Syahreza Syahrial Bicara Industri Contact Center | Qerja

Syahreza Syahrial Bicara Industri Contact Center

Qerja, 5 years ago
Syahreza Syahrial Bicara Industri Contact Center

Perjalanan karier Syahreza Syahrial, Head of Global Contact Center Garuda Indonesia, membawa beliau menelusuri pelbagai ranah industri. Namun bila ditilik lebih jauh, beliau tidak pernah jauh dari bidang customer care dan contact center.

Latar belakang Anda adalah di dunia teknik, namun tidak lama setelah lulus, sekitar dua tahun, Bapak memilih untuk mencoba di industri lain. Apa pertimbangan Anda saat itu?

Jadi saya membagi-bagi periode hidup saya setelah lulus kuliah menjadi periode lima tahun: lima tahun pertama, lima tahun kedua, ketiga, sampai nanti keenam, rentangnya 30 tahun. Target saya di lima tahun pertama itu saya harus menentukan saya mau menjadi apa, nanti saya akan dikenal menjadi apa. Kalau menunggu sampai lima tahun kedua sudah telat; saya keburu dicap bukan siapa-siapa karena belum memilih. Karena itu dalam dua tahun, saya berani memutuskan masuk ke dunia service. Mulai dari 1995 sampai sekarang, alhamdulillah saya sudah cukup dikenal sebagai praktisi di dunia ini. Saya juga terlibat aktif di pendirian asosiasi contact center dan sempat jadi pengurusnya. Ini semua adalah hasil keputusan saya di tahun 95 itu.

Wah, mekanisme lima tahun itu luar biasa, ya.

Ya, karena kalau nggak begitu, susah. Kalau saya membandingkan diri dengan seorang teman yang stay dan hanya zig-zag di satu perusahaan, tapi setelah 20 tahun dia keluar pindah kuadran, dia malah kaget. Sementara kalau saya cukup kaya di kemampuan adaptasi karena lintas industri yang bisa dibilang “loncat-loncat” tadi. Resistensi internal dari level middle up itu luar biasa kalau kita masuk organisasi baru dan kemampuan kita untuk beradaptasi dituntut. Kalau saya tidak melakukan perencanaan lima tahun tadi, saya nggak akan punya arah, karena kita harus evaluasi setiap saat dan melakukan modifikasi kalau perlu dimodifikasi.

Bapak sedikit pun tidak galau saat itu?

Nggak ada kegalauan sama sekali. Yang saya cari saat itu adalah kehidupan yang normal, pekerjaan jam 8-5 supaya punya waktu untuk ibu saya. Saya punya tekad setahun dua tahun bekerja untuk membantu ibu saya berangkat ke Mekkah. Itu yang memotivasi saya untuk mencari peluang itu. Pada saat itu saya melihat ada kesempatan, jadi saya ambil. Saya mengikuti nasehat Kahlil Gibran sebetulnya (chuckles). Kahlil Gibran membahas tentang kesempurnaan dengan gurunya, lalu disarankan gurunya untuk berjalan di taman bunga dan mencari bunga yang paling sempurna untuk dipetik dengan syarat nggak boleh mundur. Kahlil Gibran menemukan bunga yang dia anggap sempurna, tapi tidak dia petik dan melanjutkan pencarian dan sampai di ujung, dia tidak menemukan yang lebih sempurna dari bunga yang pertama. Ketika ia mengadu ke gurunya, gurunya berkata makanya jangan mengejar kesempurnaan, tapi kita yang harus melengkapi kesempurnaan itu. Jadi kalau saya melihat begitu ada peluang, jangan disia-siakan, karena kita tidak pernah tahu apakah itu yang terbaik untuk kita.

Sehubungan dengan itu, Bapak masih punya aspirasi yang ingin Anda capai?

Dari pengalaman 20 tahun lalu itu sampai sekarang, saya sudah berubah industri dari banking, telco, sekarang airline, tapi pekerjaan saya relatif sama. Kemana pun saya berpindah, profesi saya selalu ini karena ini pilihan saya dan saya ingin dikenal sebagai orang yang expert di dunia ini. Sekarang saya sudah di periode lima tahun yang kelima, sudah mulai masuk tahap akhir dalam rencana jangka panjang saya. Di tahap akhir ini saya tidak ingin hanya menjadi praktisi. Saya sekarang ingin dikenal sebagai orang yang mewarnai dunia contact center dengan ide-ide saya. Ini sudah saya rintis dari beberapa tahun lalu dan sekarang masih dalam proses. Semoga dalam setahun, dua tahun ke depan bisa tercapai.

Saat switching companies, apa saja pertimbangan Bapak?



Berlangganan Artikel Kami

Dapatkan tips karir terbaru dengan berlangganan artikel kami

Related Posts

Read This Next