Wakil Rektor Binus Soal Daya Saing Pendidikan Tinggi

Oleh Steffi Teowira, 5 years ago
Binus memastikan mahasiswanya punya soft skill yang penting seperti kemampuan komunikasi, kerja sama dengan anggota tim, kerja keras, dan keahlian-keahlian lainnya seperti kemampuan menggunakan power point dan melakukan presentasi dengan baik.

Saya rasa sehebat apapun kita mengiklankan universitas, kalau tidak diimbangi kualitas, pendaftaran juga tidak akan diramaikan kandidat, jadi intinya, kualitas dan pelayanan harus bagus agar mampu bersaing.

Menurut Anda bagaimana agar universitas swasta dapat menjadi penyedia pendidikan bagi masyarakat dari berbagai lapisan dan bukan hanya kelas-kelas masyarakat tertentu?

Hal ini memang adalah sebuah fakta di Indonesia dan benar-benar sangat disayangkan. Dari empat hingga lima siswa lulusan SMA, SMEA, SMK, dan Madrasah, bisa jadi hanya satu orang yang bisa melanjutkan ke bangku kuliah.

Untuk hal ini, Binus menyediakan beasiswa dengan dana milyaran rupiah bagi mahasiswa berprestasi yang kurang mampu. Pilihan lainnya Binus mengajak mereka untuk bekerja sambil kuliah sebagai asisten lab, staf pelayanan mahasiwa, atau di departemen marketing. Mereka yang bekerja di sana tidak semua hanya karena masalah finansial, tapi juga untuk menambah pengalaman dan belajar soft skill yang dibutuhkan.

Bagaimana pendapat Anda tentang persepsi bahwa lulusan perguruan tinggi swasta kurang diminati perusahaan dibanding lulusan perguruan tinggi negeri? Bagaimana mengubah fenomena dan persepsi ini, baik di mata calon siswa maupun rekruiter?

Perguruan tinggi swasta jumlahnya ada 4000 lebih, jauh lebih banyak dari universitas negeri. Jadi pemerintah seharusnya lebih memperhatikan perkembangan universitas swasta. Tapi masalahnya, di beberapa perusahaan milik negara, di BUMN, mereka lebih mengutamakan kandidat lulusan universitas negeri. Perusahaan-perusahaan pun jadinya mengikuti jejak ini, sehingga banyak mahasiswa memilih masuk universitas negeri karena merasa lebih gampang mendapat kerja.

Sekarang perlahan-lahan, banyak perusahaan yang mulai menyadari kalau kualitas kandidat dari universitas swasta juga tidak kalah. Kita mencoba mengatasinya dengan bekerja sama erat dengan perusahaan-perusahaan, sehingga mereka bisa lebih mengenal kualitas lulusan kita. Jadi tidak sedikit mahasiswa yang sudah direkrut bahkan sebelum lulus dan banyak juga lulusan Binus yang bekerja di luar negeri.

Persepsi lainnya adalah karier di dunia pendidikan kurang menguntungkan secara finansial. Apa pendapat Anda terhadap mereka yang ragu untuk berkarier di sektor pendidikan karena alasan ini?

Itu dulu memang terjadi, tapi kondisi sekarang sudah membaik. Sekarang pemerintah juga memberi insentif finansial bagi dosen yang sudah bersertifikasi. Semakin tinggi jenjang akademis seorang dosen, semakin besar kompensasi yang bisa didapatkan karena kalau jenjang jabatannya tinggi, berarti kualitasnya sebagai akademisi juga baik.

Apakah Anda merasa akan ada perubahan signifikan saat mengajar generasi milenial jika dibanding dengan generasi sebelumnya?

Cara belajar dan menangkap informasi generasi ini berbeda, tapi sebetulnya saya juga belajar dari mereka. Misalnya dulu sebagai dosen saya bisa meminta mereka agar tidak bermain hp karena kita tidak ingin mereka menyalahgunakan kebebasan itu. Tapi sekarang mereka sambil mendengarkan kuliah sambil mengecek informasi yang mereka dapatkan, dan kadang mereka melakukan counter terhadap bahan ajaran.

Ada beberapa hal juga perlu mereka pelajari, seperti kedisiplinan dan cara belajar yang proaktif, tapi sikap seorang dosen sekarang juga harus berbeda dan tidak bisa mengajar seperti dulu lagi. Material ajaran dan cara mengajar untuk generasi ini juga perlu diperbaharui.—Qerja.com

Foto: Binus TV


Sebelumnya

Berlangganan Artikel Kami

Dapatkan tips karir terbaru dengan berlangganan artikel kami



Read This Next



Tweets
Ikuti Kami