CFO Siloam Hospital Soal Industri Kesehatan Swasta

Oleh Steffi Teowira, 5 years ago

Walau belum setahun menjabat sebagai CFO dari Siloam Hospitals Group, Budi Legowo paham betul kalau masih ada aspek-aspek dari industri pelayanan masyarakat yang kadang diwarnai kontroversi. Mari simak sudut pandang Budi Legowo yang sangat menarik untuk bicara tentang seluk beluk sektor ini.

Menurut Anda, bagaimana agar rumah sakit swasta dapat menyeimbangkan status sebagai penyedia layanan kesehatan masyarakat dan perusahaan yang bergantung pada profit?

Rumah sakit swasta itu juga PT, jadi kami harus meningkatkan value melalui profit. Tapi profit itu ada optimasinya. Optimasi tidak sama dengan memaksimalkan profit, tapi juga sustainability. Kami tidak ingin mengejar satu kali profit besar tapi dituntut karena ngawur, mencemari lingkungan, atau melakukan tindak pidana. Kami ingin profit yang berkesinambungan. Dari segi ekonomi maupun segi moral ini masuk akal.

Untuk mencapai ini, suatu korporat harus bisa mengkomunikasikan visinya terhadap pegawai dan pasar target, lalu menyesuaikan produk dengan kebutuhan pasar. Dengan begitu, kita baru bisa memastikan kondisi finansial yang sehat.

Rumah sakit swasta tidak dapat bantuan dari pemerintah sehingga mau tidak mau, pertumbuhannya harus dibiayai profit. Agar pertumbuhan ini sustainable, kita harus disiplin dalam meregulasi profit. Saat keuntungan naik, biaya yang kita keluarkan juga tidak bisa ikut naik sesuai pemasukan. Sehebat-hebatnya sebuah perusahaan, revenue tidak bisa sepenuhnya dikontrol, tapi perusahaan rata-rata bisa mengontrol pengeluarannya. Profit itu dasarnya revenue dikurangi cost. Sisa profit ini yang digunakan untuk membiayai perkembangan.

Kedisiplinan inilah yang akan memastikan adanya perkembangan yang sustainable.

Menurut  Anda, apakah diperlukan regulasi lebih ketat dari pemerintah terhadap sektor bisnis ini?

Regulasi minimum saja saya rasa sudah cukup. Kalau kualitas rumah sakitnya jelek atau harganya terlalu mahal, konsumer juga tidak akan datang. Namanya juga kompetisi bisnis. Masyarakat zaman sekarang dengan kemajuan informasi teknologi juga sudah lebih cermat dalam memilih.

Dari segi finansial, bagaimana pandangan Anda terhadap program BPJS?

BPJS secara konsep itu bagus karena memberi akses bagi mereka yang tidak mampu, tapi juga merupakan pemborosan besar karena banyak pemegang BPJS yang tidak butuh dan tidak menggunakannya. Mereka butuh pelayanan lain yang lebih dari BPJS.

Kalau ingin efisien, selain menawarkan BPJS, pemerintah bisa menyediakan layanan lain yang lebih dibutuhkan lapisan masyarakat ini. Dengan begitu, rumah sakit swasta juga bisa memilih menawarkan program layanan sesuai dengan target pasar masing-masing.

Bagaimana mengubah persepsi masyarakat umum bahwa semakin mahal biaya berobat, maka kualitas pengobatan yang diperoleh juga semakin baik?

Menurut saya itu hanya berlaku dalam hal brand awareness, tapi tidak berlaku ketika kita benar-benar sudah sakit keras. Kalau konsumer ditanya brand apa yang paling terkenal, mungkin mereka bisa menyebutkan langsung. Tapi ketika tiba saatnya untuk memilih, Saya percaya kalau konsumen semakin lama semakin cerdas. Tentu saja bukan berarti mereka akan pergi ke rumah sakit yang menyediakan layanan yang jelek, namun mereka bisa mengukur sendiri pertimbangannya saat memilih pemberi layanan terbaik.

Apa langkah selanjutnya di karier Anda, terutama dengan Siloam?

