Laura Saputra: Desainer Interior Harus Bermental Baja | Qerja

Laura Saputra: Desainer Interior Harus Bermental Baja

Qerja, 4 years ago
Laura Saputra: Desainer Interior Harus Bermental Baja

This industry is not as pretty as it seems. Menjadi seorang desainer interior ternyata bukan profesi yang mudah. Selain kemampuan untuk menyesuaikan gaya tata ruang dengan kebutuhan dan keinginan klien, dibutuhkan juga mental baja dan semangat yang juang tinggi. Simak pemaparan Creative Director L’Space Interior, Laura Saputra, kepada Qerja mengenai pengalamannya bekerja di industry ini. 

Let’s start with your childhood. Apakah Anda punya role model?

Role model saya adalah papa saya sendiri, dia adalah seorang pekerja keras. Dia orang yang selalu bekerja all out and very passionate. Papa saya dulu kerja sebagai direktur perusahaan furniture, melihat seseorang bekerja dengan passionnya membuat saya merasa working is so cool. Sejak kecil dia selalu menanamkan untuk selalu disiplin. Apapun itu, mau main mau apa yang penting pekerjaan harus beres.

Apa cita-cita Anda waktu masih kecil dulu?

Waktu kecil saya inginnya jadi chef. Sampai sekarang pun saya masih suka masak. Tapi sekarang masak buat saya lebih untuk pelepasan dari stres. Saya suka masakan Indonesia, tapi bumbunya banyak dan agak susah, jadi saya lebih memilih masak western food.

Apakah Anda menjadi desainer interior karena pengaruh dari orang tua?

Sebenarnya dulu, saya sering banget mengunjungi kantor Papa, bahkan sampai hari minggu pun sering diajak ke pabrik. Jadi memang saya dibesarkan di lingkungan seperti itu. Tapi kalau dibilang jadi desainer interior karena itu, sebenarnya tidak juga. Saya memang suka mendesain dan lihat ruangan bagus. Kalau menurut saya desain itu tidak hanya mempercantik ruangan, setiap sudut harus ada fungsinya. Jadi saya sering membuat build in furniture juga.

Bagaimana Anda bisa memutuskan menjadi desainer interior?

Saat saya sekolah dulu, tidak ada pelajaran yang saya suka. Ketika saya lulus sekolah saya berpikir “what am I going to do with my life?”. Saya sudah tidak bisa main-main lagi. Saya sempat ingin jadi pengacara, sampai sudah diterima di sekolah hukum. Tapi setelah saya pikir-pikir saya kurang suka berantem-berantem. Saya juga diterima juga di sekolah pariwisata, berhubungan dengan hobi saya memasak. Tapi sepertinya memang passion saya di desain interior.

Ketika Anda baru memulai karier, sebagai desainer yang baru lulus, tantangan apa yang Anda hadapi?

Saya dulu one of the best graduates from my university. Tapi ternyata begitu masuk kerja semuanya berbeda banget. Dulu ketika kuliah saya bisa membuat satu proyek 4 bulan, sekarang harus dalam waktu singkat. Jadi tantangan terbesar saya adalah saya harus mau belajar ulang.

Makanya orang jaman dulu bilang pengalaman itu penting. Memang ketika kuliah kita belajar dasarnya, tetapi pada penerapannya beda. Tidak selalu A itu A dan B itu B, kita harus bisa improvisasi. Dalam hal anggaran juga, ketika kuliah dulu tidak ada batasan anggaran, sekarang harus dipikir matang-matang. Jadi saya bersyukur bahwa saya memilih untuk kerja dulu, kalau tidak, saya rasa akan lebih sulit ke depannya.

Apakah dulu setelah selesai kuliah berniat melanjutkan sekolah?

Banyak teman saya yang langsung lanjut S2. Saya tidak bilang langsung lanjut S2 itu salah, hanya saja sebagai lulusan S2 pasti kamu berharap gaji kamu lebih tinggi dibandingkan lulusan S1. Padahal saat ini daripada saya mempekerjakan lulusan S2 yang tanpa pengalaman, lebih baik saya hire anak S1 yang punya pengalaman. Karena bagi saya pengalaman itu penting.

Sesulit apa perjalanan karier Anda selama ini? Bagaimana caranya Anda bertahan dan melewati tantangan-tantangan?

Menurut saya sih sulit-sulit tidak. Kalau dalam dunia interior desain, permasalahannya ada di trust. Orang mempercayakan rumah atau tokonya ke desainer interior. Jadi bagi saya pertama-tama saat saya mulai usaha sendiri, hal yang paling sulit adalah bagaimana orang bisa mempercayakan bahwa rumahnya akan menjadi nyaman seperti keinginannya atau tokonya akan mendatangkan pelanggan yang sesuai dengan target marketnya. Mendapatkan kepercayaan klien itu sulit, karena orang memang sulit untuk engage pada desainer interior. Jadi cari klien di awal-awal itu lumayan susah, karena memang kita harus kenal atau dapat rekomendasi dari kenalan klien.

Deskripsikan satu hari dalam hidup Laura Saputra?

I’m juggling a lot in my daily life. Saya single parents, jadi pagi saya harus mengurus anak, kemudian ngurus kerjaan, dan diri sendiri. Jadi kalau bangun pagi saya berpikir harus apa sehari ke depannya, saya mungkin malah jadi stres deh.

Percaya dengan quotes “You can have it all”? Di kerjaan oke, di keluarga oke?

Yes, positive thinking that I can have it all. Tapi pendapat orang dengan “have it all’ kan berbeda-beda ya. Kalau buat saya, saya bahagia, saya punya anak, kerjaan saya baik, orang tua saya bahagia dan sehat. I already considered it as a blessing.

Deskripsikan karakteristik desain Anda?

I’m a very intuitive designer. Saya bisa bilang kalau desain saya mencermikan apa yang klien butuhkan. Tapi kalau ditanya gaya saya sendiri, saya tidak bisa bilang gaya saya minimalis, klasik atau modern. Karena kalau dilihat sesuai company profile klien. Ada yang american classic, industrial, dll. Basically I’m an intuitive designer. Walaupun kalau yang klasik banget saya juga kurang suka, setidaknya ada sentuhan modernnya.

Paling suka desain rumah atau resto atau apa?

Setiap proyek tantangannya beda-beda. Kalau untuk retail saya suka karena sangat dinamis, perubahannya cepat dan saya bisa ‘centil’ dalam mendesain. Kalau rumah saya suka juga karena menarik mempelajari sisi hidup seseorang. Jadi susah bagi saya untuk memilih lebih suka yang mana.

Apa kualitas diri Anda yang membawa Anda hingga ke titik ini?

Intuitif dan saya mencoba mengerti klien saya. Saya mau belajar tentang klien saya dan industri yang baru.

Dari mana biasanya Anda mendapat inspirasi dan apa yang Anda lakukan jika sedang buntu?



Berlangganan Artikel Kami

Dapatkan tips karir terbaru dengan berlangganan artikel kami

Related Posts

Read This Next