Dari Mengajar Pengungsi Hingga Jadi Wakil Rektor Binus | Qerja

Dari Mengajar Pengungsi Hingga Jadi Wakil Rektor Binus

Qerja, 3 years ago
Dari Mengajar Pengungsi Hingga Jadi Wakil Rektor Binus

Andreas Chang bisa dibilang telah mendedikasikan hidupnya untuk berkarier di dunia pendidikan dengan pengalaman puluhan tahun di dunia tersebut. Dia pernah mengajar pengungsi Vietnam, jadi dosen di Malaysia, membuka usaha mental aritmatika hingga jadi Wakil Rektor Binus.

Naik turun perjalanan karier wakil rektor Universitas Binus ini pun bisa Anda jadikan inspirasi dalam menjalani keseharian Anda.

Ketika masih kecil, apakah Anda punya role model?

Role model saya adalah orangtua dan salah satu guru saya. Orangtua karena mereka suka membaca dan belajar, jadi saya meniru saja. Kalau guru saya, dari cara beliau bicara dan berjalan juga saya jadikan teladan.

Apakah ada kebiasaan atau nasihat yang ditanamkan orang tua atau guru yang membentuk pribadi Anda saat ini?

Yang sering memberi nasehat itu nenek karena beliau yang banyak mengurus saya waktu kecil. Beliau lebih sering memberi ucapan bijak dalam bahasa Mandarin yang sampai sekarang membekas, misalnya “Menggambar harimau hanya bisa menggambar kulitnya, tapi tidak bisa menggambar tulangnya”, artinya kalau mengenal seseorang, kita terbatas hanya bisa mengenal luarnya saja, belum tentu bisa mengenal isi hatinya.

Apa cita-cita Anda ketika beranjak dewasa?

Awalnya saya ingin menjadi ahli nuklir karena saat itu profesi itu tergolong seksi. Tapi karena tidak punya biaya untuk masuk SMA, saya disarankan ayah untuk masuk SMEA saja karena lebih murah. Sempat kemudian terpikir untuk menjadi ahli ekonomi, tapi saya kemudian mendapat beasiswa ke perguruan tinggi di Yogyakarta untuk belajar bahasa Inggris.

Saya kemudian berkesempatan untuk meneruskan S2 ke Australia, tapi karena perlu berhemat, saya menjalani separuh periode belajarnya di Yogyakarta terlebih dulu, baru sisanya saya teruskan di Australia.

Apa saja kontribusi latar belakang pendidikan Anda pada karier Anda saat ini?

Saya beruntung karena saya sekolah di Sanata Dharma dan mempelajari pendidikan keguruan. Karier saya saat ini pun sejalan dengan latar belakang itu. Dengan menerapkan pedagogi yang saya pelajari, saya lebih mudah dekat dengan mahasiswa, terutama karena saya ditempatkan di bidang kemahasiswaan dan pengembangan komunitas. Saya memposisikan diri sebagai “ayah” mereka dan mereka pun berani diskusi dengan saya.

Apa yang membuat Anda tertarik dengan karier mengajar?

Ketika saya masih sekolah waktu kecil dulu, saya bisa dibilang termasuk murid yang menonjol dan kalau murid-murid tidak mengerti, mereka bertanya pada saya. Saya merasa senang ketika bisa membantu mengajari mereka. Dari situ saya juga semakin semangat belajar.

Bagaimana kisah karier Anda hingga menjadi wakil rektor Binus kini?

Sebetulnya saya sudah bekerja sebelum lulus. Pekerjaan pertama saya sebagai pengajar kursus Inggris. Setengah tahun kemudian saya bekerja di pulau Galang mengajari pengungsi-pengungsi dari Vietnam dan Kamboja mengenai kebudayaan Amerika karena mereka akan ditempatkan di sana.

Selepas S2 di Australia, saya membuka usaha kursus bahasa Inggris, kursus komputer bersama teman-teman. Tapi baru setahun berjalan, terjadi penjarahan di Jakarta pada kerusuhan tahun 1998. Setelah itu, saya pindah ke Malaysia menjadi dosen selama satu semester, kemudian saya kembali lagi ke Indonesia menjadi pengusaha di bidang mental aritmetika.

Saya sempat juga bekerja sama dengan beberapa teman untuk mendirikan INTI College di Indonesia. Setelah itu, saya bekerja sebagai karyawan di Universitas Parahyangan. Beberapa saat sebelum keluar, ada teman yang menawarkan peluang kerja di Binus sebagai dekan. Setahun kemudian, saya diangkat sebagai wakil rektor.

Dalam naik turunnya perjalanan karier Anda, apa pertimbangan Anda tiap memutuskan untuk memulai atau keluar dari satu jalur karier?

Beberapa kali saya harus melepas satu jalan karier karena saya punya sejenis idealisme terkait karier. Pertama-tama saya tentu butuh penghasilan, tapi saya rasa ada yang lebih ideal dari hanya sekedar menjadikan pekerjaan sebagai sumber penghasilan. Idealnya dengan bekerja, saya juga bisa memberi sumbangsih pada perusahaan dan juga masyarakat sekitar. Jika karier saya bertentangan dengan idealisme saya ini, bisa terjadi konflik, jadi lebih baik saya keluar.

Perusahaan membayar kita agar kita bisa memberi kontribusi yang jelas, jadi pertanyaan paling penting yang perlu ditanyakan seorang pegawai pada dirinya sendiri adalah “Untuk apa saya berada di sini?”. Untuk saya sendiri, untuk apa saya menjadi seorang wakil rektor jika saya tidak bisa memberi sumbangsih pada Binus?



Berlangganan Artikel Kami

Dapatkan tips karir terbaru dengan berlangganan artikel kami

Related Posts

Read This Next