Haryati Lawidjaja: Perjalanan Karier Dipandu Passion | Qerja

Haryati Lawidjaja: Perjalanan Karier Dipandu Passion

Qerja, 3 years ago
Haryati Lawidjaja: Perjalanan Karier Dipandu Passion

Haryati Lawidjaja memulai karier di sektor akuntansi dan konsultasi, lalu gabungan dari rasa ingin tahu dan passion untuk mengejar pengalaman baru mengantarkannya untuk bergelut di bidang teknologi selama beberapa tahun. Saat ini sebagai Country Director Adknowledge Asia Pacific, ia kembali memulai petualangan baru di dunia digital marketing dan advertising.
Seperti apa masa kecil Anda? Adakah kebiasaan dan didikan yang sangat berpengaruh di masa kecil Anda sampai saat ini?

Saya anak sulung dan ibu saya juga bekerja, jadi biasanya saya dan saudara-saudara saya saling menjaga. Ibaratnya saya diberi tanggung jawab untuk me-manage mereka. Supaya mereka mau mendengarkan saya, saya harus ikut turun tangan dan memberi contoh. Saya rasa ini sangat berpengaruh dalam hidup saya, bahwa saya harus memenuhi tanggung jawab.

Waktu kecil saya cukup kompetitif, misalnya kalau nilai saya nggak 10, rasanya kurang sreg. Keluarga saya tergolong tradisional sekali pemikirannya, masih berpikir kalau anak cowok yang akan berusaha, akan sukses, tapi saya berhasil mematahkan pemikiran itu, ya karena saya agak kompetitif itu.

Anda kuliah di akuntansi. Seberapa besar kontribusi latar belakang pendidikan terhadap kesuksesan karir? 

Karier saya bermula di bidang akuntansi di Arthur Andersen dan saya bertemu banyak klien dari berbagai industri di sana. Setiap bisnis di mana pun pasti butuh dasar-dasar yang saya pelajari saat kuliah. Latar belakang itu juga cukup membantu karena saya mengerti aspek-aspek finansial dari suatu bisnis. Sisanya saya belajar on the job.

Bagaimana perjalanan karier Anda sebelum berlabuh di bidang ini?

Waktu masih di Arthur Andersen, saya terpapar pada klien-klien yang beragam dari telco dan mining, dan saat itu saya dapat tawaran dari keduanya. Kebetulan saya orangnya gampang bosan dan saya pikir telco industrinya lebih dinamis, jadi saya saya ikuti passion saya sampai ke XL.

Di XL awalnya saya masih di finance, di revenue assurance dan marketing project yang berhubungan dengan teknologi. Agar saya bisa bekerja dengan baik, saya harus belajar tentang industri baru ini dari para engineer. Kemudian saya dapat peluang ke Product Development. Dunia finance pun saya tinggalkan karena saya tertarik untuk belajar lebih banyak mengenai dunia teknologi.

Saat pindah ke 3 pun saya mulai dari nol, mengurus business and services, di sektor digital content. Kenapa saya pindah ke sana? Karena mereka baru launch dan perusahaannya belum sebesar saat ini, tapi saya punya kesempatan untuk belajar jauh lebih banyak.

Di Nokia saya juga berganti-ganti peran dan saya selalu mengejar sesuatu yang baru untuk dipelajari, dari awalnya digital services, portfolio strategy, kemudian developer ecosystem untuk mengumpulkan developer Nokia di Indonesia. Ketika di sini, saya juga dapat tawaran untuk ke Finlandia mengurus emerging market dan bekerja sama dengan orang-orang R&D.

Bagaimana Anda bisa menemukan passion di dunia Telco dan akhirnya jatuh cinta dengan Marketing dan Advertising

Saya rasa yang membantu saya sadar bahwa ini adalah passion adalah saya selalu terbuka untuk mencoba hal baru. Saya tidak akan menolak sebelum mencobanya. Sepanjang perjalanan karier saya, kalau ditawari pekerjaan di lini lain, saya juga akan menganggapnya sebagai peluang belajar. Di awal-awal, saya juga tidak tahu apa yang benar-benar saya sukai, tapi saat saya turun tangan langsung dan bekerja, saya sadar kalau saya cukup menikmati bidang itu. Kalau ada peluang baru, ya coba saja. Paling tidak saya memperoleh pengalaman baru karenanya.

Saya tidak pernah terlalu memikirkan soal gaji. Saya selalu memilih yang sesuai passion karena tidak selamanya hal-hal akan terjadi sesuai harapan. kita Tapi kalau punya passion, walaupun susah, saya akan terus maju.



Berlangganan Artikel Kami

Dapatkan tips karir terbaru dengan berlangganan artikel kami

Related Posts

Read This Next