia bedah

Setelah meraih gelar sarjana kedokteran dari Universitas Indonesia, ia mendapatkan penugasan ke daerah dan ditempatkan di Pelabuhan Ratu, Jawa Barat. Sebab jaraknya yang tidak jauh dari Jakarta ia pun memutuskan melanjutkan kuliah S2 jurusan Manajemen Administrasi Rumah Sakit di fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

Gajinya saat itu Rp 1,2 juta per bulan.



Berlangganan Artikel Kami

Dapatkan tips karir terbaru dengan berlangganan artikel kami

Related Posts

Read This Next