Belajar dari Kasus First Travel Bagi Konsumen | Qerja

Belajar dari Kasus First Travel: Melaporkan Tindakan Kriminal di Tempat Kerja

Steffi Teowira, 2 years ago
Belajar dari Kasus First Travel: Melaporkan Tindakan Kriminal di Tempat Kerja

Kasus penipuan puluhan ribu jemaah haji yang dilakukan oleh biro perjalanan First Travel masih terus berjalan dan diikuti publik. Setiap harinya, ada saja fakta mencengangkan baru: dari jumlah dana triliunan jemaah yang diserap pemilik First Travel hingga nama-nama pesohor yang pernah dikaitkan dengan agen ini.

Biro perjalanan umrah tersandung kasus penipuan

Mempekerjakan 1000 agen untuk merekrut calon jemaah, First Travel diperkirakan mengakibatkan kerugian hingga sebesar Rp550 miliar dan gagal menerbangkan lebih dari 50.000 calon jemaah.

Sebelumnya, keluhan terhadap First Travel sudah mulai bermunculan sekitar bulan Maret akhir ketika sejumlah pelanggan mempertanyakan penundaan keberangkatan, padahal sudah mendaftarkan diri sejak setahun lalu. Sejak Juli pun, kabarnya 90 persen pegawai First Travel sudah berhenti karena sistem perusahaan yang carut marut.

karir-jakarta

Penelitian terhadap First Travel ini resmi dimulai oleh pihak berwajib setelah 13 orang agen First Travel melakukan laporan pada awal Agustus. Dikabarkan bahwa para agen merasa risih karena terus dikejar oleh para calon jemaah.

Keputusan mereka inilah yang berujung ke penangkapan pemilik First Travel dan penggalian lebih lanjut.

Siapkan diri sebelum laporkan tindak kriminal

Secara teori, melaporkan tindakan kriminal yang terjadi di tempat kerja adalah sesuatu yang memang harus dilakukan oleh siapapun yang melihat atau mengetahuinya. Meski begitu, dalam prakteknya, menjadi whistleblower bukan keputusan yang diambil dengan mudah.

Di satu sisi, ada beban moral tersendiri jika tahu Anda terlibat tindakan tak etis yang merugikan banyak orang. Namun di sisi lain, risiko kehliangan kerja bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele. Bahkan jika tidak dipecat, pelapor biasanya diperlakukan berbeda dalam perusahaan, dari dilangkahi untuk promosi hingga diasingkan rekan kerja lain.

Jika Anda memutuskan untuk melaporkan tindak kriminal yang terjadi di tempat kerja Anda, ada beberapa langkah yang perlu Anda pertimbangkan agar reputasi dan karier Anda cukup terjaga.

1. Kumpulkan bukti sebanyak mungkin

Sebisa mungkin, kumpulkan dokumen tertulis berupa email, catatan, atau rekaman yang bisa menjadi bukti terjadinya tindakan kriminal. Dalam sidang perkara, bukti tertulis dianggap lebih kredibel.

2. Berpegang teguh pada kompas moral

Tidak semua orang punya kompas moral yang sama. Ketika Anda memutuskan untuk melaporkan kegiatan kriminal dalam perusahaan, ada kemungkinan Anda akan mendapat nasehat berbeda dari teman atau bahkan anggota keluarga, bahkan sampai dijauhi kolega. Jika Anda sudah mantap, punya bukti lengkap, dan paham risikonya, jangan biarkan suara-suara lain menjatuhkan niat Anda.

3. Antisipasi efeknya

Sebelumnya, persiapkan diri untuk apapun yang terjadi setelah Anda melayangkan laporan, termasuk persiapan mental. Bisa jadi hanya Anda yang bersedia angkat suara dan ujungnya, keseharian Anda di tempat kerja jadi terasa tak nyaman. Sebagai langkah jaga-jaga, Anda bisa  Anda mulai mencari tempat kerja baru.

4. Minta pendapat legal

Bila punya kenalan yang ahli di bidang hukum, minta nasehatnya sebelum Anda membawa perkara ini ke hadapan publik. Pelajari juga larangan yang mungkin ada dalam kontrak kerja Anda dan konsultasikan terlebih dulu dengan kuasa hukum untuk menghindari konflik di kemudian hari.

5. Pertimbangkan metode melapor

Menuju kantor polisi memang adalah pilihan terbaik, namun jika Anda enggan karena satu alasan atau yang lain, kekuatan media untuk meraih perhatian masyarakat dan pihak berwenang juga bisa Anda manfaatkan. Anda bisa menghubungi beberapa jurnalis yang dipercaya atau bisa meminta agar laporan Anda dijadikan anonim ke situs-situs berita atau akun-akun sosial Instagram yang kredibel.

Sumber foto: Indopos.co.id



Berlangganan Artikel Kami

Dapatkan tips karir terbaru dengan berlangganan artikel kami

Related Posts

Read This Next