7 Penyebab Fresh Graduate Susah Dapat Kerja (dan Solusinya)

Oleh Tri Susanto, 4 years ago

Lulus kuliah bukan berarti perjuangan selesai. Anda masih harus berjuang lagi untuk mendapat pekerjaan, dan ini justru lebih menantang dibanding perjuangan lulus kuliah. Maka tak heran jika salah satu keluhan utama fresh graduate selepas wisuda adalh, “Kok susah banget ya, dapat kerja?”

Kalau Anda termasuk salah satu di antaranya, simak tujuh alasan berikut ini mengapa fresh graduate sulit mendapatkan pekerjaan, berikut solusinya. 

1. Mengabaikan Kualifikasi

Banyak fresh graduate yang gagal mendapatkan pekerjaan karena menyepelekan persyaratan dan cuek saja melamar ke semua lowongan yang mereka temukan tanpa menyesuaikan dengan apa yang dibutuhkan. Padahal, jika pengalaman Anda masih nol dan Anda melamar ke perusahaan yang membutuhkan pengalaman minimal 3 tahun, atau Anda lulusan Teknik Sipil tapi melamar ke pekerjaan yang meminta kandidat dari jurusan Public Relation, tentu saja lamaran Anda akan langsung masuk tempat sampah.

Solusi: Seperti akan bertempur, Anda wajib siap dengan segala halnya. Demikian juga saat mencari pekerjaan, selain CV dan cover letter, Anda juga harus menyimak baik-baik persyaratan apa yang diajukan di lowongan, dan apakah Anda memenuhi kualifikasi tersebut. Lebih baik mengirim lamaran ke 10 lowongan di mana Anda memenuhi syarat, daripada 100 lowongan yang tidak membutuhkan Anda. 

2. Kurang Pengalaman

Memang cukup banyak perusahaan yang menerima karyawan fresh graduate, namun jumlahnya kalah banyak dengan jumlah lulusan perguruan tinggi setiap tahun. Tidak adanya pengalaman menyebabkan fresh graduate ‘kalah’ dalam persaingan bursa kerja.

Solusi: Sebenarnya hal ini bisa diakali dengan banyak melakukan internships alias magang saat masih kuliah, sehingga ada sedikit pengalaman kerja yang bisa dicantumkan di dalam CV. Jika sudah telanjur, Anda juga bisa mengambil pekerjaan internship berbayar, segera setelah lulus kuliah. Satu tahun saja cukup, untuk memperkaya CV Anda dengan pengalaman sekaligus sebagai ajang Anda belajar.

Lagi pula, siapa tahu setelah periode magang selesai, Anda ternyata langsung diangkat sebagai pegawai tetap?

3. Tak Ada Nilai Tambah

Persaingan kerja di Indonesia sangat ketat. Belum lagi kalau Anda melamar ke profesi yang cukup populer di mana Anda harus bersaing bukan saja dengan sesama fresh graduate, tapi juga dengan kandidat lain yang lebih berpengalaman ataupun berpendidikan lebih tinggi dari Anda.

Jika Anda tak punya nilai tambah yang bisa membuat Anda menonjol dibandingkan kandidat lain, CV Anda tak akan dilirik oleh perusahaan yang setiap hari mungkin menerima ratusan lamaran.

Solusi: Untuk menyiasatinya, coba pikirkan apakah Anda pernah bergabung dengan organisasi tertentu misalnya kegiatan ekstrakurikuler, atau jika Anda pernah mendapatkan award di suatu pertandingan (Juara Harapan juga lumayan, kok). Atau, sembari menunggu panggilan kerja, manfaatkan waktu Anda untuk mengambil kursus yang dapat menambah skill Anda seperti les bahasa Mandarin, belajar coding, public speaking, dan sebagainya.


4. Terlalu Selektif

Terlalu “nyampah” dan mengirim lamaran ke ratusan lowongan memang tidak efektif, tapi terlalu picky pun tidak bagus. Bagaimana Anda bisa menemukan karir yang ternyata cocok untuk Anda, kalau Anda bahkan tak pernah mencoba? 

Solusi: Jika Anda memang sudah punya satu perusahaan incaran, coba perluas pencarian kerja ke perusahaan lain di bidang yang sama. Atau buatlah daftar industri dan bidang pekerjaan yang menarik minat Anda, dan yang sekiranya Anda masih mau untuk mencoba, kemudian lamarlah ke perusahaan yang sesuai. Toh kalau ternyata Anda tak suka setelah menjalaninya, setidaknya Anda tahu karena sudah mencoba. Dan Anda juga jadi punya pengalaman yang bisa ditambahkan ke dalam CV.


Selanjutnya

Berlangganan Artikel Kami

Dapatkan tips karir terbaru dengan berlangganan artikel kami



Read This Next