Saat ini saya merasa masih banyak area baru yang bisa dieksplor. Ketika saya merasa sudah tidak bisa bertumbuh, baik itu secara professional atau pribadi, mungkin saya bisa melihat ke lain. Tapi Lippo kan, besar dan peluangnya masih banyak sekali.

Anda mengepalai sektor finansial dari grup yang  menaungi  puluhan rumah sakit di seluruh Indonesia. Bagaimana Anda memastikan agar setiap rumah sakit di berbagai kota tersebut mencapai standar dan memiliki visi yang selaras dengan yang Anda miliki?

Pertama-tama, yang perlu menyatukan visi itu tugas CEO. Tapi sebagai CFO, saya mendukung CEO dengan memberi indikasi dan informasi situasi finansial yang mencerminkan arah visi ini. Misalnya ada rumah sakit yang performanya bagus atau tertinggal, sehingga tidak sejalan dengan target besarnya. Saya perlu mencari tahu mengapa hal ini terjadi dan apa yang bisa dilakukan untuk menangani ketimpangan ini.

Dengan latar belakang Anda di dunia engineering, apakah Anda merasa ada kesulitan berarti mengemban posisi CFO?

Soal kesulitan, saya memang bukan akuntan atau ahli yang bersertifikasi, tapi sehari-hari saya punya tim yang bekerja sama dengan saya. Walau begitu, sebagai CFO saya harus tahu tentang setiap angka-angka finansial secara mendetail dan MBA memberi saya cukup pengetahuan dasar untuk paham garis besar arah dan motivasi setiap keputusan finansial yang harus diambil.

Kalau begitu, kualitas apa yang Anda cari ketika mempekerjakan anggota tim?

Kemauan untuk dibentuk. Kemampuan dasar tentu dibutuhkan, tapi saya merasa keinginan untuk belajar itu penting.

Mengingat latar belakang pendidikan dan karier Anda, mengapa memilih MBA dan bukan Master untuk engineering?

Ketika saya mengambil S2 itu saya sudah masuk ke UPH, jadi MBA bisa memberi impact lebih besar dan wawasan lebih luas terhadap pekerjaan saya saat itu. Kalau saya ambil master di engineering, yang akan saya dapatkan adalah pengetahuan lebih spesifik dan terspesialisasi, sementara saya sudah tidak berkarier di bidang itu lagi.

Bagaimana Anda mengatur waktu?

Saya selalu berusaha untuk melakukan tugas tersulit saya di jam-jam paling produktif dan saya itu paling produktif di pagi dan malam. Karena itu, rapat-rapat yang tidak terlalu penting saya jadwalkan di siang hari. Hampir tidak ada hari tanpa rapat karena banyak rencana yang menunggu keputusan.

Komunikasi lewat email bisa-bisa saja, tapi jenis komunikasi paling produktif itu, ya rapat. Tidak semua rapat berjalan dengan sukses; kadang masih ada saja rapat yang terlalu lama atau tidak menghasilkan poin yang dibutuhkan. Yang penting, di setiap rapat ada agenda jelas yang disetujui semua partisipan.

Bagaimana proses pemikiran Anda dalam mengambil keputusan?

Eksplorasi semua alternatif, buat pro kontranya masing-masing, lalu buat keputusan, dan segera implementasikan karena kalau tidak mengeksekusinya, kita juga tidak akan tahu apa keputusan itu sudah benar. Semakin cepat kita mempraktekkannya, semakin cepat pula kita belajar dari kesalahan.

Aspek-aspek apa saja yang Anda sukai dari pekerjaan Anda?

Karena masih baru, semua ini rasanya seperti tantangan untuk saya. Saya selalu tertarik dengan hal-hal baru, terutama jika sebetulnya itu bukan bidang saya.

Bagaimana dengan yang tidak Anda sukai?

Saya merasa sehari 24 jam itu agak kurang. Idealnya satu hari itu 28 jam karena banyak hal yang perlu dilakukan.—Qerja.com


Selanjutnya

Berlangganan Artikel Kami

Dapatkan tips karir terbaru dengan berlangganan artikel kami



Read This Next



Tweets
Ikuti Kami