Mengelola Pegawai Overqualified | Qerja

Mengelola Pegawai Overqualified

Eka Utami, 2 years ago
Mengelola Pegawai Overqualified

Pada saat membuat iklan lowongan kerja, perusahaan akan menuliskan berbagai persyaratan yang sesuai dengan job desk. Tapi, bagaimana jika ada pelamar kerja di atas rata-rata yang menginginkan pekerjaan itu. Misalnya, seorang lulusan S2 yang mengirimkan curriculum vitae untuk pekerjaan yang bisa dikerjakan oleh pegawai lukusan S1. Atau, mungkin ada seorang pegawai yang pernah berpengalaman menjadi manajer di sebuah perusahaan, mau memulai karier dari bawah dengan melamar pekerjaan sebagai staf. Apakah manajer perekrutan akan menerima mereka?

Memekerjakan pegawai yang kemampuannya di atas rata-rata rasanya bisa jadi bencana. Apakah dia akan meminta bayaran tinggi? Bagaimana kalau dia bosan dan berhenti dari pekerjaa? Bagaimana kalau dia merasa tidak puas atas pekerjaannya? Tapi, kalau Anda tahu cara mengelola pegawai yang overqualified, maka tidak perlu khawatir. Menurut penelitian dari Academy of Management Journal yang dikutip Fastcompany.com, ternyata memekerjakan pegawai overqualified bisa jadi win-win solution bagi karyawan dan perusahaan.

Professor manajement dan psikologi pada Jones Graduate School of Business di Rice University, Jing Zhou dan rekan-rekannya melakukan penelitian tentang pegawai overqualified. Pertama-tama, para peneliti bertanya pada sekelompok guru untuk menilai level kualifikasi diri sendiri dalam skala satu sampai tujuh. Sebagian peserta menili kemampuannya lima sampai tujuh. Artinya, mereka merasa overqualified atas pekerjaannya.

Selain itu, peneliti juga meminta pengawas guru untuk menilai kinerja bawahannya. Ternyata, pengawas guru memberi nilai tinggi pada guru yang overqualified. Artinya, para pengawas puas atas kinerja guru-guru yang memang kemampuannya di atas rata-rata.

Setelah itu, Zhou juga melakukan penelitian di pabrik mainan. Dia memberikan tes kepada teknisi pabrik untuk menilai level kualifikasi diri sendiri. Peserta tes diberikan waktu selama 30 menit untuk mendesain dan merakit mainan menggunakan maksimal 30 komponen. Pekerja yang menilai dirinya overqualified menggunakan komponen lebih banyak dan lebih kreatif.

Berdasarkan kedua penelitian, Zhou dan rekan-rekannya menemukan fakta bahwa pegawai overqualified mampu melewati batas-batas pekerjaan. Mereka bermain dengan ide baru sehingga menghasilkan pekerjaan yang lebih baik. Para guru yang overqualified, misalnya, mau mengambil inisiatif untuk mengimplementasikan cara pengajaran baru dan membuka kelas khusus. Sementara teknisi pabrik mainan membuat mainan yang lebih unik. “Pegawai overqualified cenderung mencoba untuk melakukan hal berbeda, dan melalui proses tersebut, mereka mencoba membawa masukan yang kreatif serta menemukan cara bekerja lebih baik,” kata Zhou. Hal ini akan menguntungkan untuk manajemen. Berikut alasannya.

Mereka menyelesaikan pekerjaan lebih banyak dari yang seharusnya. Pegawai overqualified bisa mengerjakan pekerjaan lebih cepat dari yang seharusnya. Kemudian, waktu yang tersisa dapat digunakan untuk merampungkan pekerjaan lainnya. Maka, produktifitas kerja mereka menjadi lebih tinggi dari yang lain. Mereka juga akan mengumpulkan tugas-tugas sebelum batas waktu yang ditetapkan.



Berlangganan Artikel Kami

Dapatkan tips karir terbaru dengan berlangganan artikel kami

Related Posts

Read This Next