Wakil Rektor Binus Soal Daya Saing Pendidikan Tinggi | Qerja

Wakil Rektor Binus Soal Daya Saing Pendidikan Tinggi

Qerja, 3 years ago
Wakil Rektor Binus Soal Daya Saing Pendidikan Tinggi

Berpuluh-puluh tahun malang melintang di dunia pendidikan luar maupun dalam negeri, Andreas Chang, Wakil Rektor Universitas Binus, telah melihat sendiri perkembangan pendidikan swasta di Indonesia. Dari sejak kandidat universitas negeri merajai pasaran tenaga kerja, hingga lulusan swasta ikut bersaing. Pengalamannya yang kaya di sektor ini memberi perspektif menarik untuk edisi Star Leader kali ini.

Menurut Andreas, universitas di Indonesia perlu meningkatkan daya saingnya di tingkat internasional. Salah satu caranya, adalah dengan akreditasi internasional.

Apa tujuan utama akreditasi internasional?

Tujuan utamanya untuk menarik mahasiswa asing agar kuliah di Indonesia. Istilahnya kita mengekspor jasa dalam bentuk pendidikan. Daripada hanya mahasiswa Indonesia saja yang melulu bersekolah ke luar negeri, mengapa tidak menarik mahasiswa asing untuk bersekolah di Indonesia? Dengan adanya akreditasi internasional ini, Indonesia akan semakin naik daun di mata internasional dari segi kualitas pendidikan dan ekonomi Indonesia pun akan menikmati keuntungan.

Selain persoalan akreditasi, apa lagi halangan Indonesia dalam menjadi tujuan pendidikan internasional?

Saat ini Indonesia termasuk negara yang belum punya visa pendidikan. Yang kita punya hanya terbatas visa turis, visa kunjungan sosial, tapi tidak ada visa khusus untuk siswa yang memberi hak-hak dan batasan jelas bagi mahasiswa internasional. Jadi hal ini juga butuh perhatian dari pemerintah Indonesia.

Menurut Anda apakah perlu ada regulasi lebih ketat dari pemerintah mengenai kualitas pendidikan di universitas?

Ada dua pendapat mengenai hal ini. Ada yang beranggapan pemerintah jangan turut campur karena masyarakat bisa memilah sendiri. Kalau universitas bagus, secara otomatis juga akan menarik banyak siswa dan meningkatkan kualitas agar bisa bertahan di antara saingan. Ada juga anggapan lain bahwa pemerintah harus turun tangan agar universitas tidak bisa terlalu sembarangan.

Saya sendiri merasa harus ada keseimbangan dari kedua pandangan tersebut jika hanya berpegang pada mekanisme pasar, masyarakat bisa diperdaya dengan iklan, misalnya dengan iming-iming ranking universitas, padahal ranking tidak selalu merefleksikan kualitas.

Di sisi lain, akreditasi itu penting, hanya saja proses akreditasi itu cenderung hanya menilai performa universitas di satu hari penilaian tersebut, alih-alih penilaian yang konsisten. Di aspek ini, pemerintah perlu lebih mencurahkan perhatian. Selain akreditasi nasional, Binus juga memiliki akreditasi internasional untuk beberapa jurusan.

Menurut Anda, apa yang bisa dilakukan universitas swasta seperti Binus untuk meningkatkan minat calon murid terhadap pendidikan tinggi swasta, apalagi jika dibandingkan dengan universitas negeri?

Masyarakat memang masih memandang universitas negeri sebagai unggulan dan sebenarnya ada benarnya untuk hal-hal tertentu. Tapi secara objektif, banyak hal yang universitas swasta juga tidak kalah. Di Binus, misalnya, kita memastikan mahasiswa yang lulus wajib menguasai sejumlah soft skill.

Hard skill menandakan kalau mahasiswa tersebut memang ahli di bidang studinya dan ini disimbolkan dengan IPK yang tinggi. Walau begitu, kita tahu kalau IPK tinggi sama sekali tidak memastikan kesuksesan di tempat kerja apalagi jika tidak diimbangi soft skill. Misalnya soal kejujuran. Di Binus, kejujuran dipupuk dengan sanksi keras untuk mahasiswa yang menyontek. 

Binus memastikan mahasiswanya punya soft skill yang penting seperti kemampuan komunikasi, kerja sama dengan anggota tim, kerja keras, dan keahlian-keahlian lainnya seperti kemampuan menggunakan power point dan melakukan presentasi dengan baik.



Berlangganan Artikel Kami

Dapatkan tips karir terbaru dengan berlangganan artikel kami

Related Posts

Read This Next