7 Cara Resign: Dari Baik-Baik Hingga “Kabur” | Qerja

7 Cara Resign: Dari Baik-Baik Hingga “Kabur”

Qerja, 3 years ago
7 Cara Resign: Dari Baik-Baik Hingga “Kabur”

Setiap hari pasti ada saja pegawai yang memutuskan berhenti kerja dari perusahaan. Menurut situs hrb.org,angka kejadian pengunduran diri pegawai di perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat dan Eropa Barat masih di bawah 10 persen. Namun, di beberapa negara Asia, jumlah pegawai yang resign dari perusahaan per hari lebih dari 10 persen.

Fenomena ini menarik perhatian para peneliti. Mereka mencoba menelaah lebih jauh perilaku pegawai saat berhenti kerja. Apakah kepergian seorang karyawan akan menimbulkan dampak positif atau negatif bagi perusahaan? Untuk itu, peneliti bertanya pada 300 pegawai yang telah resign dan 200 manajer yang ditinggalkan oleh bawahannya. Berikut tujuh cara berhenti kerja berdasarkan hasil penelitian yang dilansir pada situs hbr.org.

Berhenti kerja sesuai aturan

Kebanyakan pegawai yang disurvei mengaku keluar dari perusahaan dengan mengikuti petunjuk buku perusahaan. Pertama-tama, mereka bicara dengan manajernya untuk menjelaskan alasan pengunduran diri. Setelah surat resign resmi tiba di meja bos dan divisi sumber daya manusia, pegawai tersebut tidak langsung berhenti. Mereka akan tetap bekerja setiap hari selama dua pekan hingga satu bulan sesuai aturan perusahaan. Dengan begitu, akan terjadi proses transisi kerja yang mulus. Manajer bisa mengatur strategi pemindahan beban tugas yang ditinggalkan pekerja yang resign.

Memberikan apresiasi terhadap perusahaan

Pegawai yang akan resign tidak selalu menganggap perusahaan yang akan ditinggalkan sebagai tempat kerja yang buruk. Bagaimanapun pegawai itu pernah menimba ilmu dan mendapat pengalaman kerja di sana. Sekitar 9 persen pegawai yang disurvei memilih cara pergi yang baik dengan mengungkapkan rasa terima kasih. Mereka bahkan bersedia membantu dalam masa transisi kerja.

In the loop

Ketika kondisi kerja tidak sesuai harapan, seseorang akan resah dan berpikir untuk meninggalkan perusahaan. Sebanyak 8 persen pegawai yang disurvei mengaku menyampaikan hasil kontemplasi ini kepada atasannya sebelum mengajukan surat pengunduran diri. Setelah pembicaraan tersebut, kedua pihak mengambil “ancang-ancang”: pegawai mencari pekerjaan baru, sementara manajer mengatur persiapan organisasi sebelum pegawai tersebut benar-benar keluar.

Mematuhi aturan ala kadarnya

Terkadang seorang pegawai sudah merasa “gerah” bekerja di sebuah perusahaan. Maka, dia hanya berpikir untuk buru-buru resign saja.  Sekitar 29 persen responden pegawai mengaku berhenti kerja sesuai aturan. Namun mereka mengikuti prosedur dengan menyerahkan surat pengunduran diri dan memenuhi persyaratan lainnya. Mereka tak merasa perlu menjelaskan alasan pengunduran diri secara detail kepada manajer.



Berlangganan Artikel Kami

Dapatkan tips karir terbaru dengan berlangganan artikel kami

Related Posts

Read This Next