Saran yang Boleh Diabaikan Para Pencari Kerja | Qerja

Saran yang Boleh Diabaikan Para Pencari Kerja

Eka Utami, 2 years ago
Saran yang Boleh Diabaikan Para Pencari Kerja

Para pencari kerja yang baru lulus kuliah akan menghadapi dunia baru: dunia kerja. Mereka merasa gugup karena tidak tahu hal apa yang akan menghadang di depannya. Maka, mereka akan mencari para senior dan meminta saran agar bisa menjalani sesi wawancara kerja dengan baik. Tak cukup hanya itu, mereka juga membaca artikel dari berbagai situs kerja agar semakin percaya diri untuk menghadapi perekrut. Pokoknya, mereka akan melahap informasi apapun yang dianggap positif.

Sementara itu, pegawai yang ingin berpindah kerja juga ingin memerbaiki diri dan penghidupan. Mereka pun memelajari tips dan trik agar mendapat pekerjaan yang lebih baik. Tapi, apakah semua saran yang mereka dapatkan mesti diikuti? Apakah semua itu menjamin mereka menemukan jalur karier yang lebih bagus? Sebenarnya Anda tidak perlu mengikuti semua saran dan tips tersebut. Berikut beberapa saran yang bisa diabaikan pencari kerja seperti disarikan dari Career Builder.

Menggunakan kata kunci terlalu banyak pada resume

Mungkin Anda pernah mendengar saran agar memasukkan kata kunci dalam resume sesuai dengan syarat yang ada pada iklan lowongan kerja. Misalnya, seseorang yang melamar kerja untuk posisi staf keuangan di bank, maka akan mencantumkan kata kunci seperti “finance”, atau “perbankan”. Kemudian, Anda memoles resume agar terlihat menonjol dengan memasukkan kata kunci lain yang ada di setiap poin iklan lowongan kerja seperti “berorientasi pada detail”, “bekerja optimal”, atau “mampu bekerja di bawah tekanan”. Anda seperti menyalin kembali iklan lowongan kerja dan merombaknya dalam struktur resume.

qc-jkt-2019

Padahal, menurut Brette Rowley, CEO dan pendiri agensi personal branding Top Seed, kata kunci yang dimasukkan ke dalam resume terkadang tidak terlalu penting. Sebagian perekrut malah tidak terlalu memerhatikannya. Daripada memperkaya resume dengan kata kunci, lebih baik tuliskan bukti atau pengalaman kerja atau pengalaman organisasi sebelumnya yang menunjukkan secara tersirat bahwa Anda benar-benar bisa “bekerja optimal” atau “berorientasi pada detail”.

Perencanaan yang berlebihan

Persiapan. Perencanaan yang matang memang dibutuhkan sebelum menghadapi wawancara kerja. Hal ini akan membuat Anda percaya diri dan tampil dengan sempurna. Kemudian Anda tampil di hadapan pewawancara seperti orang berpengalaman, bisa menjawab pertanyaan dengan taktis, dan sepertinya tanpa cacat. Tapi, tahukah Anda bahwa terkadang ada hal baik dalam ketidaksempurnaan seseorang?

Pewawancara ingin kandidat datang dengan kejujuran. Jawaban pertanyaan yang sedikit meleset bisa dimaafkan. Kegugupan yang nampak bisa dimaklumi. Terkadang, perusahaan justru ingin pegawai baru yang masih murni, yang karakternya bisa “dibentuk”. Mereka mau pegawai baru yang mau mendengar saran dari senior di kantor, bukan orang yang  sombong dan merasa tahu segalanya. Sesungguhnya, kemampuan mendengar dan kerendahan hati untuk mengikuti bisa jadi keterampilan utama yang bisa mendorong Anda untuk maju.



Berlangganan Artikel Kami

Dapatkan tips karir terbaru dengan berlangganan artikel kami

Related Posts

Read This Next